Oleh: fitri05 | Januari 24, 2011

morfologi dan klasifikasi tanah

V. PEMBAHASAN

A.      PROFIL I

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil I ini dilakukan di daerah Mojosongo, Boyolali, Jawa tengah.  Berdasarkan sistem klasifikasi  PPT, tanah di daerah ini merupakan               tanah yang termasuk ke dalam golongan tanah yang belum berkembang dan belum terjadi proses pedogenesis sehingga belum ada perbedaan antar lapisannya atau belum menampakkan adanya diferensiasi horison, sehingga didalam lapisannya belum terdapat horison penciri. Tanah  ini  termasuk   kumpulan  tanah  yang  memiliki  horison  C-anorganik, batuan induk yang terkandung dalam tanah tersebut belum mengalami pelapukan. Menurut jenisnya, tanah ini merupakan jenis tanah regosol, yaitu tanah yang sifat-sifatnya didominasi bahan induk (regolite), merupakan tanah muda dan belum adanya perkembangan profil tanah, belum terjadi pencucian (eluviasi) dan proses pengendapan atau pelonggokan (illuviasi) bahan-bahan pembentuk tanah. Disamping ini tanah ini juga termasuk dalam macam tanah regosol distrik, atau tanah regosol yang tidak memenuhi persyaratan bagi macam tanah regosol yang lain.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk dalam unit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik dan telah diirigasi dalam jangka waktu yang lama, dengan sub unit arenic anthrosols yang mempunyai tekstur geluh berpasir atau kwarsa.

Sedangkan berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah pada profil I ini merupakan tanah berordo entisols yang merupakan tanah dominasi pasir yang tidak mempunyai profil kecuali horison A marginal dangkal, yaitu horison A okrik tetapi tidak punya horison penciri lainnya. Pada sub ordo termasuk dalam psamments karena tanah entisol ini mempunyai fragmen batuan dan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar sebesar kurang dari 35% (berdasarkan volume), pada seluruh lapisan didalam penampang kontrol kelas besar butirnya. Karena tidak memenuhi persyaratan dalam great group psamments, maka tanah ini termasuk great group udipsamments, begitu pula dalam sub group, karena tidak memenuhi persyaratan dalam sub group udipsamments maka tanah ini termasuk dalam sub group typic udipsamments atau udipsamments yang lain. Pada tingkat famili tanah ini termasuk typic udipsamments yang merupakan udipsamments yang lain, dengan tekstur tanahnya yaitu sandy loam atau geluh berpasir karena lebih dari 60% tanahnya berasal dari abu vulkanik gunung merapi, mineral lempungnya tidak aktif sehingga aktivitas pertukaran kation juga tidak aktif, tanah ini mempunyai pH 5 atau lebih yang berarti tidak masam dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. Seri tanah ini adalah Mojosongo, yang menunjukkan bahwa tanah Entisols petama kali ditemukan di daerah Mojosongo, sedangkan tingkat fasenya adalah pada tanah ini kondisi batuannya yaitu tidak berbatu (0,01%), tanah ini juga mempunyai jeluk mempan dengan tipe dalam sekitar 90 cm atau lebih dan memiliki 2% yang berarti termasuk datar.

2.       Genesis Tanah

Tanah pada daerah ini sangat dipengaruhi oleh bahan abu vulkanik gunung api Merapi dan Merbabu. Karena beriklim tropik yang basah, maka proses pelapukan abu vulkanik menjadi alofan dan pembentukan alofan humus atau komplek alumunium humus (khelat) berlangsung cepat. Kondisi tanah yang dalam kategori landai menyebabkan proses pengrusakan tanah oleh erosi sedikit terjadi, sehingga proses andosolisasi tersebut semakin cepat terjadi.

Proses pembentukan entisol dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain iklim yang sangat kering sehingga pelapukan dan reaksi kimia dalam tanah berjalan sangat lambat. Entisols merupakan jenis tanah yang muda, dimana secara alami pembentukan tanahnya belum berlangsung. Tidak berlangsungnya proses pembentukan tanah tersebut dikarenakan faktor dari lingkungan yang tidak memungkinkan, misalnya iklim dengan suhu rendah dan curah hujan yang tinggi sehingga mineralisasinya berjalan lambat. Beberapa proses pembentukan tanah mungkin belum dapat menghasilkan horison penciri tertentu yang dapat digolongkan dalam ordo tanah selain Entisols. Proses tersebut baru dapat menghasilkan epipedon okhrik, sebagai akibat pembentukan struktur dan pencampuran bahan organik dengan bahan mineral yang ada di lapisan atasnya.

3.       Potensi

Pada tanah Regosol ini memiliki tekstur geluh berpasir serta struktur halus sehingga akan mempengaruhi keadaan aerasi dan drainase tanah. Keadaan aerasi dan drainase pada profil ini cepat. Regosol umumnya cukup mengandung  P dan K yang masih segar yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan yang rendah atau masih terbentuk sebagai mineral primer sehingga belum siap untuk diserap oleh tanaman kandungan bahan organik yang rendah hanya memungkinkan tanah ini berpotensi untuk ditanami rumput gajah yang merupakan tanaman pakan ternak, tanaman jenis hortikultura dan bisa juga tanaman jenis kelapa.

4.       Permasalahan

Tanah entisol adalah tanah yang sedikit atau tanpa perkembangan profil (tanpa proses pedogenik) akibat waktu pembentukan pendek, tanah ini didominasi oleh pasir sehingga kemantapan agregatnya rendah (lepas-lepas). Karena unsur lempung pada tanah yang rendah maka tanah ini rawan erosi sehingga menyulitkan usaha konservasi tanah. Erosi bisa berakibat berkurangnya unsur hara pada tanah. Pada tanah Entisols kadar hara tergantung pada bahan induk. Proses pelapukan bahan induk pada tanah ini memerlukan waktu yang lama sehingga jumlah unsur hara di dalam tanah menjadi rendah. Tanah menjadi peka terhadap erosi karena permeabilitasnya cepat dan run off yang terjadi juga berlangsung dengan cepat. Unsur P dan K yang ada di dalam tanah yang masih dalam keadaan segar belum dapat diserap oleh  tanaman akan menyebabkan tanaman tidak dapat berproduksi secara maksimal dan tanah entisol juga mengalami kekukarangan unsur hara N. Kandungan unsur hara N banyak hilang dikarenakan kandungan pasir yang dominan menyebabkan terjadi pelindihan. Tanah Entisols yang mempunyai tekstur pasiran aerasinya bagus sehingga akan menyebabkan oksidasi bahan organik meningkat.

5.       Pengelolaan

Karena tanah yang masih muda, pengelolaan tanahnya bisa dilakukan dengan penambahan sisa organik, bisa dengan pupuk kandang atau pupuk hijau. Penambahan sisa organik ini mampu meningkatkan kemantapan agregat tanah sehingga berakibat pula pada peningkatan kelengasan tanah (ketersediaan air bagi tanah). Penambahan sisa organik juga berakibat positif pada pengikatan unsur hara, juga dapat menghambat atau mencegah pelindihan unsur hara, dengan demikian unsur hara pada tanah akan lebih tersedia bagi tanaman. Hal tersebut juga dapat meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga tanah lebih bersifat subur.

B.      PROFIL II

1.       Klasifikasi tanah

Pada pengamatan profil II dilakukan di daerah Tengaran, Salatiga, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah tersebut merupakan tanah yang temasuk kedalam tanah yang sudah mengalami perkembangan di mana telah terjadi proses-proses pedogenesis sehingga didalamnya sudah terdapat horison-horison yang berbeda diantara horison A, B dan C. Menurut jenisnya, tanah pada profil ini termasuk jenis andosol yaitu tanah yang berwarna hitam kelam sangat sarang (very porous) mengandung bahan organic dan mineral lempung tipe amorf terutama alofan. Pada kumpulannya, tanah ini terdiri dari horison Amolik dan Bcambik dan menurut macamnya termasuk Andosols melanik yang merupakan andosols lain yang mempunyai horison Amolik dengan kejenuhan basa kurang dari 50 % (rendah).

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah pada profil ini termasuk kedalam unit Anthrosols yang merupakan tanah yang sudah dipengaruhi aktivitas manusia, dan tanah yang asli telah termodifikasi, terpindahkan, terganggu dengan adanya penambahan bahan organik (BO). Menurut sub unitnya, tanah ini termasuk kedalam Regic Anthrosols yang artinya Anthrosols dengan pelapukan yang diakibatkan oleh horison yang tertimbun.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah pada profil ini termasuk kedalam ordo Andisols tanah-tanah yang mempunyai sifat-sifat tanah Andik pada 60% atau lebih dari ketebalannya. Sifat-sifat dari tanah Andik diantaranya:

a.       Di dalam 60 cm dari permukaan tanah mineral atau dari batas atas suatu lapisan organic dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih dangkal, apabila tidak terdapat kontak densik, litik, atau paralitik, duripan, atau horizon petrokalsik pada kedalaman: atau

b.       Di antara permukaan tanah mineral tanah atau batas atas suatu lapisan organic dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih dangkal, dan kontak densik, litik, atau paralitik, duripan, atau horizon petrokalsik.

Disamping itu, tanah ini mempunyai tingkat sub ordo yang merupakan tanah andisols yang mempunyai rejim kelembaban udik yang terdapat didaerah humid. Pada tingkat great group tanah Andisols ini ialah hapludands yang merupakan udik lain yang mempunyai epipedon melanik. Sub groupnya merupakan typic hapludans karena adanya persamaan sifat atau serupa dengan great groupnya. Pada tingkat familinya, tanah ini mempunyai tipe mineral lempung amorphic yang keaktifannya tidak aktif, berdasarkan kelas reaksi tanah termasuk famili masam, karena nilai pHnya 5 atau kurang pada analisis H2O 1:1, sedangkan berdasar kelas suhu tanahnya termasuk famili  isohiperthermik yaitu rata-rata suhu tanah tahunan sebesar 220 C atau lebih tinggi. Pada tingkatan serinya yaitu Noborejo karena ditemukan di desa Noborejo. Pada tingkatan fase, tanah ini tidak berbatu (sekitar 0,01%), mempunyai jeluk mempan yang sedang, dengan kemiringan datar sekitar 3%.

2.       Genesis Tanah

Tanah pada daerah ini sangat dipengaruhi oleh bahan abu vulkanik gunung api Merapi dan Merbabu. Andisols berkembang dari bahan vulkanik misalnya abu vulkan, batu apung, sinder, atau bahan vulkanistik yang fraksi koloidnya didominasi oleh mineral seperti alofan, imogolit, ferihidrit atau kompleks Al humus. Dalam keadaan lingkungan tertentu pelapukan alumino silikat primer dalam bahan induk non vulkanik dapat juga menghasilkan mineral alofan, imogolit, dan ferihidrit. Dan tanah ini hanya ditemui pada dataran tinggi.

Proses pembentukan tanah yang utama pada andisols adalah proses pelapukan dan transformasi (perubahan bentuk). Proses pemindahan bahan (translokasi) dan penimbunan bahan-bahan tersebut didalam solum sangat sedikit. Akumulasi BO dan terjadinya kompleks bahan organic dengan Al merupakan sifat khas pada beberapa andisols.

3.       Potensi

Tanah Andisols merupakan tanah yang cukup subur. Di Indonesia, tanah utama yang banyak dimanfaatkan untuk perkebunan teh dan kopi, untuk tanaman holtikultura. Tanah andisols ini juga berpotensi untuk tanaman semusim maupun tahunan selain itu dapat untuk tanaman palawija dan padi ataupun untuk hutan lindung. Hal ini dikarenakan Andisols merupakan tanah yang mengandung bahan organik cukup tinggi sehingga tanah tersebut cukup baik dalam penyediaan nitrogen bagi tanaman. Andisols pada hakikatnya merupakan tanah subur khususnya yang mempunyai kejenuhan basa agak rendah sampai tinggi, Tanah andisols mempunyai aerasi dan porositas tinggi sehingga tanaman mudah berpenetrasi ke dalam tanah dan unsur-unsur hara berupa kation-kation basa dan nitrogen cukup tersedia bagi tanaman. Andisols pada umumnya tersusun dari bahan-bahan atau partikel lepas sehingga mempunyai permeabilitas dan aerasi cukup tinggi, ketahanan penetrasinya cukup rendah maka seharusnya pengolahan tanah untuk budidaya pertanian tidak diperlukan lagi.

4.       Permasalahan

Permasalahan  yang paling menonjol pada tanah andisols adalah sifat kemampuan menyerap dan menyimpan air yang tak pulih kembali seperti semula bila mengalamin kekeringan. Hal ini disebabkan koloid amorf seperti abu vulkan dan bahan organic yang mempunyai daya jerap air tinggi jika mengalami kekeringan sampai 15 atmosfir / lebih film air yang terikat pada permukaan partikel akan menguap dan akan terjadi kontak ikatan kimia antar partikel, sehingga tanah mengkerut dan bersifat irreversible, akibatnya jika sudah mengalami kekeringan sulit untuk dibasahi kembali. Sehingga apabila mengalami kekeringan rawan terhadap erosi air hujan.

5.       Pengelolaan

Pengelolaan tanah andisols dilakukan dengan pengapuran dengan dosis yang cukup. Pada tanah andisols yang berada di daerah lereng banyak dimanfaatkan untuk menanam tanaman tahunan yang memiliki perakaran kuat untuk mengikat air. Unsur P di dalam tanah andisols sebenarnya tersedia dalam jumlah yang banyak, tetapi unsur P tersebut terfiksasi oleh alofan sehingga unsur P tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Untuk mengatasi masalah fiksasi P oleh alofan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik segar yang berfungsi untuk menyediakan unsur hara yang terdefisiensi tersebut bagi mikroorganisme, sehingga bahan-bahan organik akan terdekomposisi menjadi asam-asam organik seperti asam humat yang akan berikatan dengan Al bebas pada alofan menggantikan ion P yang terikat sehingga ion P akan terlepas dan tersedia untuk diserap oleh akar tanaman bebas pada alofan menggantikan ion P yang terikat sehingga ion P akan terlepas dan tersedia untuk diserap oleh akar tanaman. Tanah Andisols tersusun dari partikel lepas sehingga tidak perlu diolah secara berlebihan. Alternatif lain adalah penambahan mikrobia tanah yaitu mikoriza sehingga ketersediaan P meningkat.Tanah Andisols tersusun dari partikel lepas sehingga tidak perlu diolah secara berlebihan. Alternatif lain adalah penambahan mikrobia tanah yaitu mikoriza sehingga ketersediaan P meningkat.

C.      PROFIL III

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil III dilakukan di daerah Asinan, Rawa Pening, Salatiga, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini merupakan golongan tanah yang sudah berkembang dan juga mempunyai perkembangan horison. Pada tanah ini, terdiri dari horison Ap, B1, dan ada lapisan fibrik. jenis tanah ini yaitu Mediteran yang merupakan salah satu jenis tanah merah dengan tekstur berat (lempung) dan bahan organik (BO) rendah. Untuk macamnya, merupakan Eutric Mediteran  karena tidak memenuhi persyaratan dalam macam mediteran.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk dalam unit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik. Sub unit dari tanah ini termasuk kedalam Ferralic Anthrosols yang merupakan karbonat sekunder yang menyerupai kapur yang tertutup bedak lembut dan menunjukkan kondisi yang spesifik pada horisonnya.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo Alfisol. Tanah alfisols di daerah ini merupakan tanah yang tidak mempunyai epipedon plagen dan yang memiliki salah satu berikut:

-                Horison argilik, kandik, atau natrik

-                Fragipan yang mempunyailapisan tipis setebal 1mm atau lebih di beberapa bagiannya.

Pada tingkatan sub ordo, tanah ini termasuk kedalam Aqualfs yaitu tanah alfisols yang mempunyai kondisi akuik (berbeda dengan kondisi antrakuik) selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal (atau telah didraenase), pada satu horison atau lebih diantara kedalaman 50 cm dan permukaan tanah mineral, serta pada horison-horison yang mempunyai kondisi aquik, mengandung cukup besi fero aktif untuk dapat memberikan reaksi positif terhadap alpha, alphadipyridil ketika tanah tidak sedang diirigasi. Karena tidak memenuhi persyaratan dalam aqualfs maka tingkatan great group nya endoaqualfs, begitu pula dengan sub groupnya yang masuk kedalam typic endoaqualfs. Pada tingkatan famili, tanah ini mempunyai tipe mineral lempung kaolinit (Clayey kaolinitic), dengan mineral lempungnya yang aktif, mempunyai kandungan liat 60% atau lebih sehingga sangat halus, berpH 5 sehingga termasuk masam dan terdapat pada tanah besuhu rata-rata tahunan 220 C atau lebih tinggi sehingga berfamili isohyperthermik. Pada tingkatan seri, termasuk Asinan karena tanah ini ditemukan di desa Asinan. Pada tingkatan fasenya, tanah ini mempunyai keadaan bebatuan yang tidak berbatu (0,01%), dengan jeluk yang dalam dan kemiringan 2% yang termasuk datar.

2.       Genesis Tanah

Jenis tanah pada profil III ini adalah tanah alfisols yang merupakan order yang dicirikan oleh adanya horison argilik dan mempunyai kejenuhan basa yang tinggi. Adapun proses pembentukan tanah alfisols antara lain meliputi : pencucian karbonat dan braunifikasi yang merupakan prasyarat untuk pembentukan alfisols, dengan adanya proses pencucian diharapkan plasma menjadi lebih mudah bergerak bersama dengan air perkolasi. Pencucian Fe dapat menyebabkan warna tanah menjadi coklat atau kuning karat. Pembentukan epipedon okhrik dan horison albik dan pengendapan argilan (liat bersama sesquioksida dan bahan organic dihorison Bt terendap), karena :

a.       Air perkolasi tidak cukup banyak sehingga tidak dapat meresap lebih jauh kedalam tanah.

b.       Butir tanah mengembang, pori tanah tertutup sehingga air perkolasi terhambat.

c.        Penyaringan oleh pori halus terhambat.

3.       Genesis Tanah

Alfisols secara potensial termasuk tanah yang subur, di Indonesia diusahakan menjadi persawahan (padi) baik tadah hujan, perkebunan, tegalan dan padang rumput. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, KPK tinggi, cadangan unsur hara tinggi. Sesuai dengan keadaan sebenarnya dilapang, tanah ini sesuai untuk digunakan sebagai areal persawahan, hal ini sesuai dengan ketersediaan air yang mendukung untuk persawahan, karena sesuai dengan kondisi dilapang, tanah ini merupakan tanah tergenang.

4.       Permasalahan

Tanah alfisol mempunyai kejenuhan basa ³ 35%. Pada tanah horison orgilik, berarti bahwa basa-basa dilepaskan ke dalam tanah oleh pengikisan hampir secepat basa-basa yang dicuci.Kondisi reoks tanah mempengaruhi stabitas senyawa-senyawa besi dan mangan. Artifitas mikrobia, akumulasi dan dekomposisi Bo sampai tingkat tertentu. Hanya sedikit kekurangan / permasalahan dari tanah alfisol

5.       Pengelolaan

Pengelolaan tanah alfisols sebaiknya dilakukan dengan alternatif dan cara seperti pembuatan terasering pada lahan yang berlereng, dengan sistem budidaya lereng, dan pemupukan yang cukup. Disamping itu, karena tanah alfisols pada profil III ini merupakan tanah yang tergenang, maka perlu diperhatikan pula sistem draenase dan irigasinya, sehingga mampu mendukung peningkatan produksi hasil tanaman yang diusahakan diatasnya.

D.      PROFIL IV

1.       KlasifikasiTanah

Pada pengamatan profil IV dilakukan di daerah Gading, Tuntang, Salatiga, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPt, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah yang berkembang lanjut yang sudah mengalami pelapukan intensif didalamnya telah terdapat diferensiasi horison membentuk kumpulan horison A, B dan C. tanah ini terdiri dari 6 horison diantaranya horison Oi, A(umbrik), Boksik/A, dan Boksik. Jenis dari tanah ini termasuk kedalam latosol yang Horison B oksik nya tidak aktif, karena tidak memenuhi syarat latosol, maka macam nya masuk kedalam eutric latosol.

Berdasarkan sistem FAO-UNESCO, tanah ini termasuk dalam unit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik. Dan sub unitnya termasuk kedalam eutric anthrosols karena tidak memenuhi syarat dari anthrosols.

Berdasarkan sistem kalisifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam tingkatan ordo oxisols yaitu tanah yang memilki horison oksik pada kedalaman kurang dari 150cm, mempunyai kandungan liat 40% atau lebih pada kedalaman 18cm. Karena pada sub ordo tidak memenuhi syarat oxisol maka termasuk kedalam udoxs dengan mempunyai rejim kelembaban udic. Pada great group nya, tanah ini termasuk kedalam acrudox yaitu udox lain yang pada sub horison atau lebih dari horison oksik atau kandik di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral, dan mempunyai KTK- efektif sebesar kurang dari 1,50 cmol(+)/ kg liat serta nilai pH (dalam KCl 1N) 5 atau lebih.untuk sub group nya, tanah ini termasuk Rhodic Acrudox yang pada seluruh horison dantar kedalaman 25 cm dan 100cm lebih dari 50% dan harga warnanya yaitu Hue 2,5 YR atau lebih merah dengan value warna, lembab, 3 atau kurang. Pada tingkatan famili, tanah ini mempunyai tipe mineral lempung kaolinit (Clayey kaolnitic) dengan keaktifan lempungnya termasuk tidak aktif, mempunyai pH tidak masam ( sekitar 5 atau lebih), dan dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. Untuk tingkatan seri yaitu Tuntang karena tanah ini ditemukan di dsa Tuntang. Pada tingkata fasenya, tanah ini mempunyai batuan permukaan yang tidak berbatu (0,01%) dengan memiliki solum tanah > 90m yang mempunyai kemiringan 2% yang termasuk datar.

2.       Genesis Tanah

Tanah oxsisol atau tanah latosol merah atau dapat juga dikenal dengan tanah Ferrasols. Tanah ini termask tanah tua yang telah mengalamu proses pelapukan lebih lanjut yaitu dicirikan dengan adanya horison oksik yang tebal. Pelapukan intensif dalam waktu yang sangat panjang mengakibatkan pelindian basa dan silica, pelonggokan nisbi sesquioksida (oksida besi dan aluminium) dan pembentukan lempung kaolinit (lempung berkisi 1:1)

Proses pembentukan tanah yang utama pada oxisols adalah proses desilikasi dan konsentrasi besi bebas dan kadang-kadang gibsit yang kemudian mempengaruhi jenis mineral dominan pada tanah mineral mudah lapuk termasuk adalah terjadinya dekomposisi hampir seluruh mineral mudah lapuk termasuk mineral liat 2:1, kecuali mineral liat peralihan 2:1 – 2:2.

3.       Potensi

Jika dilihat dari kesuburan alami, tanah Oxisol yang telah mengalami pelapukan lanjut di daerah kering, biasanya tidak digunakan dalam pengelolaan tanah untuk pertanian jika tanah-tanah dari ordo lain masih tersedia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Meskipun secara kesuburan alaminya rendah, Oxisol merupakan cadangan tanah yang banyak jumlahnya dan masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Pemanfaatan Oxisol diantaranya untuk perladangan pertanian sub sistem, penggembalaan dengan intensitas rendah dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang, kopi serta beberapa Oxisol pada daerah basah.

4.       Permasalahan

Tanah jenis oxisols merupakan salah satu jenis tanah yang penting dalam bidang pertanian, tetapi keadaan kimiawinya sangat miskin, bukan saja karena kapasitas pertukaran kation yang rendah melainkan juga karena kahat basa Ca, Mg, K, kuat menyemat P dan persentase Al tertukarkan tinggi. Oleh karena itu, tanah ini memerlukan pemupukan dan sering pula membutuhkan gamping dan beberapa unsir lain seperti Zn dan S.

5.       Pengelolaan

Dalam pengelolaan tanah Oxisol adalah halus memperhatikan sejauh mana faktor-faktor tersebut mempengaruhi tanah tersebut. Untuk tanah Oxisol di lokasi proses pedogenesisnya adanya proses desilikasi sebagai akibat kondisi iklim Tuntang ini, seperti yang telah dipaparkan di atas terlihat bahwa dengan kemiringan 2 % dan tingkatan erosi ringan, namun proses desilikasi yang berpengaruh besar yng berakibat pencucian mineral-mineral khususnya silika dan pembentukan plinthite sehingga unsur hara alami yang ada secara berangsur-angsur ikut tercuci. Untuk itu dalam pengelolaannya untuk perkebunan atau tegalan yaitu :

1.       Agar erosi tetap dalam kategori ringan adalah permukaan tanah tertutup oleh penutup tanah, seperti apa yang ada di lokasi Tuntang vegetasi yang sudah ada seperti jati, mahoni, kelapa, dan durian sudah cukup baik untuk menjaga kondisi permukaan tanah.

2.       Sedangkan untuk perkebunan dan tegalan, dikarenakan kandungan unsur hara alami pada umumnya tanah Oxisol adalah rendah maka perlu diperhatikan pemasukan unsur hara dari luar. Hal itu sangat penting untuk peningkatan unsur hara yang ada di dalam tanah.

Secara umum pengelolaan tanah di Tuntang sudah cukup baik hanya perlu peningkatan vegetasi yang ada semisal jika untuk perkebunan yang intensif adalah dengan tanaman tebu, nenas, pisang dan kopi. Dan juga penanaman tanaman keras seperti jati dan mahoni bisa dikatakan tepat sebab tanaman seperti itu mempunyai sistem perakaran yang baik dalam serta mempunyai siklus BO yang baik.

E.      PROFIL V

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatn profil V dilakukan di daerah Lorog, Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasisifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanahyang berkembang dan sudah mengalami perkembangan horison. Tanah ini terdiri dari horison Bt(argilik) dan C. Pada horison B paling sedikit mengandung lempung lebih dari 1,2 kali lebih banyak dari horison diatasnya dan horison C merupakan bahan induk tanah yang tidak ada tanda-tanda pedogenesis. Menurut jenisnya, tanah ini termasuk mediteran yang sangat dilapuk, tekstur berat dan kadang-kadang lekat, serta mempunyai bahan organic yang rendah. Untuk macamnya termasuk ke mediteran haptic karena tidak memenuhi syarat pada mediteran.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini merupakan unit anthrosols yang merupakan tanah yang sudah dipengaruhi aktivitas manusia, dan tanah yang asli telah termodifikasi, terpindahkan, terganggu dengan adanya penambahan bahan organik (BO). Dan sub unitnya termasuk kedalam eutric anthrosols karena tidak memenuhi syarat pada anthrosols.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo alfisol yang tidak mempunyai epipedon plaggen dan memiliki salah satu dari horison argilik, natrik, kandik atau glosik. Pada tingkatan sub ordo, tanah ini termasuk kedalam Udalf karena tidak memenuhi syarat untuk alfisols dan mempunyai rezim suhu udik dan untuk tingkatan dari great groupnya termasuk kedalam hapludalfs dan subgroupnya merupakan inceptic hapluidalfs yang mempunyai horison argilik, kandik, atau natrik setebal 35cm dan tidak mempunyai kontak densik, titik atau para tiik dalam 1cm dari permukaan tanah mineral. Pada tingkatan familinya, tanah ini mempunyai mineral lempung kaolinit (Clayey kaolinitic) dengan keaktifan mineralnya termasuk tidak aktif , mempunyai pH 6 yang ternasuk tidak masam, dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. untuk tingkatan seri termasuk lorog karena ditemukan didaerah atau desa Lorog. Pada tingkatan fasenya, tanahini mempunyai tingkat bebatuan  (15-75%) dengan jeluk mempannya dangkal dengan kemiringan 15% yang menunjukkan daerahnya termasuk miring.

2.       Genesis Tanah

Pada mulanya adalah tanah Alfisol dengan ketebalan yang dalam, namun akibat adanya proses erosi yang kuat dan cepat serta dalam waktu yang lama sehingga terjadi penyingkapan tanah permukaan, lalu terbentuk tanah dangkal di atas batuan keras (lithik).

3.        Potensi

Pada dasarnya tanah ini dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian, yaitu melalui teras siring atau dengan budidaya tanaman tahunan yang lebih kuat dalam mengikat tanah. Tanaman pertanian dapat disisipkan dalam sela-sela tanaman tahunan. Potensi lain adalah dengan memanfaatkan lahan ini untuk usaha penghijauan.

4.       Permasalahan

Karena tanah alfisols termasuk tanah yang masih muda dan perkembangan tanah belum lama, sehingga kandungan bahan organik dan unsur hara dalam tanah kurang tersedia, maka solumnya dangkal (10-15 cm) dari permukaan dan di bawahnya merupakan lapisan batuan. Rendahnya kedalaman solum menyebabkan perkembangan akar terhambat sehingga tanaman kurang baik pertumbuhannya.

Topografi daerah yang miring menyebabkan rawan terhadap erosi dan tanah aluvial ini kemampuan untuk mengikat air cukup rendah, sehingga saat kemarau terlihat kering atau tandus..

5.       Pengelolaan

Dalam mengatasi erosi dilakukan dengan penanaman tanaman tahunan atau tanaman hutan (agroforestri). Juga dapat dilakukan dengan pembuatan teras siring atau usaha konservasi lain sehingga bahaya erosi dapat ditekan. Dengan penambahan sisa organik dapat meningkatkan kelengasan tanah karena sisa organik yang terdekomposisi menjadi bahan organik mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi dan dapat menahan laju erosi tanah karena air terserap oleh bahan organik. Penambahan sisa organik juga dapat mempercepat pelapukan bahan mineral dalam komplek atau komplek pertukaran karena penambahan bahan organik sepereti pemberian pupuk kandang atau pupuk hijau dapat menambah keanekaragaman mikroorganisme Sistem PPT mengklasifikasikan tanah ini dalam golongan tanah tanpa perkembangan profil, dan masuk dalam kumpulan tanah horison C-organik. Karena mempunyai litik atau faktor pembatas batuan, maka masuk dalam jenis tanah Lithosol. Lithosol ini merupakan Lithosol yang lain sehingga masuk dalam macam tanah Lithosol eutrik.

F.       PROFIL VI

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil VI dilakukan di daerah Kedungareng, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah berkembang yang sudah mengalami perkembangan horison. Tanah ini tediri dari horison A/Bt, Bt, Bt/C. menurut jenisnya, termasuk kedalam mediteran yang merupakan tanah sangat dilapuk, tekstur berat, dan kadang-kadang lekat dengan bahan organic rendah. Menurut macamnya, tanah ini termasuk mediteran litik yang mempunyai kontak (sentuh) litik atau paralitik pada kedalaman 20-50cm.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk ke unit luxisol yaitu tanah yang memiliki kandungan lempung tinggi pada lapisan subsoil daripada topsil sebagai hasil dari proses pedogenesis (khususnya perpindahan) lempung yang membentuk horison argilik dan mempunyai keaktifan lempung yang tinggi dengan kejenuhan basa yang juga tinggi pada kedalaman tertentu. Utuk subunitnya, tanah ini termasuk ke orthic luxisols karena tiak memenuhi syarat pada luxisols.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo alfisols yaitu tanah yang tidak mempunyai epipedon plaggen dan yang memiliki salah satu dari horison argilik, natrik, kandik, atau glossik. Pada tingkatan subordo, tanah ini termasuk kedalam udalfs karena tidak memenuhi syarat pada alfisols dengan rezim kelembaban udik. Tanah ini termasuk kedalam great group hapludalfs karena tidak memenuhi persyaratan udalfs, begitu pula pada tingkatan sub group yang termasuk kedalam hapludalfs lain yaitu typic hapludalfs. Untuk tingkatan familinya, tanah ini memiliki jenis mneral lempung kaolinitic (clayey kaolinitic) dengan keaktifan lempungnya termasuk aktif, tanah ini mempunyai pH 6 yang termasuk tidak masam. dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. pada tingkatan seri yaitu Kedungareng karena tanah ini ditemukan dikedungareng. Untuk tingkatan fasenya, tanah ini mempunyai tingkatan batuan permukaan yang berbatu (15-75%) dengan jeluk mempan nya agak dalam dan kemiringan yang ekstrim curam sekitar 75%.

2.       Genesis Tanah

Pada mulanya adalah tanah Alfisol dengan ketebalan yang dalam, namun akibat adanya proses erosi yang kuat dan cepat serta dalam waktu yang lama sehingga terjadi penyingkapan tanah permukaan, lalu terbentuk tanah dangkal di atas batuan keras (lithik).

3.       Potensi

Pada dasarnya tanah ini dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Tapi karena mempunyai kemiringan yang ekstrim curam maka daerah ini hanya perlu di tanami tanaman keras (tanaman keras) seperti pohon jati, pinus atau cemara untuk mengantisipasi adanya erosi yang cukup berat.

4.       Permasalahan

Tanah alfisols termasuk tanah yang masih muda dan perkembangan tanah belum lama, sehingga kandungan bahan organik dan unsur hara dalam tanah kurang tersedia, maka solumnya dangkal (10-15 cm) dari permukaan dan di bawahnya merupakan lapisan batuan. Rendahnya kedalaman solum menyebabkan perkembangan akar terhambat sehingga tanaman kurang baik pertumbuhannya. Topografi daerah ini yang ekstrim curam menyebabkan rawan terhadap erosi karena tanah aluvial ini kemampuan untuk mengikat air cukup rendah.

5.       Pengelolaan

Dalam mengatasi lajunya erosi di daerah ini dilakukan konservasi dengan melakukan sistem pertanian agroforesty dengan menanam tanaman tahunan dengan disisipi oleh tanaman pangan seperti tanaman legume (kacang-kacangan ) sebagai tanaman penutup lahan sehingga erosi dapat ditekan. Dengan penambahan sisa organik dapat meningkatkan kelengasan tanah karena sisa organik yang terdekomposisi menjadi bahan organik mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi dan dapat menahan laju erosi tanah karena air terserap oleh bahan organik.

G.      PROFIL VII

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil VII dilakukan didaerah Gumiwang lor, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah sudah berkembang yang mempunyai perkembangan horison dan adanya perbedaan horison yang sudah terlihat jelas. Tanah ini terdiri dari horison Bt/C dan R. Menurut jenisnya, tanah ini termasuk kedalam rendzina yang memiliki batuan induk kapur dengan kandungan lempung yang tinggi. Menurut macamnya, tanah ini termasuk rendzina tidak memiliki horison molik, atau subhorison argilik, argik, kandik, atau natrik.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk kedalam unit rendzina yang mengandung batuan kapur. Begitu pula dengan sub unitnya, termasuk kedalam rendzina juga.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam golongan mollisols yang mempunyai horison permukaan yang epipedon molik dan satu sub horison argilik. Pada tingkatan subordo, tanah ini termasuk kedalam rendolls yang mempunyai epipedon molik setebal kurang dari 50cm, mempunyai bahan tanah mineral berdiameter kurang dari 7,5cm yang mengandung CaCO3 setara dengan 40% atau lebih, baik dalam maupun langsung bawah epipedon molik, tanah ini mempunyai rejim kelembaban udik atau cryik. Menurut tingkatan great group termasuk haprendolls karena tidak memenuhi syarat pada rendolls. Dan pada tingkatan sub group lithic haprendolls y6ang mempunyai kontak litik didalam 50cm dari permukaan tanah mineral. Menurut tingkatan familinya, tanah ini didominasi oleh montmorilonit yang keaktifan lempungnya bersifat aktif dengan pH netral sebesar 7 dengan suhunya sebesar 150C sampai 220C. pada tingkatan seri yaitu Gumiwang Lor karena ditemukan di desa Gumiwang Lor. Pada tingkatan fasenya, tanah ini mempunyai batuan permukaan yang berbatu (0,01-3%) dengan jeluk mempannya dangkal dan kemiringan 25%.

2.       Genesis Tanah

Tanah jenis mollisols adalah tanah dengan epipedon molik dan mempunyai horison albik, kalsik atau matrik. Di Indonesia, tanah mollisols ditemukan umumnya didaerah bukit kapur dan terbentuk dibawah vegetasi rumput baik rumput rendah, sedang, tinggi.

Proses pembentukan tanah mollisols yang terpenting adalah melanisasi yaitu proses pembentukan tanah berwarna gelap karena penambahan bahan organic. Proses pembentukan tanah mollisols beberapa proses, antara lain :

a.       Prolifirasi akar rumput / penyebaran akar kedalam profil tanah.

b.       Pelapukan BO dalam tanah membentuk senyawa stabil dan berwarna gelap (polisakarida dan liat).

c.        Pencampuran BO dan bahan mineral tanah karena kegiatan organisme.

d.       Eluviasi dan illuviasi koloid organic dan beberapa koloid mineral melalui rongga tanah.

e.        Pembentukan senyawa lingo protein yang resisten.

Tanah mollisols merupakan golongan tanah yang umumnya subur. Dicirikan oleh adanya epipedon molik dengan ketebalan lebih dari 18 cm berwarna hitam / gelap. Bahan organic > 1%. Kejenuhan basa > 50%, agregat tanah cukup baik sehingga tidak keras bila kering. Bahan organic berasal dari vegetasi rumput.

3.       Potensi

Tanah mollisols banyak diusahakan tanaman palawija, sayuran, tanaman semusim dan beberapa tanaman tahunan. Tanah ini dikatakan subur karena mengandung bahan organic, kejenuhan basa yang tinggi, tapi intensitas pengelolaannya masih rendah. Karena tanah ini terbentuk didaerah dengan curah hujan rendah dan iklim kering sehingga untuk tanaman semusim dilaksanakan pada musim hujan saja. Pada daerah dengan pengairan baik tanah ini dapat diusahakan sepanjang tahun.

4.       Permasalahan

Di Indonesia, mollisols umumnya ditemukan didaerah bukit kapur (sub ordo Rendoll), sehingga karena tanah bersolum dangkal penggunaannya cukup terbatas. Tanah ini terbentuk didaerah semi arid dan sub humid dan sangat kaya dengan bahan organic. Karena sifat tanah organic, jika terlalu kering tidak dapat lagi menyerap air sehingga jika ada hujan bahan organic ini akan terbawa oleh air aliran permukaan sehingga terjadilah erosi permukaan. Tanah ini mudah mengalami kekeringan karena perkolasi yang cepat, tanah ini hampir tidak berguna bagi pertanian, karena jeluk perakarannya terbatas dan banyak batu-batuan.

5.       Pengelolaan

Banyak tanah mollisols yang bersolum dangkal, maka diperlukan tindakan konservasi dengan menanam tanaman yang mempunyai perakaran dangkal tetapi tumbuh permanen seperti padang rumput. Bila ingin dijadikan lahan tanaman pangan, dapat ditanami padi, palawija dan sayur-sayuran, dapat ditanam sepanjang tahun asalkan pengairannya dapat diatasi. Sangat baik ditanami secara mixcropping, karena dengan cara ini kontinyuitas penggunaan lahan yang miring dan mempunyai solum agak dalam dapat pula ditanami tanaman tahunan.

H.      PROFIL VIII

1.       Kasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil VIII dilakukan di daerah Gumiwang Lor, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah belum berkembang karena belum jelas membentuk diferensiasi horizon yang dapat disebabkan oleh batuan induk yang belum mengalami perkembangan, air tidak mencukupi, bahan organik tidak mencukupi. Tanah ini tesusun atas unsure C-organik. Termasuk dalam jenis tanah alluvial. Suatu hal yang mencirikan pada pembentukan alluvial adalah bahwa bagian terbesar bahan kasar akan diendapkan tidak jauh dari sumbernya. Tekstur bahan yang diendapkan pada waktu tempat yang sama akan lebih seragam, makin jauh dari sumbernya makin halus butir yang diangkut. Termasuk dalam macam tanah alluvial eutric karena tidak memenuhi syarat pada alluvial.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk kedalam unit fluvisol yang berkembang dari bahan alluvial baru. Menurut sub unitnya, tanah ini termasuk kedalam eutric fluvisols karena tidak memenuhi syarat dalam fluvisols.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo entisol yang belum ada perkembangan horison dengan tidak ditemukan horison pencirinya yang didominasi pasir. Tanah entisols merupakan tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangannya. Pada tingkatan sub ordonya, tanh ini termasuk fluvents yaitu yang di pengaruhi oleh aliran air dan entisol lain yang tidak mempunyai kontak densik, litik, atau paralitik didalam 25 cm dari permukaan tanah mineral dan mempunyai :

  • Lereng kuarang dari 25%, dan
  • Karbon organic berumur holosen sebesar 0,2 persen atau lebih pada kedalaman 125 dibawah permukaan tanah mineral, atau penurunan kandungan karbon organic secara tidak teratur mulai dari kedalaman 25 cm sampai kedalaman 125 cm atau mencapai kontak densik, litik atau paralitik, apabila lebih dangkal, dan
  • Rezim suhu tanah ;

a.     lebih panas dari cryik, atau

b.     cryik dan tanahnya mempunyai :

1)       tanpa bahan gelik, dan

2)       lereng kurang dari 5% atau memiliki gelas vulkan berukuran 0,02 – 2,0 mm sebesar kurang dari 15% pada sebagian penampang kontrol kelas besar butir.

Untuk great groupnya, termasuk kedalam udifluents karena tidak memenuhi persyaratan dari fluvents. Pada tingkatan sub groupnya, termasukl kedalam typic udifluvents karena tidak memenuhi syarat. Seangkan pada tingkatan familinya, tanah entisol ini mempunyai tekstur berdebu kasar (sandy loam) yang mempunyai keaktifan lempungnya tidak aktif. Tanah ini mempunyai ph 6 yang berarti tidak masam, dengan suhu termasuk kedalam isohyperthermik yang rata-rata suhunya antara 15-220C. pada tingkatan serinya yaitu Gumiwang Lor karena ditemukan didaerah tersebut. Menurut tingkatan fasenya, tidak berbat dengan solum tanahnya dalam dan kemiringan nya agak miring sekitar 8%.

2.       Genesis Tanah

Tanah entisol ini dihasilkan dari banjir dimusim hujan, sehingga sifat bahan-bahannya juga tergantung pada kekuatan banjir dan asal serta macam bahan yang diangkut, sehingga menampakkan ciri morfologi berlapis-lapis atau lembaran-lembaran yang bukan horison karena bukan hasil pengembangan tanah. Tekstur bahan yang diendapkan pada waktu dan tempat yang sama akan lebih seragam, makin jauh dari sumbernya makin halus butiran yang diangkut. Proses ini dipengaruhi oleh faktor-faktor  sebagai berikut :

a.       Iklim yang sangat kering, sehingga pelapukan dan reaksi-reaksi kimia berjalan sangat lambat.

b.       Erosi yang kuat, dapat menyebabkan bahan-bahan yang dierosikan lebih banyak dari yang dibentuk melalui proses pembentukan tanah banyak terdapat dilereng-lereng curam.

c.        Pengendapan terus-menerus, menyebabkan pembentukan horison lebih lambat dari pengendapan. Missal : daerah dataran banjir, disekitar sungai, delta, daerah sekitar gunung berapi.

d.       Imobilisasi plasma tanah menjadi bahan-bahan inert, missal : flokulasi bahan-bahan oleh karbonat, silica, dll.

e.        Bahan induk yang sangat sukar dilapuk (inert), atau tidak permeable  sehingga air sukar meresap dan reaksi-reaksi tidak berjalan.

3.       Potensi

Banyak tanah entisol yang digunakan untuk usaha pertanian, misalkan didasrah endapan sungai atau daerah rawa-rawa pantai. Tanah entisol berasal dari bahan alluvium umumnya merupakan tanah subur. Digunakan pula sebagai areal persawahan. Memelihara tambak perikanan, bandeng, gurame cukup memberikan produksi.

4.       Permasalahan

Pengawasan tata air termasuk perlindungan terhadap banjir, drainase dan irigasi. Tekstur tanahnya sangat variebel, baik vertical maupun horisontal, jika banyak mengandung lempung tanahnya sukar diolah dan menghambat drainase. Perbaikan drainase didaerah rawa-rawa menyebabkan munculnya cat clay yang sangat masam akibat oksidasi sulfida menjadi sulfat. Tanah yang berasal dari Bengawan Solo dan sungai berasal dari pegunungan karst (gunung sewu) umumnya kekurangan unsur phosfor dan Kalium.

5.       Pengelolaan

Entisol didaerah basah yang mendapatkan bahan alluvium dimanfaatkan secara intensif oleh masyarakat sebagai kawasan budidaya  padi sawah. Intensitas pengelolaan termasuk tinggi, karena hampir setiap tahun dimanfaatkan untuk budidaya pertanian dengan pola tanam. Padi-padi atau padi – palawija – bero. Dan dapat pula digunakan untuk tambak.

I.        PROFIL IX

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil IX dilakukan di daerah Sumber Rejo, Eromoko, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasrkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan belum berkembang karena belum mengalami perkembangan horison. Tanah ini hanya ada horison Ap1 dan Ap2, sedangkan horison B tidak terdapat didalamnya, karena kandungan lempung montmorilonit didalamnya mengakibatkan terjadinya proses pedoturbasi atau pengadukan atau pencampuran horison, sehingga yang nampak hanya horison A dan C. menrut tingkatan jenisnya, termasuk kedalam grumosolyang mempunyai tekstur lempung dengan tipe mineralnya montmorilonit dan memiliki bahan induk berupa kapur. Sedangkan menurut macamnya, tanah ini merupakan tanah grumosol pelik yang merupakan tanah grumosol yang mempunyai chroma kurang dari 1,5 (lembab)  secara dominan dalam lapisan atas tanah (30cm).

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk lunit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik dan telah diirigasi dalam jangka waktu yang lama, dengan sub unit eutric anthrosol yang tidakmemenuhi syarat.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo vertisol yang  Satu lapisan setebal 25 cm atau lebih, dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, yang mempunyai bidang kilir atau ped berbentuk baji yang sumbu-sumbu panjangnya mirip 100-600 dari arah horizontal dengan rata-rata tertimbang kandungan liat dalam fraksi tanah halus sebesar 30% atau lebih dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik. Pada tingkatan sub ordo termasuk uderts dengan tingkatan great group dan sub group yaitu hapluderts dan typic hapluerts. Pada tingkatan familinya didominasioleh mineral lempungnya montmorilonit yang memiliki keaktifan lempungnya yang aktif, Ph tanahnya termasuk tidak masam dengan suhunya isohyperthermic yang mempunyai suhu rata-rata 220C atau lebih. Pada tingkatan serinya yaitu Sumer Rejo karena ditemukan di daerah tersebut. Menurut tingkatan fasenya, tidak mempunyai batuan dipermukaan dengan jeluk dalam dengan kemiringan 7%.

2.       Genesis Tanah

Faktor penting dalam pembentukan tanah vertisol adalah adanya musim kering dalam setiap tahun, bahan induk vertisol umumnya bersifat alkalis seperti hasil pelapukan batuan kapur. Pada tanah vertisol di Klampisan Wonogiri ini, bahan induk tanah berasal dari pelapukan batuan kapur yang berasal dari formasi pegunungan kapur seribu. Proses pembentukan tanah vertisol menghasilkan suatu bentuk mikrotopografi yang terdiri dari cekungan dan gundukan kecil yang disebut gilgai. Proses yang dominan dalam pembentukan tanah vertisol meliputi proses haplodisasi dengan cara argilik pedoturbasi, tang terutama dipengaruhi oleh kandungan liat yang tinggi yang didominasi oleh mineral liat 2:1 yang mudah mengembang dan mengkerut.

3.       Potensi

Prospek pemanfaatan vertisol relatif lebih sesuai jika dimanfaatkan sebagai areal persawahan, hanya saja pembuatan jaringan irigasi harus dibuat terlebih dahulu jika disekitarnya ada sumber air atau sungai. Dengan mengatur drainase, irigasi dan pengelolaan tanah disertai pemupukan bahan organik untuk memperbaiki struktur tanh, jenis tanah ini dapat memberikan hasil padi, jagung, kapas, kacang tanah dan tebu dan bebarapa tanaman perdagangan dataran rendah yang cukup baik seperti singkong dan pepaya.

4.       Permasalahan

Vertisol merupakan tanah prospek pemanfaatannya cukup baik, akan tetapi yang menjadi kendala adalah dalam hal pengelolaan tanahnya yang relatif cukup sulit. Tanah ini bersifat lekat dan liat bila basah dan sangat keras dalam keadaan kering. Walaupun demikian tekstur tanah sangat halus, derajat kerut yang nyata dan pengembungannya yang merupakan ciri mereka menyebabkan mereka kurang sesuai untuk pertanaman daripada daerah disekitarnya. Kalau mereka mengering sehabis hujan, waktu untuk dibajak atau diolah sangat pendek. Untuk pengelolaannya tidak dapat dilaksanakan tepat pada waktunya dan mereka terbataas pada penggunaan alat kecil, sederhana karena hewan mereka tidak dapat menarik alat besar ditanah berat.Selain pengelolaan yang berat, tanah ini miskin unsur hara N dan K, karena kedua unsur hara tersebut terjepit dalam interlayer, yaitu merupakan ruang antara dua lembaran tetrahedral dengan octahedral (2:1) yang mempunyai diameter sama dengan diameter N dan K, sehingga N dan K akan terjepit didalamnya, akibatnya tanah ini menjadi kahat N dan K.

Dalam pengolahan tanahnya yang relatif cukup sulit, maka harus diketahui keadaan kelengasan tanah paa lapisan permukaan yang memungkinkan untuk dilakukan pengolahan tanah, karena sifat fisik tanah vertisol yang jelas adalah konsistensi yang keras, sehingga untuk mengolah tanah tidak dapat menggunakan cangkul. Penggunaan traktor dan lain-lain peralatan mekanik memungkinkan untuk melakukan persiapan lahan baik untuk pembibitan maupun penanaman.

5.       Pengelolaan

Perbaikan kecepatan infiltrasi adalah sangat penting didaerah-daerah kering, karena untuk mengerjakan lahan kering digunakan irigasi, beberapa tindakan konservasi yang perlu dilakukan adalah dengan perkembangan dan perbaikan mulsa permukaan, yang dirangsang oleh pengolahan tanah yang relatif  baik, oleh rotasi tanam dan penambahan bahan organic. Penambahan bahan organic dimaksudkan untuk perbaikan struktur tanah, sehingga akan memperbaiki sistem aerasi, disamping itu dengan membaiknya struktur, maka tanah ini akan  menjadi lebih mudah diolah.

J.       PROFIL IX

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil X dilakukan di daerah Tubokarto, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPt, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah mulai berkembang yang sedang mengalami perkembangan horison. Horisaon tanah ini terdiri dari horison O, Bcambik, B/C, dan C. menurut jenisnya, termasuk kambisol karena adanya horison Bcambik. Sedangkan pada tingkatan macamnya, termasuk district kambisol yang mempunyai struktur lempung berpasir.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk kedalam unit kambisol yang merupak tanah yang mempunyai horison Bcambik atau horison epipedon umbrik pada kedalaman 25cm atau lebih. Menurut sub unitnya termasuk ke dalam kalsic kambisol karena memiliki kandungan karbonat sekunder pada kedalaman 50-100cm dari permukaan tanah.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo inceptisol Tidak terdapat bahan sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral; dan sifat nya yaitu Satu horizon atau lebih di antara kedalaman 20 dan 50 cm di bawah permukaan tanah mineral, baik memiliki nilai n 0,7 atau kurang, atau kandungan liat dalam fraksi tanah-halus kurang dari 8 persen. Pada tingkatan sub ordonya termasuk udepts dengan great groupnya eutrudepts yang mempunyai sifat karbonat bebas dalam tanah dan kejenuhan basanya sebesar 60% atau lebih pada satu horisn. Menurut subgroup nya termasuk kedalam ruptic-alficeutrudepts. Pada tingkatan familinya memilki mineral lempung kaolinit yang aktif dan mampunyai ph 6 atau bersifat tidak masam dengan memilki suhu isohyperthermic. Pada tingkatan serinya yaitu Tubokarto karena ditemukan di daerah ini. Sedangkan tingkatan fasenya, tanah ini termasuksangat berbatu (3-15%) dengan jeluk mempan dalam dan kemiringan ekstrim curam sekitar 70%.

2.       Genesis Tanah

Tanah inceptisol merupakan tanah mineral dengan tebal kurang daripada 10 cm diatas batuan keras. Seringkali bahan tanahnya telah tererosi pada waktu vegetasi aslinya (hutan) dirusak dan tinggallah lapisan tanah sangat tipis diatas batuan dasar. Merupakan tanah yang dianggap paling muda, sehingga bahan induknya seringkali dangkal (kurang dari asam) atau tampak diatas permukaan tanah sebagai batuan padat yang padu. Dengan demikian maka profilnya belum memperlihatkan horison-horison dengan sifat-sifat dan ciri-ciri morfologi yang masih menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri batuan induknya. Tanah ini belum lama mengalami pelapukan dan sama sekali belum mengalami perkembangan tanah. Akibat pengaruh iklim yang lemah letusan vulkan atau topografi yang terlalu miring atau bergelombang. Meskipun demikian, perkembangan profil golongan ini lebih berkembang daripada entisols.

3.       Potensi

Tanah ini banyak digunakan untuk pertanaman didataran dan pada tanah berlereng sesuai dengan tanaman tahunan, daerah yang berlereng curam sesuai untuk hutan dan tempat rekreasi dan bahkan kawasan hutan lindung atau tanaman permanen untuk menjaga kelestarian tanah. Tersedianya air untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari tiga bulan berturut-turut dalam musim kemarau

4.       Permasalahan

Penggunaan inceptisol untuk pertanian atau non pertanian adalah beragam. Daerah-daerah yang berlereng curam untuk hutan, rekreasi atau drainase buruk hanya untuk pertanian, setelah drainase diperbaiki.Tanah ini bersolum dangkal, bahkan kadang batuan induknya dapat menyembul kepermukaan, sehingga mengakibatkan perakaran tanaman diatasnya sangat terbatas, disamping itu letak tanah ini didaerah yang berlereng mengakibatkan permukaan tanahnya sangat muah tererosi yang mengakibatkan ikut tercucinya unsur hara didalamnya, sehingga tanah ini miskin unsur hara. Inceptisols yang bermasalah adalah sulfaquepts yang mengandung horison sulfuric (cat clay)  yang sangat masam. Problem yang dijumpai karena nilai pH sangat rendah (<4), sehingga sulit untuk dibudidayakan.

5.       Pengelolaan

Kebanyakan tanah yang akan dipakai untuk pertanian hendaknya mempunyai tebal sekurang-kurangnya 80 cm atau lebih untuk memberikan ruang perakaran yang baik dan daya simpan air cukup. Pada perkebunan kopi, teh, coklat atau lain sangat membutuhkan teknik budidaya yang tepat antara lain pemupukan, pengolahan tanah, pemberantasan hama dan perbaikan drainase yang sangat penting untuk mendapatkan produktivitas tanah yang maksimal.

Sistem koloid merupakan sistem campuran yang partikelnya berdiameter antara 10-7 cm sampai dengan 10-5.  Partikel-partikel yang tersebar dalam sistem dispersi disebut fasa terdispersi dan mediumnya disebut medium pendispersi. Ukuran diameter partikel koloid sebesar kurang dari 10-7 dan biasanya disebut dengan larutan sedangkan dimeternya lebih dari 10-5 disebut dengan suspensi. Contoh dari larutan yaitu gula dalam air, sebab molekul gula tak dapat dipisahkan dengan penyaringan dan kristal dari gula akan pecah. Sedangkan untuk contoh dari suspensi yaitu pasir dalam air sebab pasir dan air akan memisah dan partikel dapat dipisahkan dengan penyaringan.

Macam-macam dari koloid antara lain :

1.      Sol adalah jenis koloid yang fase terdispersinya padat dalam medium cair. Ada 2 macam sol yaitu sol liofil (partikel yang dapat mengadsorpsi molekul cairan) dan sol liofob (partikel padat yang dapat mengadsorpsi molekul cairan). Contoh dari sol liofil antara lain: kanji, protein dan sabun. Sedangkan contoh dari sol liofob antara lain: sol logam dan sol sulfide.

2.      Gel adalah koloid liofil yang setengah padat. Gel terbagi menjadi 2 yaitu gel kenyal contohnya selai dan gelatin. Dan gel tidak kenyal contohnya garam silikat dengan HCl.

3.      Aerosol adalah suatu system koloid yang partikelnya (padat atau cair) terdispersi dalam medium gas. Contoh dari aerosol antara lain: kabut, awan, debu, hair-spray, dan deodorant.

4.      Emulsi adalah suatu sistem koloid dimana zat terdispersi medium pendispersi serupa cairan dan harus ditambah zat pengemulsi (emulgator). Contoh dari emulsi antar lain: minyak dalam air atau air dalam minyak.

Ada beberapa sifat-sifat yang khas dari koloid, diantaranya:

1.      Efek Tyndall yaitu gejala terlihatnya bekas cahaya bila diarahkan kedalam suatu medium yang mengandung partikel-partikel koloid.

2.      Gerak Brown yaitu partikel-partikel dalam koloid yang bergerak terus-menerus dengan jalan lurus dengan arah tak menentu.

3.      Adsorpsi yaitu peristiwa dimana suatu zat menempel pada permukaan zat lain. Contohnya Fe(OH)3 dalam air yang menyerap (ion H+) sehingga partikel bermuatan positif.

4.      Koagulasi yaitu partikel-partikel koloid yang dapat penggumpolar yaitu dengan menambahkan suatu elektrolit.

5.      Dialisa yaitu pemisahan antara partikel-partikel dalam koloid dengan yang non koloid dengan difusi melalui membran.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak kegunaan dari koloid baik langsung maupun tidak langsung, misalnya susu, cat, buih sabun, dan hairspray. Dalam bidang Industri juga menggunakan koloid misalnya industri kosmetik, industri obat-obatan, deterjen, bahan makanan, dan sebagainya.

Kinetika kimia merupakan cabang dari ilmu tanah –fisika yang mempelajari laju reaksi kimia dan mekanismenya (reaktan menjadi produk). Laju reaksi merupakan besaran yang berubah yaitu bahwa konsentrasi reaktan berkurang dengan bertambahnya waktu dengan laju yang mula-mula cepat tetapi kemudian melambat. Reaksinya:

A + 3B  → 2C + 2D

Maka, laju reaksi dapat dianggap sebagai laju berkurangnya konsentrasi molar A            (mol per liter per detik).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi besar kecilnya laju reaksi antara lain:

1.      Suhu, peningkatan suhu akan menyebabkan kecepatan reaksi menjadi semakin cepat.

2.      Sifat dari reaktan, menigkatnya konsentrasi awal reaktan akan diikuti dengan semakin cepatnya laju reaksi (kecuali pada reaksi ordo nol).

3.      Konsentrasi dari rektan-reaktannya, beberapa reaksi dipengaruhi oleh adanya senyawa / reaktan yang dapat mempercepat atau memperlambat reaksi.

Sistem koloid dan kinetika reaksi banyak dipergunakan baik dalam bidang industri maupun di bidang pertanian. Khusus di bidang pertanian, salah satu contohnya adalah Pestisida. Pestisida merupakan racun yang dapat membunuh atau membasmi hama atau pengganggu usaha pertanian. Jenis pestisida yang sering menggunakan koloid yaitu Insektisida yang merupakan pestisida untuk membasmi hama dan jenis srangga (insekta). Seperti belalang, kepik, wereng, kumbang, ulat, dan sebagainya.

Dikloro Difenil Trikloroetana (DDT) termasuk senyawa organoklor, yaitu senyawa organik yang diklorasikan sehingga berkaitan dengan klor. Semakin banyak atom klor yang diikat, sifat racunnya semakin meningkat. DDT biasanyan digunakan untuk meracuni serangga (insekta) yang sifatnya tahan lama untuk tiodak berubah pada saat disemprotkan. Tetapi penggunaan DDT dapat menyebabkan kekebalan atau resisten pada serangga yang tidak mati. Untuk itu DDT diganti dengan senyawa lain yang dapat membasmi hama tetapi tidak menimbulkan masalah pencemaran lingkungan hidup.

Pestisida merupakan zat kimia yang ditujukan untuk membasmi hama dan serangga tetapi karena sifatnya yang beracun maka dapat membahayakan makhluk hidup yang bukan sasarannya. Maka dari itu penggunaan pestisida harus terbuat dari bahan kimia yang alami dan pupuk yang digunakan yakni pupuk yang ramah lingkungan (pupuk yang mudah diuraikan).

Oleh: fitri05 | Januari 24, 2011

PERAN MAKROFAUNA TANAH

Hewan tanah berfungsi sebagai konsumen dan terkonsentrasi pada lapisan tanah permukaan yang diperkaya dengan bahan organik. Secara ekologis tanah tersusun oleh tiga kelompok material, yaitu material hidup (faktor biotik) yang berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiotik berupa bahan organik, dan faktor abiotik berupa pasir (sand), debu (salt), dan liat (clay). Umunya sekitar 5 persen penyusun tanah merupakan biomass (biotik dan abiotik) atau bahan organik. Ruangan yang tersedia hanya memungkinkan pembahasan beberapa jenis yang paling melimpah dan penting. Kebanyakan berupa antropoda dan filum antropoda. Antropoda tanah yang paling penting yang akan dibahas meliiputi tungau, kelabang, kaki seribu, ekor pegas, serangga (semut, rayap, kumbang) dan larva serangga. Hewan tanah non antropoda penting yang akan dibahas adalah nematoda dan cacing.

Springtail merupakan serangga primitive (biasanya tanpa mata dan pigmen) berukuran panjang < 1 mm, konsumen sisa tanaman/ hewan, kotoran humus dan miselia jamur, hidup dalam pori-pori makro lapisan tanah bawah

Kutu (Arachnida) Sebagian besar makrofauna ini memakan serat-serat organik mati seperti hifa jamur dan benih, ada yang memakan telur serangga dan mikrofauna lain seperti springtail.

Lipan mempunyai pasangan kaki banyak dan merupakan vegetarian atau pengurai, hewan ini memakan bahan organik mati (saprofag) dan beberapa mencari miselium fungi, sedangkan kelabang yang berkaki lebih sedikit ketimbang lipan, merupakan pemakan daging (karnivora)fauna berukuran sebesar kepalanya.

Tempayak atau larva serangga sejenis kumbang coklat atau kutu busuk, berbentuk bulat, putih dan panjang 1-2 cm, berkepala hitamberkaki tiga. Makanan utamanya adalah rumput, taspi juga berbagai tanaman pertanian.

Ekor pegas merupakan serangga primitif yang panjangnya kurang dari 1 milimeter. Hewan ini hidup dalam makropori lapisan serasah dan memakan jaringan tumbuhan dan hewan mati, tinja atau kotoran, humus, dan miselium fungi, hidup dalam pori-pori makro lapisan tanah bawah. Fauna ini menggunakan ekornya untuk melompat/bergerak melalui mekanisme kembang-kerut bagian ujung bawah posteriornya.

Lundi putih adalah kumbang lonta coklat (Melolonthidae). Lundi berbentuk bulat, putih, dengan panjang sekitar 2,5 cm dan melengkung seperti berbentuk C bila terganggu. Lundi ini terutama memakan akar rumput, yang menyebabkan bercak-bercak kematian di halaman rumput. Tetapi juga berbagai tanaman pertanian sehingga menjadi hama tanaman yang penting.

Semut hewan tanah yang berperan penting dalam perombakan bahan organik. Semut memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk. Pada umumnya perombakan bahan-bahan organik dalam saluran pencernaandibantu oleh berbagai enzim pencernaan yang dihasilkan oleh mesenteron dan organisme yang secara tetap bersimbiosis dengan pencernaannya.

Cacing tanah yang pada umumnya “Lumbricus terrestris”, yang diimpor Amerika Serikat dari Eropa. Lumbricus terrestries membuat ronnga yang dangkal dan makan bahan tanaman setiap malam hari. Beberapa material tumbuhan ditarik kedalam liang. Cacing tanah memakan tumpukan jerami rumput dan membantu mencegah kenumpuknya jerami rumput yang dibentuk oleh rumput balap. Cacing juga memakan camputan tanah dan bahan organik, bersarang di dalam tanah dan saat bergerak

Selain makrofauna yang hidup dalam tanah ada juga makrofauna yang hidup dalam kawasam mangrove seperti armadillidium vulgare yang merupakan pemakan seresan (saprofag), kepiting sesarmid memakan dedaunan, ranting, bunga dan buah dari tanaman mangrove, yang mati dan ada juga beberapa golongan pemakan seresah mangrove (decomposer), yaitu Polycheata (Euphorisme sp, Glicera sp,) Gastropoda ( littorina sp, polisines sp, Amauropsis sp), Bivalvia ( Lyonsia sp, Tharacia sp,), Crustacea (palicus sp, Dissodactylus sp).

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, W. 2004. Studi Keanekaragaman Hayati Dalam Saluran Pencernaan Semut. http://www.webng.com/bioscientiae/v1n2/v1_n2_arsyad.pdf. Diakses pada tanggal 24 oktober 2007 pukul 18.30 WIB

Hanafiah, Kemas Ali. 2005. biologi tanah Ekologi dan Mikrobologi Tanah. PT. raja Grafindo. Jakarta.

Pertanian organik dapat diartikan suatu sistem produksi pertanaman yang berasaskan daur-ulang hara secara hayati. Daur ulang hara dapat melalui sarana limbah tanaman dan ternak, serta limbah lainnya yang mampu memperbaiki status kesuburan dan struktur tanah.

Sistem pertanian organik merupakan “hukum pengembalian (low of return)” yang berarti suatu sistem yang berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan memberi makanan pada tanaman. Dengan kata lain, unsur hara didaur ulang melalui satu atau lebih tahapan bentukan senyawa organik sebelum diserap tanaman. Hal ini berbeda sekali dengan pertanian konvensional yang memberikan unsur hara secara cepat dan langsung dalam bentuk larutan sehingga segera diserap dengan takaran dan waktu pemberian yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Definisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi kompenen-komponen fisik, biologi, sosiaekonomi yang direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.

Produktivitas tanah dapat ditingkatkan hanya melalui pengolahan tanah dan tanaman secara terpadu. Dengan demikian pemahaman serbacakup (Comprehensive) faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tanah sangat diperlukan petani untuk meningkatkan produktivitas tanah. Usaha untuk memperbaiki produktivitas tanah dengan memperhatikan semua faktor yang berpengaruh dikenal sebagai membangun tanah secara terpadu.

Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan, perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap petani yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional. Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab intensif-intensif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini.

Sumber dari unsur hara dalam pertanian organik berasal dari dalam lingkungan usahatani berupa bahan organik dari biomassa tanaman atau tumbuhan, kotoran ternak, limbah pertanian lainnya dan hasil fiksasi secara daur ulang hara adalah prinsip keseimbangan hara yaitu jumlah yang hilang sama dengan jumlah yang ditambahkan ke dalam tanah sehingga kestabilan produktivitas lahan dapat dicapai. Proses pengembalian hara mengikuti daur yang utuh melalui tanah—-tanaman—-tanah, atau tanah—-tanaman—-ternak—-tanah.biologis.

Sumber-sumber bahan organik yang berasal dari dalam lingkungan usaha tani, dalam hubungannya dengan kebutuhan hara  tanaman dapat disebut pupuk organik. Hingga saat ini perkembangan penggunaan bahan organik sebagai sumber pupuk organik semakin meningkat seiring dengan peningkatan degradasi lahan terutama didaerah tropis. Di samping itu penelitian-penelitian tentang pupuk organik  telah banyak dilakukan.

Tanaman dalam membangun biomassa memerlukan H2O, CO2 yang bersal dari udara, energi dipasok dari sinar matahari dan unsur hara diserap dalam tanah atau air. Hara tanaman  yang secara alami diendapkan dari air atau udara, atau berasal dari hasil fiksasi nitrogen dan hasil pelapukan mineral yang banyak dijumpai di dalam tanah. Tumbuhan menyerap sebagian besar hara yang ada di dalam tanah, sebagian lagi secara geografi disebarkan melalui air limpasan.

Alam yang ada tumbuhan- tumbuhan alami, bahan organik yang terakumulasi di permukaan tanah akan mengalami proses dekomposisi dan melepaskan unsur hara atau dalam bentuk abu apabila dilakukan sistem tebas bakar (slash and burn). Hara yang diserap tanaman dari lapisan tanah yang paling dalam selanjutnya menjadi tersedia bagi tanaman yang tumbuh di permukaan tanah. Sistem pertanian tebas bakar relatif lebih besar mengeksploitasi hara yang tersedia. Setelah tanaman dipanen, pasokan hara dengan cepat mengalami penurunan. Dengan demikian lahan harus dibiarkan bero dalam waktu relatif lama atau menggantikannya  menggunakan hara yang berasal dari luar usaha tani.

Prinsip daur ulang hara organik didasarkan pada upaya mengurangi kehilangan hara melalui panen (biomassa dan hasil ekonomi) dengan cara mengembalikan sebagian biomassa kedalam tanah, setelah hasil ekonomi di panen. Pada penggunaan hara yang bersumber dari bahan-bahan anorganik (pupuk kimia), maka proses daur ulang hara tidak terjadi karena sumber utama hara adalah  bentuk anorganik yang berasal dari luar Agroekosistem. Sedangkan sumber hara dari bahan organik  (biomassa tanaman, kotoran hewan dan limbah organik), setelah diberikan ke dalam tanah dalam bentuk organik, selanjutnya akan mengalami proses peruraian menjadi bentuk anorganik yang siap diserap akar tanaman. Sejumlah hara tersebut akan dipergunakan untuk memproduksi bahan kering tanaman (biomassa dan hasil ekonomi) yang selanjutnya akan dapat di daur ulang kembali. Sumber utama hara organik berasal dari petak usaha tani, sedangkan sumber hara anorganik bersal dari luar petak usaha tani.

Sistem  Gisi/Nutrisi Tanaman Terpadu (SGTT) merupakan pendekatan dengan cara mengadaptasi kebutuhan hara tanaman pada sistem usaha tani spesifik lokasi dengan target produksi tetentu, dilatarbelakangi sumber daya fisik setempat, ketersediaan sumber hara tanaman dalam bentuk organik, dan mineral, dan kondisi sosial ekonomi setempat. Pengelolaan nutrisi tanaman terpadu bertujuan untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan pengembangan masyarakat pedesaan dengan perhatian spesifik untuk mengembangkan teknologi hara tanaman yang aman ditinjau dari aspek lingkingan, manguntungkan secara ekonomi, dapat diterima secara sosial, serta dapat diatasi oleh petani.

Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan hara tanaman adalah mempertahankan (apabila memungkinkan meningkatkan) produktivitas secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan dasar lainnya, dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya lahan dan air. Tidak ada hal yang bersifat kontradiksi antara usaha mempertahankan produktivitas tanaman dan usaha meningkatkan sumber daya. Dengan demikian, kerusakan lingkungan dapat ditekan denagn cara mensinkronkan antara hara tanaman dan kebutuhan tanaman, serta melaksanakan prinsip-prinsip konservasi tanah dan air.

Usaha perbaikan, mempertahankan, dan meningkatkan kesuburan tanah merupakan prioritas yang harus dilakukan dalam kegiatan pertanian, terutama di Negara-negar yang sedang berkembang yang sebagian besar terletak di wilayah yang beriklim tropis. Tanah-tanah di wilayah tropika biasanya memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, tetapi kebutuhan pangan dan bahan dasar lainnya meningkat cepat sejalan pertambahan penduduk. Di wilayah-wilatah semacam ini diperlukan usaha intensifikasi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tanah-tanah subur relatif cukup lentur untuk bermacam-macam sistem produksi pertanian. Meskipun mempunyai kendala tanah dan iklim, tetapi bermacam-macam jenis tanaman dapat ditumbuhkan guna memenuhi peningkatan permintaan terhadap produksi pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Pertanian Berkelanjutan. diakses pada tanggal 26 September 2007  pukul 10.30 WIB.

Nirwan Sahiti. 2007. Pertanian Organik: Prinsip Daur Ulang Hara, Konservasi Air dan Interaksi Pada tanaman dan Interaksi pada tanaman. Diakses pada tanggal 26 September 2007  pukul 10.30 WIB.

PENDAHULUAN

Tanah merupakan bagian dari tubuh alam yang menutupi bumi dengan lapisan tipis, disintesis dalam bentuk profil dari pelapukan batu dan mineral, dan mendekomposisi bahan organik yang kemudian  menyediakan air dan unsur hara yang berguna untuk pertumbuhan tanaman. Yang membuat tanah itu subur diantaranya pelapukan lanjut, bahan mineralogi, kapasitas pertukaran kation (KPK) yang tinggi, kelembaban air, pH netral dan kelebihan garam.

Tanah bersifat sangat penting bagi kehidupan, sehingga perlindungan kualitas dan kesehatan tanah sebagaimana perlindungan terhadap kualitas udara dan air harus sangat dijaga. Namun banyak faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kesehatan tanah tersebut, misalnya kadar hara yang terkandung dalam tanah, vegetasi, iklim, sifat fisik dan kimia tanah.

Kesehatan tanah itu sendiri dapat didefinisikan secara umum sebagai kemampuan berkelanjutan dari suatu tanah untuk berfungsi sebagai suatu sistem kehidupan yang penting didalam batas – batas ekosistem dan tata guna lahannya, untuk menyokong produktivitas hayati, meningkatkan kualitas udara dan lingkungan perairan, serta memelihara kesehatan tanaman, hewan dan manusia.

Kualitas tanah itu sendiri dapat didefinisikan secara umum sebagai kemampuan tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang bergizi dan aman secara berkelanjutan, serta meningkatkan kesehatan manusia dan ternak, tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap sumberdaya dan lingkungan

Faktor yang mempengaruhi kualitas tanah pada bagian fisiknya adalah tekstur tanah, bahan organik,agregasi, kapasitas lapang air, drainase, topografi, dan iklim. Sedangkan yang mempengaruhi pada bagian pengolahannya adalah Intensitas pengolahan tanah, penambahan organik tanah, pengetesan pH tanah, aktivitas mikrobia dan garam.

Tanah sebagai habitat biota tanah sebagai medium alam untuk pertumbuhan dan melakukan aktivitas fisiologinya. Tanah menyediakan nutrisi, air dan sumber karbon yang diperlukan untuk pertumbuhan dan aktivitasnya. Didalam hal ini, lingkungan tanah seperti faktor abiotik (yang meliputi sifat fisik dan kimia tanah) dan faktor biotik (adanya biota tanah dengan tanaman tingkat tinggi) ikut berperan dalam menentukan tingkat pertumbuhan dan aktivitas biota tanah tersebut.

Terkait pada kedua definisi tersebut dapat kita ketahui bahwa kualitas dan kesehatan tanah adalah faktor penting yang harus dijaga agar fungsi tanah sebagai mediator tumbuh organisme; biota tanah dan vegetasi dapat terlaksana dengan baik yang kemudian  dapat diaplikasikan untuk menunjang kehidupan di biosfer, karena semua faktor yang terkait dengan keadaan tanah dan daya dukung tanah akan berpengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap perkembangan populasi mikroorganisme tanah .

II.  ISI

A.  Peran Makrofauna dalam Sifat Fisik dan Kimia Tanah

Tanah dengan fungsi sebagai habitat beragam jasad hidup, banyak diantara jasad hidup tersebut belum teridentifikasi. Berbagai spesies biota tanah tersebut bersifat peka terhadap perubahan lingkungan, praktek pengolahan tanah serta pola tanam sehingga kenekaragaman biota tanah (mikrofauma, mesofauna, makrofauna) dapat digunakan sebagai petunjuk terjadinya proses degradasi atau rehabilitasi tanah (Papendick et al, 1992).

Salah satu organisme penghuni tanah yang berperan sangat besar dalam perbaikan kesuburan tanah adalah fauna tanah. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah. Makrofauna tanah mempunyai peranan penting dalam dekomposisi bahan organik tanah dalam penyediaan unsur hara. Makrofauna akan meremah-remah substansi nabati yang mati, kemudian bahan tersebut akan dikeluarkan dalam bentuk kotoran.

Keberadaan makrofauna tanah sangat berperan dalam proses yang terjadi dalam tanah diantaranya proses dekomposisi, aliran karbon, bioturbasi, siklus unsur hara dan agregasi tanah. Diversitas makrofauna dapat digunakan sebagai bioindikator ketersediaan unsur hara dalam tanah. Hal ini karena  makrofauna mempunyai peran penting dalam memperbaiki proses-proses dalam tanah. Sementara itu, setiap organisme mempunyai niche ekologis yang spesifik, serta nilai baik ekologis, ekonomis, atau estetika.

Diversitas makrofauna yang aktif dipermukaan tanah tidak menunjukkan adanya hubungan yang nyata dengan parameter ketersediaan unsur hara. Sebaliknya terdapat hubungan yang nyata antara diversitas makrofauana dalam tanah dengan beberapa sifat tanah (N total, porositas, dan air tersedia). Tidak adanya hubungan antara diversitas makrofauna yang aktif di permukaan tanah dengan parameter ketersediaan unsur hara tanah diduga karena makrofauna yang aktif merupakan fauna asli (natrics) tetapi makrofauna yang keberadaannya sesaat untuk mencari sumber makanan (fauna exotics) (Maftu’ah dkk, 2001). Makrofauna yang dapat mempengaruhi sifat fisika tanah diantaranya adalah: semut, rayap, jangkrik dan cacing tanah.

Semut hewan tanah yang berperan penting dalam perombakan bahan organik. Semut memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk. Pada umumnya perombakan bahan-bahan organik dalam saluran pencernaan dibantu oleh berbagai enzim pencernaan yang dihasilkan oleh mesenteron dan organisme yang secara tetap bersimbiosis dengan pencernaannya.

Semut merupakan makrofauna yang mempunyai peran sebagai pendekomposer bahan organik, predator, dan hama tanaman. Semut juga dapat berperan sebagai ecosystem engineers yang berperan dalam memperbaiki struktur tanah dan aerasi tanah. Kelimpahan semut yang tertinggi biasanya terdapat pada lapisan seresah lebih tinggi. Hal ini dikarenakan  semut lebih menyukai tanah dengan bahan organik yang tinggi dibandingkan dengan bahan organik yang rendah.

Petal (1998) menyatakan bahwa koloni semut dapat menurunkan berat isi tanah sampai 21-30 % dan kelembaban tanah 2-17 %, serta meningkatkan mikroflora dan aktivitas enzim tanah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada sarang semut mempunyai kandungan bahan organik dengan kandungan N total lebih tinggi dibandingkan tanah disekitarnya. Akumulasi bahan organik dari sisa makanan dan metabolisme akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme dan enzim tanah sehingga pergerakannya akan mempengaruhi struktur dan aerasi tanah.

Kelimpahan rayap juga dapat dipengaruhi oleh kandungan N total tanah dan kelembaban tanah. Rayap merupakan serangga yang hidupnya berkelompok dengan perkembangan kasta yang telah diketahui dengan baik kasta reproduktif (ratu) mempunyai tugas menghasilkan telur dan makannya dilayani oleh rayap pekerja. Rayap merupakan makrofauna tanah yang penting peranannya pada pembentukan struktur tanah dan pendekomposisian bahan organik serta ketersediaan unsur hara.

Kelimpahan cacing tanah dipengaruhi oleh bahan organik,dengan meningkatnya bahan organik maka meningkat pula populasi cacing tanah (Minnich, 1977). Disekitar liang cacing tanah kaya akan N total dan C organik. Cacing tanah jenis pontoscolex corethrurus mempunyai kemampuan untuk mencerna bahan organik kasar dan mineral tanah halus (Barois dan Ptron, 1994 dalam Lavelle et all, 1998). Cacing tanah memakan kotoran-kotoran dari mesofauna di permukaan tanah yang hasil akhirnya akan dikeluarkan dalam bentuk feses atau kotoran juga yang berperan paling penting dalam meningkatkan kadar biomass dan kesuburan tanah lapisan atas. Cacing tanah merupakan makrofauana yang berperan dalam pendekomposer bahan organik, penghasil bahan organik dari kotorannya, memperbaiki struktur dan aerasi tanah.

Kotoran (feses) cacing tanah mengandung banyak bahan organik yang tinggi, berupa N total dan nitrat, Ca dan Mg yang bertukar, pH, dan % kejenuhan basa dan kemampuan penukaran basa. Disini membuktikan bahwa cacing tanah berpengaruh baik terhadap produktivitas tanah. Karena cacing tanah dalam sifat kimia tanahnya berperan menghasilkan bahan organik, kemampuan dalam pertukaran kation, unsur P dan K yang tersedia akan meningkat.

Aktivitas dari makrofauna dapat mempengaruhi struktur tanah sehingga dapat memperbaiki porositas tanah. Makrofauana seperti rayap, semut dan cacing tanah dapat berperan sebagai ecosystem engineers. Makrofauna tersebut dapat menerima makanan dari tanaman dan akan kembali mempengaruhi tanaman melalui perubahan sifat fisik (Lavelle, 1994; Brusaard, 1994).

B.  Peran Mikrofauna dalam Sifat Fisik dan Kimia Tanah

Sebagai habitat mikrofauna, tanah dihuni oleh lebih dari satu jenis mikrobia dengan berbagai ragam spesies. Mereka merupakan spesies yang saling mempengaruhi, saling menguntungkan, dan saling bergantung bahkan tidak jarang satu dengan yang lain melakukan persaingan dalam rangka mempertahankan hidupnya. Pola kemitraan dibangun dalam kehidupan bersama antar dua atau lebih spesies mikrobia dapat bersifat mutualistik, asosiatik, netral atau antagonistik.

Didalam tanah, mikrobia tidak saja berinteraksi dengan sesama mikrobia tetapi juga berinteraksi dengan makrofauna, mesofauna bahkan dengan organisme tingkat tinggi yaitu tanaman yang tumbuh disekitarnya. Sejumlah senyawa organik yang bermanfaat sebagai sumber karbon dan energi bagi kehidupan mikrobia, sebaliknya ada juga senyawa yang bersifat toksik bagi salah satu jenis mikrobia tertentu. Aktivitas mikrobia dapat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan juga penyerapannya.

Komponen dari bahan organik tanah yang paling sulit dilapuk adalah asam-asam humik, yang merupakan hasil pelapukan seresah (substansi organik yang menyerupai lignin). Jadi bisa dikatakan bahwa subsistansi humik adalah produk akhirdekomposisi bahan organik tanah oleh mikrobia. Ketahanan subsistansi humik terhadap proses dekomposisi disebabkan konfigurasi fisik maupun struktur kimia yang sulit dipecahkan oleh mikrobia. Substansi ini secara fisik terikat kuat dengan liat dan koloidal tanah lainnya, atau dapat juga karena letaknya di dalam agregat mikro dan ditambah pula dengan adanya hyphae atau akar-akar halus. Namun mikrobia yang mendekomposisikan komponen bahan organik tanah ini tetep memegang peranan penting dalam pembentukan agregat tanah dan pengikatan kation dalam tanah (Hassink, 1995; Matius, 1994).

Biomassa mikroba tanah digunakan sebagai bioindikator karena biomassa mikroba tanah sangat peka  terhadap penurunan kadar bahan organik yang terkait dengan degradasi berbagai sifat- sifat fisik dan kimia suatu jenis tanah yang akhirnya akan menunjukkan data otentik mengenai kualitas dan kesehatan tanah tersebut. Jadi dapat kita ketahui keadaan jumlah populasi biota tanah dapat dijadikan acuan untuk mengetahui tingkat kualitas dan kesehatan tanah.

Jumlah hara tanaman yang dilepaskan tergantung pada medium tanaman. bagian tanaman dan jumlah volume tanaman yang digugurkan . Jumlah volume tanaman yang digugurkan oleh tanaman sangat berpengaruh terhadap kualitas daan kesehatan tanah. Makin sedikit bagian tanaman yang digugurkan, maka makin miskin unsur hara dalam tanah , sebaliknya makin banyak jumlah bagian tanaman sampai batas masih dapat terdekomposisi maka akan tinggilah kualitas dan kesehatan  tanah tersebut. Akan muncul masalah baru jika  jumlah bagian tanaman yang gugur melewati batas  yang dapat didekomposisi maka keadaan ini justru akan mernghambat pertumbuhan tanaman yang akan secara tidak langsung memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas dan kesehatan tanah. Hal ini dapat ditemukan pada tanah hutan humid ( sphagnum ) dan lahan gambut.

. Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai sumber energi untuk tumbuh. Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik meningkat. Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut. Dekomposisi berarti perombakan yang dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme (unsur biologi dalam tanah) dari senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Hasil dekomposisi berupa senyawa lebih stabil yang disebut humus. Makin banyak bahan organik maka makin banyak pula populasi jasad mikro dalam tanah

Tanah yang sehat tentu saja harus memiliki suatu system yang ideal artinya ada keseimbangan komposisi antara faktor- faktor pendukung  yang membangun tanah menjadi satu kesatuan yang utuh, faktor- faktor inilah yang kemudian akan sangat menentukan apakah tanah tersebut bisa dikategorikan menjadi tanah yang sehat apa tidak. Kesehatan tanah ini tentu saja akan berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas tanah, karena tanah dengan keseimbangan yang dinamis antara komponennya akan dapat menghasilkan produk yang tinggi , memiliki daya dukung yang tinggi pula dan dapat lebih resisten terhadap gangguan dari luar misalnya erosi, banjir, tanah longsor, pengikisan dan krisis hara.

Dalam biologi tanah ini dipelajari berbagai hal yang terkait dengan keadaan tanah dengan fungsi organismenya baik mikrofauna ataupun makrofauna tanah dalam mempengaruhi kualitas dan kesehatan tanah, telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya bahwa salah satu fungsi positif yang dapat dilakukan  oleh mikrofauna tanah tersebut adalah sebagai  indicator kesuburan tanah. Fungsi lain dapat kita ketahui antara lain adalah sebagai berikut :

1.       Dalam daur Nitrogen, penambatan oleh mikrobia dan jasad renik yang bersimbiosis dengan tanaman kacang – kacangan (legum) dan non-legume .Mikroorganisme yang dapat membantu proses penambatan N tersebut adalah Azotobacter, Azospirillum, Actinomycetes, Blue gren algae

2.       Dalam daur fospor ( P ), P-organik dalaam tanah antara lain adalah fosfolipida, asam suksinat, fitin dan inositol fospat. Fospat tersebut dengan mudah diubah atau didekomposisi oleh mikrobia. Kemampuan mikrobia melakukan hidrolisis senyawa itu dengan mengeluarkan enzim sehingga P lepas dan berada dalam larutan tanah sehingga bisa dipergunakan oleh tanaman yang secara tidak langsung meningkatkan kualitas tanah dalam menghasilkan produk. Bakteri yang berperan dalam proses ini adalah BPF  contohnya Bacillus sp dan Pseudomonas.

Bakteri dan Fungi sebagai bioindikator diantaranya :

>  Bakteri mempunyai keunikan sifat metabolik seperti respirasi anaerob, penambatan N2, pemanfaatan metan menunjukkan tentangnya pentingnya bakteri dalam daur berbagai hara khususnya N, P, dan S.

> Fungi merupakan mikrobia yang aktif dalam alihrupa (transformation)  selulosa dan perombak utama lignin yang dihasilkan tanaman.

III.  PENUTUP

Di dalam tanah, berdasarkan fungsinya ada dua golongan jasad hayati, yaitu golongan yang menguntungkan dan yang merugikan. Jasad hayati yang menguntungkan terlibat dalam proses dekomposisi bahan organik dan dapat menyediakan unsur hara. Sedangkan yang merugikan biasanya sebagai hama atau penyakit tanaman.

Secara umum biota (jasad hayati) tanah dibagi menjadi empat, yaitu:

1.      Mikrofauna: meliputi fungi, bakteri, actinomycetes

2.      Mesofauna: meliputi protozoa, colembola, dan nematoda

3.      makrofauna: meliputi cacing, arthopoda, dan semut

4.      akar tanaman

Didalam tanah, baik makrofauna, mesofauna, dan mikrofauna saling berinteraksi satu sama lain dan dapat juga berinteraksi dengan organisme tingkat tinggi yaitu tanaman yang tumbuh disekitarnya. Sejumlah senyawa organik yang bermanfaat sebagai sumber karbon dan energi bagi kehidupan biota tanah, sebaliknya ada juga senyawa yang bersifat toksik bagi salah satu jenis biota tanah tertentu. Aktivitas biota dalam sifat fisik diantaranya pergerakannya dapat memperbaiki struktur, aerasi, dan draenasi tanah. Sedangkan peran biota tanah pada sifat kimia  tanah diantaranya dapat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan juga penyerapannya. Dengan kata lain, banyaknya biota dalam tanah merupakan salah satu faktor dari menentukan kesuburan dan kualitas tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Buckman, H dan Brady, N. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Maftu’ah, E., Arisoesilaningsih, E. dan Handayanto. E,. 2001. Potensi diversitas makrofauna tanah sebagai indicator kualitas tanah pada beberapa penggunaan lahan. Makalah Seminar Nasional Biologi 2. ITS. Surabaya.

Parr, J.F., R.I. Papendick, S.B.,S.B.Hornick, and R.E. Meyer.1992. Soil Quality: Attributes and relationship to Alternative and Sustainable Agriculture.USDA- Natural Conservation Service.

Petal, J. 1998. The Influence of ants on Carbon and Nitrogen Mineralization in Drained Fen Soil. App. Soil Ecol. 9: 271-272

Rosmarkam, A dan N.W Yuwono. 2002. Ilmu kesuburan tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Oleh: fitri05 | Januari 24, 2011

BIOLOGI TANAH


I. PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Tanah merupakan medium alami tempat tanaman hidup, berkembang biak dan mati, karena itu tanah mampu menyediakan sumber bahan organik selama bertahun-tahun yang dapat didaur ulang untuk nutrisi tanaman. Tanah juga menyediakan dukungan fisik yang diperlukan untuk berpegang bagi sistem perakaran dan juga berfungsi sebagai reservoir udara, air, dan nutrisi yang juga penting bagi pertumbuhan tanaman. Bagian dari kerak bumi di bawah tanah dikenal sebagai lapisan dan tidak langsung memberikan sumbangan bagi pertumbuhan tanaman.

Tanah sebagai suatu pedosistem dengan tanaman tingkat tinggi tumbuh diatasnya membentuk ekosistem yang terbuka dan dinamis sehingga terdapat aliran energi dan bahan (panas, air, hara, bahan mineral dan organik, organisme). Sifat tanah yang penting dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah kesesuaiannya sebagai media pertumbuhan akar tanaman: air, udara, penyerapan panas dan pasokan unsur hara. Keadaan tersebut bersama-sama menentukan tingkat kesuburan tanah.

Kemampuan tanah sebagai habitat tanaman dan menghasilkan bahan yang dapat dipanen sangat ditentukan oleh tingkat kesuburan atau sebagai alternatif kapasitas berproduksi atau berproduktivitas. Hasil akhir dari kesuburan tanah adalah hasil tanaman yang diukur berdasarkan keadaan asli tanah, produksi berat kering tanaman setiap tahun, setelah deskripsi keragaman tanaman dan variasi produktivitas musiman; total hasil tertinggi, keragaman vegetasi terbesar, dan adanya variasi terkecil dari tahun ke tahun yang menunjukkan keadaan kesuburan tanah yang tinggi.

Sejumlah besar organisme tanah hidup di dalam tanah. Bagian terbesar organisme tanah terdiri dari kehidupan tumbuhan. Hal ini tidaklah berarti memperkecil arti hewan-hewan terutama dalam tahap permulaan dekomposisi organik. Dipandang dari sudut tanaman, ada dua kelompok besar jasad hidup (organisme) tanah, yaitu yang menguntungkan dan merugikan. Kelompok yang menguntungkan meliputi seluruh organisme yang melakukan pelapukan bahan organik tanah, perubahan unsur hara dari senyawa organik ke anorganik dan penambatan nitrogen. Sedangkan kelompok yang merugikan adalah organisme yang melakukan persaingan hara atau organisme yang menyebabkan tanaman terkena hama dan penyakit. Secara umum, aktivitas organisme tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya iklim, kondisi tanah, dan vegetasi.

Organisme tanah dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu mikrofauna, mesofauna, makrofauna, dan akar tanaman. Organisme tersebut berperan dalam mendekomposisikan bahan organik sehingga bermanfaat bagi kesuburan tanah. Kesuburan tanah tidak hanya bergantung pada komposisi fisik dan kimiawinya melainkan juga pada ciri alami dan diversitas biota tanah.

 

B. Tujuan

Makalah ini merupakan hasil dari praktikum Biologi Tanah yang dilaksanakan pada tanggal 5-6 November 2007 di desa Dungwot, Nguntoronadi, Wonogiri. Tujuannya adalah untuk menentukan kesuburan tanah di daerah tersebut dengan:

1.      mengetahui populasi makrofauna tanah (aneksik, epigeik dan endogeik) di bawah tegakan tanaman yang berbeda

2.      mengetahui tingkat aktivitas mikroorganisme dalam tanah, evolusi CO2 dalam tanah, dan besarnya Evolusi CO2

3.      mengetahui menghitung spora jamur mikorisa pada tegakan akar tanaman pada ordo tanah Inceptisols, Menentukan presentase infeksi VAM pada korteks akar tanaman.

4.      mengetahui mengetahui populasi BPN dan BPF pada tanah dari masing-masing pengambilan sampel.

 

 

 

II. ISI

Populasi fauna tanah sangat banyak dan memainkan peran utama sebagai pengubah bahan organik, baik segar maupun setengah segar atau sedang melapuk, sehingga menjadi bentuk senyawa lain yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Kebanyakan fauna tanah merupakan konsumen yang memakan bangkai dan sampah yang membusuk. Fauna tanah dapat dianggap konsumen dan pengurai karena fauna ini memakan atau menelan bahan organik, dan beberapa penguraian bahan organik terjadi dalam pencernaan.

Jumlah terbesar populasi fauna tanah terdapat di lapisan tanah permukaan yang diperkaya dengan bahan organik, sesuai dengan fungsinya sebagai konsumen. Permukaan tanah merupakan daerah peralihan antara litosfer dan atmosfer. Pada atau di dekat daerah peralihan ini kuantitas bahan hidup lebih besar dari yang berada di mintakat atas atau bawah. Sebagai akibatnya, lapisan atas mengandung lebih banyak debu organik yang bertindak sebagai makanan untuk fauna tersebut dibandingkan dengan lapisan yang berada dibawahnya.

Pengamatan makrofauna tanah ini bertujuan untuk mengetahui populasi makrofauna tanah (aneksik, epigeik dan endogeik) di bawah tegakan tanaman yang berbeda. Pada identifikasi makrofauna, pengamatan makrofauna dilakukan 2 metode yaitu dengan metode kuadrat (monolith) dan metode perangkap jebak. Metode kuadrat merupakan metode pengambilan sample makrofauna dengan pembuatan monolith yang berukuran 25x25x30 cm3. Metode ini bertujuan untuk mengetahui populasi cacing yang ada di dalam tanah. Untuk metode perangkap jebak digunakan alat yaitu pittfall trap yang dibuat dari gelas aqua sebanyak tiga buah untuk setiap daerah pengamatan yang berguna sebagai perangkat makrofauna.

Pada pengamatan ini diketahui bahwa makrofauna yang ada di tempat praktikum cenderung lebih sedikit. Hal ini dikarenakan kemiringan lahan yang sangat miring sehingga menghilangkan topsoil, dan juga para petani yang menggunakan pupuk kimia dengan dosis tinggi yang mengakibatkan diversitas makrofauna sedikit. Salah satu yang menjadi parameter dari kesuburan tanah ialah dengan banyaknya diversitas makrofauna dan tanah. Semakin banyak diversitas makrofauna semakin subur tanah karena makrofauna akan mendekomposisi seresah yang menjadi bahan organik yang mempunyai peran penting dalam meningkatkan sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga tanah menjadi subur. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan atau populasi makrofauna tanah yaitu adanya keadaan lingkungan yang cocok (suhu) dan adanya nutrien atau sumber makanan yang dibutuhkan oleh makrofauna, sehingga makrofauna tersebut dapat bertahan hidup.

Acara evolusi CO2 bertujuan untuk menentukan tingkat aktivitas mikroorganisme pada berbagai ordo tanah. Untuk menentukan evolusi CO2 digunakan indikator KOH dan NaOH yang berfungsi untuk menangkap CO2 hasil evolusi dan air. HCl digunakan untuk menentukan jumlah CO2 yang difiksasi. Dan larutan BaCL2 untuk menghentikan reaksi. Kandungan CO2 nya lebih tinggi daripada kandungan oksigennya. Hal ini diduga disebabkan oleh adanya kegiatan dekomposisi bahan organik atau respirasi oleh organisme tanah dan akar-akar tanaman yang memerlukan oksigen dan melepaskan karbon dioksida.

Dari pengamatan yang dilakukan pada bagian bawah dan tengah diketahui bahwa bagian tersebut membutuhkan HCl yang banyak yaitu 19 ml dan 14,5 ml. Seharusnya HCl yang dibutuhkan tidak banyak, karena dilihat dari kondisi tanah pada daerah tersebut yang miskin BO sehingga aktifitas organisme sedikit. Penambahan HCl yang tinggi menunjukkan bahwa kadar CO2 di dalam tanah juga tinggi, hal ini ditunjukkan dengan tingginya aktifitas organisme dan vegetasi penutup tanahnya. Jumlah CO2 yang dihasilkan paling banyak terdapat pada lapisan atas karena banyak terdapat tanaman sehingga banyak terjadi aktivitas mikroorganisme di dalam tanah.

Untuk menumbuhkan BPN dan BPF diperlukan medium dan syarat-syarat yang sesuai agar tidak terjadi kontaminasi. Medium yaitu suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikrobia. Menurut bentuknya ada 3 macam medium, yaitu medium cair, semipadat dan padat. Menurut kegunaannya ada medium umum dan medium selektif. Pada praktikum ini digunakan medium umum dan medium selektif. Medium umum yaitu PDA (medium untuk menumbuhkan jamur) dan NA (menumbuhkan bakteri). Medium selektif (medium untuk menumbuhkan hanya beberapa mikrobia), yaitu pikovskaya (mengetahui adanya Bakteri Pelarut Fospat) dan medium Jensen untuk mengetahui adanya Bakteri Pelarut Nitrogen (BPN). Syarat dari medium selektif yaitu hanya cocok untuk mikrobia tertentu dan kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh mikrobia tertentu bisa terpenuhi dalam media tersebut.

Dari hasil pengamatan pada media pikovskaya terdapat jumlah BPF yang berbeda-beda untuk setiap lapisannya, jumlah BPF yang tertinggi terletak pada lapisan pertama yaitu sebesar 48.105, untuk lapisan kedua jumlahnya adalah 38.105 sedangkan untuk lapisan ketiga adalah sebesar 32.105. Lapisan pertama yang paling tinggi, karena lapisan pertama merupakan akumulasi dari tanah-tanah yang tererosi pada lapisan atasnya sehingga kandungan bahan organiknya paling tinggi yang merupakan habitat yang cocok untuk BPF. Hal ini ditunjukkan dengan suburnya tanah pada lapisan pertama sehingga baik untuk lahan pertanian.

Hasil pengamatan pada media Jensen terdapat adanya dua jenis BPN yaitu bakteri Rhizobium sp dan Azotobacter sp. Rhizobium sp merupakan bakteri penambat N simbiotik yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan (legume). Sedangkan Azotobacter adalah mikroba penambat N non simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa jumlah BPN Rhizobium sp pada lapisan pertama, kedua dan ketiga berturut-turut adalah 178.105,14.105 dan 145.105. Pada lapisan kedua paling sedikit karena tanaman pada lapisan ini kebanyakan adalah tanaman perdu (non-legum) sehingga rhizobium tidak bersimbiose dengan tanaman legum. Untuk jumlah BPN Azotobacter sp pada lapisan pertama, kedua dan ketiga adalah 9.105, 89.105 dan 128.105. Jumlah azotobacter pada lapisan ketiga paling tinggi karena pada lapisan ini banyak terdapat akar tanaman sedangkan azotobacter hidup pada daerah perakaran (rhizosfere) baik tanaman legum maupun non legum.

Faktor-faktor yang mempengaruhi BPF dan BPN antara lain sterilisasi, yaitu usaha membebaskan alat atau bahan dari segala macam kehidupan terutama mikrobia, pH maupun suhu yang tidak konstan. Pelarutan P dan N membantu dalam penyediaan unsur tersebut dalam tanah. Bila bakteri tersebut merupakan BPF maka di sekitar koloni pada media pikovskaya berwarna bening dan bila merupakan BPN maka bakteri pada media Jennsen berwarna bening. BPN dan BPF sangat penting dalam proses dekomposisi pada umumnya dan proses pembusukan kompos pada khususnya karena dengan adanya mikrobia, semakin banyak maka semakin cepat terdekomposisi.

Dari hasil penyaringan didapatkan spora yang teridentifikasi adalah jenis Gigaspora sp yang mempunyai ukuran berkisar 200-400mm, berbentuk bulat bola (bulbous) dan berwarna merah kehitaman dengan jumlah sebanyak 2 buah. Dalam praktikum kali ini hanya ditemukan sedikit spora, hal ini mungkin disebabkan karena penyaringan yang terlalu jernih , sehingga spora ikut larut dalam air yang dibuang pada saat penyaringan sebelumnya, ataupun bisa juga karena penyaringan yang terlalu kasar sehingga spora yang ada menjadi pecah. Spora-spora di dalam tanah berfungsi untuk menyelubungi akar sehingga akar bisa berasosiasi dengan miselium cendawan tertentu dan membentuk suatu simbiosis yang menguntungkan, dan menyebabkan penyerapan unsur hara oleh akar tanaman tersebut menjadi lebih baik.

Pada praktikum kali ini, pengecatan akar menggunakan akar tanaman jagung dan acara ini digunakan akar yang tidak berpigmen. Pengecatan memungkinkan struktur sel mikroba terlihat lebih seksama. Pengecatan berfungsi untuk memberi warna pada sel atau bagian-bagiannya sehingga menambah kontras dan terlihat dengan jelas. Fungsi pengecatan juga untuk menunjukkan bagian-bagian struktur sel, menunjukkan distribusi dan susunan kimia bagian-bagiannya misalnya konstituen sel, pembeda mikrobia satu dengan yang lain, menentukan pH dan potensial oksidasi reduksi ekstra seluler dan intra seluler. Tujuan dari pengecatan ini adalah untuk menentukan prosentase infeksi VAM pada korteks akar. Pada pengamatan ditemukan adanya hifa (arbuskular) dan infeksi (vesicular) Prosentase akar yang terinfeksi VAM adalah 10 %.  Adanya akar yang terinfeksi dibuktikan dengan adanya selubung-selubung pada ujung akar. VAM merupakan simbiosa antara jamur tanah yang termasuk kelompok endogonales dengan semua tanaman yang termasuk dalam Bryophyta, Pteridophyta, Gymnospermae dan Angiospermae, kecuali pada famili Cruciferae, Chenopodiaceae, Cyperaceae yang belum diketahui adanya simbiose dengan jamur tersebut.

Dari hasil praktikum dan pengamatan di lapang, diketahui bahwa populasi biota tanah jumlahnya sedikit, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

1.      Jenis tanah

Jenis tanah pada lokasi praktikum tergolong tanah Inceptisols. Tanah ini termasuk tanah muda dan mulai berkembang serta pembentukan horisonnya agak lambat. Solumnya dangkal karena berada pada kemiringan yang ekstrim curam yang menyebabkan tingkat erosinya tinggi dan banyak kehilangan unsur hara sehingga kesuburan tanahnya rendah. Untuk itu, tanaman yang cocok untuk lokasi tersebut adalah tanaman tahunan atau tanaman permanen untuk menjaga kelestarian tanah.

2.      Pengolahan tanah

Pengolahan tanah yang dilakukan petani di lokasi tersebut cenderung menggunakan pupuk kimia yang cukup tinggi. Petani juga membabat tanaman penyumbang bahan organik seperti lamtoro, pohon jati, dan sebagainya sehingga seresah yang dihasilkan oleh tanaman tersebut berkurang. Seharusnya tanah diolah dengan menambahkan bahan organik, dapat berupa penggunaan pupuk organik.

3.      Sistem tanaman

Sistem tanaman yang diusahakan petani di lokasi tersebut adalah tanaman  semusim. Padahal dengan kemiringan lahan yang ekstrim curam, seharusnya ditanami tanaman tahunan yang memiliki perakaran yang kuat dan dalam. Untuk alternatifnya, dapat ditanami tanaman penutup berupa tanaman semusim diantara tanaman tahunan. Sistem tanaman ini merupakan sistem agroforestri.

 

 

III. PENUTUP

 

Tanah sebagai media pertumbuhan tanaman mampu menyediakan sumber bahan organik selama bertahun-tahun yang dapat didaur ulang untuk nutrisi tanaman. Fauna tanah memainkan peran utama sebagai pengubah bahan organik menjadi bentuk senyawa lain yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Sifat tanah yang penting dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah kesesuaiannya sebagai media pertumbuhan akar tanaman.

Pengamatan makrofauna tanah bertujuan untuk mengetahui populasi makrofauna tanah di bawah tegakan tanaman yang berbeda. Pengamatan makrofauna dilakukan 2 metode yaitu dengan metode kuadrat (monolith) dan metode perangkap jebak. Metode kuadrat merupakan metode pengambilan sample cacing dengan pembuatan monolith. Metode perangkap jebak menggunakan pittfall trap.

Dengan mengetahui evolusi CO2 maka dapat digunakan untuk menentukan tingkat aktivitas mikroorganisme pada berbagai ordo tanah. Indikator yang digunakan adalah KOH dan NaOH yang berfungsi untuk menangkap CO2 hasil evolusi dan air. HCl digunakan untuk menentukan jumlah CO2 yang difiksasi, sedangkan larutan BaCL2 untuk menghentikan reaksi.

Untuk menumbuhkan BPN dan BPF diperlukan medium dan syarat-syarat yang sesuai agar tidak terjadi kontaminasi. Medium yang digunakan pada praktikum, medium umum, yaitu PDA (untuk menumbuhkan jamur) dan NA (menumbuhkan bakteri) dan medium selektif, yaitu pikovskaya (untuk mengetahui adanya BPF) dan medium Jensen (untuk mengetahui adanya BPN).

Mikoriza merupakan asosiasi akar tanaman tingkat tinggi dengan jenis jamur tertentu, dimana asosiasi ini merupakan simbiose mutualisme. Adanya mikoriza dalam suatu tanaman akan sangat menguntungkan pada tanaman tersebut karena dapat lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas unsur hara yang diserap oleh akar tanaman tersebut.

Jenis tanah pada lokasi praktikum biologi tanah yaitu tanah Inceptisols. Tanah Inceptisols adalah tanah muda dan mulai berkembang. Tanah ini mempunyai horison yang pembentukannya agak lamban sebagai alterasi bahan induk  Tanah ini mempunyai tingkat kesuburan yang rendah, hal ini dikarenakan daerah tersebut mempunyai tingkat kemiringan yang ekstrim curam dan sering terjadi erosi sehingga tanah yang paling atas kehilangan topsoilnya. Selain itu, tanaman berkayu keras seperti lamtoro di pangkas habis dan penyumbang seresah berkurang sehingga makanan bagi biota tanah juga berkurang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2005. bakteri penambat N. http://warintek.progressio.or.id. Diakses pada tanggal 3 Desember 2007.

 

Anonim. 1979. Praktek Mikrobiologi Hasil Pertanian. Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

Buckman, O.H. 1982. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.

Foth, H. D. 1994. Ilmu Tanah. Pustaka Buana. Bandung.

Handayanto, E. 1998. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang

Haster. 1995. Ikhtisar Biologi. Pionir Jaya. Bandung.

Purwati, A. 2005. Cacing Tanah Menyuburkan Tanah. http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita (Diakses tanggal 24 Desember 2007)

Waksman, Selman A. 1961. Soil Microbiology. John Willey and Sons, Inc. New York. London.

 

 

 

 

MAKALAH SEMINAR PROPOSAL
Mahasiswa S1 Reguler

PENGARUH TEKNOLOGI KONSERVASI HEDGEROWS PADA TERAS BATU DAN BANGKU MIRING TERHADAP MIKROFLORA TANAH DAN HASIL TANAMAN TEMBAKAU (Nicotiana tobacum L.) DI SUB-DAS PROGO HULU

Usulan Penelitian untuk Skripsi
Diajukan kepada :
Jurusan/Program Studi Ilmu Tanah

Disusun oleh :
FITRI SERTIA MAYANTI
H 0205034

Pendamping Utama : Ir. Sudadi, MP.
Pembimbing Pendamping : Ir. Joko Suyono, MSi

JURUSAN/PROGRAM STUDI ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Degradasi lahan masih menjadi salah satu masalah saat ini dalam usahatani yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya erosi, pengurasan hara, dan alih fungsi lahan yang mengakibatkan penurunan kualitas tanah, baik dari segi fisik, kimia, maupun biologi tanahnya. Degradasi lahan akan berpengaruh pada penurunan kesuburan tanah.
Wilayah Sub-DAS Progo Hulu merupakan bagian dari kabupaten Temanggung penghasil tembakau yang memiliki nilai komparatif tinggi dan telah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sejak masa lalu secara turun temurun. adanya peningkatan permintaan akan tembakau sebagai bahan baku rokok kretek, menyebabkan petani menambah areal tanam tembakau ke puncak-puncak gunung Sumbing dan Sindoro dengan kemiringan lereng > 30%. Teknik budidaya tanaman tembakau pada kemiringan lereng curam yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan air menyebabkan terjadinya erosi sehingga memacu terjadinya degradasi lahan.
Berdasarkan peta tingkat bahaya erosi, dapat dikriteriakan bahwa empat sentra penanaman tembakau (Lamuk, Lamsi, Paksi, dan Toalo) termasuk daerah dengan tingkat bahaya erosi yang berat sampai sangat berat (Fak. Geografi UGM dan Sub-BRLKT Opak-Progo, 1987 dalam Djajadi, 2000). Hal ini karena kondisi topografinya yang mempunyai kelerengan curam > 30% dengan intensitas hujan yang cukup tinggi. Lahan yang baik untuk tingkat kelerengan seperti itu seharusnya ditanami dengan tanaman tahunan yang mempunyai perakaran yang dalam sehingga dapat berfungsi sebagai perlindungan hidrologis.
Menurut Good Governance in Water Resource Managemet- European Union (GGWRM-EU) (2004) cit Suyana (2009), Sub-DAS Progo Hulu merupakan Sub DAS di wilayah Kabupaten Temanggung yang menempati urutan peringkat pertama dalam prioritas penanganan lahan kritis, dimana saat ini memiliki lahan kritis dan sangat kritis seluas 3.029 ha atau 12,9% dari luas wilayahnya dan menyebar terutama pada lahan yang digunakan untuk usahatani berbasis tembakau. Erosi yang terus terjadi di wilayah tersebut telah menyebabkan degradasi lahan yang berupa kerusakan lahan dan menurunnya kesuburan tanah. Kerusakan lahan ditandai dengan hilangnya lapisan top soil serta kenampakan alur-alur (gully) erosi dan bahan induk tanah. Penurunan kesuburan tanah ditandai dengan kebutuhan pupuk kandang dari tahun ke tahun yang semakin meningkat. Peningkatan kebutuhan pupuk kandang meningkat dari sekitar 22,5 ton/ha pada tahun 1988 menjadi 48 ton/ha pada tahun 2000 (djajadi, 2000). Hal ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan mikroflora yang berada didalam tanah berkurang karena kondisi lingkungan mikro yang tidak stabil seperti suhu tanah yang berubah menjadi panas begitu pula dengan kelembaban dan kadar air tanahnya.
Dilihat dari segi keadaan fisik didaerah sub-DAS Progo Hulu dan makin tingginya permintaan akan hasil tanaman tembakau, dibutuhkan suatu paket teknologi konservasi yang bertujuan untuk mengendalikan erosi dan rehabilitasi untuk meningkatkan produktivitas lahan. Teknologi konservasi hedgerows merupakan salah satu komponen konservasi yang memadukan antara tindakan konservasi secara mekanik dan vegetatif dengan adanya pembuatan pagar-pagar hidup yang diatur mengikuti garis kontur. Teknologi konservasi hedgerows mempunyai multifungsi diantaranya selain untuk menekan tingkat erosi, juga dapat merehabilitasi kesuburan tanah sehingga dapat meningkatkan keberadaan mikroflora tanah yang merupakan salah satu indikator dari kualitas tanah.
Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang sangat menguntungkan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, mendaur ulang hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen dan membantu penyerapan unsur hara (Gunarto, 1990).
Berdasarkan permasalahan diatas diperlukan penelitian tentang pengaruh dari jenis teras dan tipe hedgerows terhadap mikroflora tanah dan hasil tanaman tembakau (Nicotiana tobacum L.) di sub-DAS progo hulu.
B. Perumusan Masalah
Bagaimanakah pengaruh dari teknologi konservasi Hedgerows pada teras batu dan teras bangku miring terhadap mikroflora tanah dan hasil tanaman tembakau (Nicotiana tobacum L.) di sub-DAS progo hulu?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari teknologi konservasi Hedgerows pada teras batu dan teras bangku miring terhadap mikroflora tanah dan hasil tanaman tembakau (Nicotiana tobacum L.) di sub-DAS progo hulu.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini mempunyai manfaat untuk memberi masukan, rekomendasi dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai teknologi konservasi tanah dan air yang terbaik pada lahan tembakau di Sub-DAS Progo Hulu.
E. Hipotesis
Ho : Penerapan teknologi konservasi Hedgerows dengan menggunakan teras batu dan bangku miring berpengaruh nyata terhadap mikroflora tanah dan hasil tanaman tembakau.
Hi : Penerapan teknologi konservasi Hedgerows dengan menggunakan teras batu dan bangku miring berpengaruh tidak nyata terhadap mikroflora tanah dan hasil tanaman tembakau.

II. METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Sub-DAS Progo Hulu Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada bulan April-September 2009. Analisis tanah dilaksanakan di laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan Biologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
B. Bahan dan Alat Penelitian
1. Data
a. Peta tanah, peta administrasi dan peta penggunaan lahan Sub-DAS Progo Hulu Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, skala 1: 50.000
b. Data pendukung berupa data iklim, curah hujan, kelembaban udara, temperatur udara.
2. Bahan Kemikalia
Analisis laboratorium
a. Analisis Tanah Awal
Bahan-bahan kemikalia untuk analisis tanah di laboratorium yang meliputi Tekstur, Bulk Density (BV), Kadar Lengas, Bahan Organik, pH, Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), N total, P dan K Tersedia Tanah.
b. Analisis mikroflora perakaran
Bahan-bahan kemikalia untuk menganalisis populasi/jumlah mikroflora yang ada di daerah perakaran tanaman tembakau dengan cara menginokulasinya di media PDA dan NA.
3. Alat
a. Alat di lapang
- Plastik
- Klinometer
- Kompas
- Tali rafia
- Kulbox
- Cetok
- Botol semprot + alkohol
- Alat tulis
b. Alat di Laboratorium
- Erlenmeyer
- Gelas piala
- Pengaduk
- Gelas ukur
- Alat pengering (Oven)
- Eksikator
- Petridish
- Coloni Counter
- Timbangan analitik
C. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan 2 faktorial yaitu jenis teras dan perlakuan Hedgerows, sehingga didapat delapan kombinasi perlakuan. Pendekatan variabel disusun dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang diulang tiga kali sebagai kelompok (blok). Pengelompokan disusun berdasarkan kemiringan lereng, yaitu: >30-45%, >45-60%, dan >60% menggunakan metode Hedgerows (penggabungan mekanik dan biologi). Adapaun kombinasi perlakuan tersebut sebagai berikut:

Perlakuan Kombinasi Perlakuan
Teras Hedgerows

Teras Batu (TB) Pola Petani (tanpa Hedgerows) (0) TB0
rumput Setaria spacelata pada guludan kecil setinggi 5-10 cm di samping atas tumpukan batu + mulsa batang tembakau dosis 50% (7-12 ton/ha) (1)
TB1
Setaria spacelata pada guludan kecil setinggi 5-10 cm di samping atas tumpukan batu + mulsa batang tembakau dosis 100 % (14-24 ton/ha) (2)
TB2
Tumpang sari Koro merah dan tembakau pada teras batu + mulsa batang tembakau dosis 50% (7-12 ton/ha) (3)
TB3

Teras Bangku Miring (TM) Pola Petani (tanpa Hedgerows) (0) TM0
rumput Setaria spacelata pada bibir teras + mulsa batang tembakau dosis 50 %(7-12 ton/ha) (1) TM1
Setaria spacelata pada bibir teras + mulsa batang tembakau dosis 100 % + mulsa batang tembakau dosis 100 % (14-24 ton/ha) (2)

TM2
Tumpang sari Koro merah dan tembakau pada teras bangku miring + mulsa batang tembakau dosis 50% (7-12 ton/ha) (3)

TM3

D. Tata Laksana Penelitian
Tata laksana dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Studi pustaka awal untuk mengkaji hal-hal yang berhubungan dengan penelitian ini.
2. Mengumpulkan data-data sekunder seperti peta penggunaan lahan dan peta administrasi.
3. Penentuan lokasi dan Persiapan plot erosi (petak erosi) dan perlakuan yang telah dirancang pada areal yang telah ditentukan dan penanaman rumput Setaria spacelata pada bibir teras dan koro merah yang akan ditumpangsarikan di lahan tembakau.
4. Pengambilan sampel awal untuk analisis awal sifat fisika dan kimia tanah dengan cara mengambil contoh tanah pada kedalaman 0 – 30 cm pada titik lokasi yang sudah ditentukan.
5. Analisis di laboratorium, diantaranya:
a. Sifat fisika tanah:
 Tekstur tanah dengan metode hidrometer (Balai Penelitian Tanah, 2005)
 Kadar lengas tanah (Balai Penelitian Tanah, 2005)
 Berat volume (BV) tanah (Balai Penelitian Tanah, 2005)
b. Sifat kimia tanah
 pH tanah dengan metode Elektrometri (Balai Penelitian Tanah, 2005)
 Kapasitas Pertukaran Kation (KTK) dengan metode Ekstrak Amonium Asetat (Balai Penelitian Tanah, 2005)
 Bahan Organik tanah dengan metode Walkey-Black (Balai Penelitian Tanah, 2005)
 N-total tanah metode Kjehdal (Balai Penelitian Tanah, 2005)
 P-tersedia tanah metode Bray I (Balai Penelitian Tanah, 2005)
 K-tersedia tanah metode ekstrak HCl 25% (Balai Penelitian Tanah, 2005)
6. Pengambilan sampel tanah dan pengamatan mikroflorafauna tanah menggunakan metode Plate Count (Iswandi, 1989) di Laboratorium Biologi Tanah.
7. Analisis data pertumbuhan tanaman tembakau, rumput Setaria spacelata dan koro merah.
8. Pengumpulan analisis data keseluruhan, interpretasi dan penyajian data
9. Pembuatan dan penyusunan laporan.
E. Variabel Pengamatan
Variable yang diamati meliputi :
1. Variabel utama
a. Mikroflora tanah, meliputi jumlah bakteri dan jamur perakaran tanaman
b. Data Pertumbuhan Tanaman
1. Pengamatan Tanaman Tembakau dilakukan setiap bulan selama 3 bulan berturut-turut, meliputi :
• Parameter Pertumbuhan (tinggi batang, lingkaran batang, panjang akar, jumlah daun, lebar dan panjang daun).
• Berat segar dan berat kering tembakau sisa panen.
2. Tanaman Rumput Setaria spacelata meliputi berat rumput segar dan kering yang dilakukan setiap bulan selama 3 bulan berturut-turut.
3. Tanaman Koro Merah meliputi Parameter Pertumbuhan (tinggi batang, lingkaran batang, panjang akar, jumlah daun, lebar dan panjang daun), bintil akar setiap bulan selama 3 bulan berturut-turut.
2. Variabel Pendukung
a. Keragaman Makrofauna tanah
b. Sifat fisik tanah diantaranya tekstur, Bulk Density (BV) dan kadar lengas tanah
c. Sifat kimia tanah diantaranya pH, C-organik, Kapasitas Pertukaran Kation (KTK), N-total, P tersedia, dan K tersedia tanah.
F. Analisis data
a. Analisis data mikroflora tanah
Data hasil penelitian dianalisis dengan uji F untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Sedangkan untuk membedakan kombinasi-kombinasi perlakuan digunakan Uji Rerata Perlakuan menggunakan uji DMRT.
b. Analisis Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Tembakau
Analisis pertumbuhan dilakukan pada saat tanaman Tembakau berumur 30 HST, 60 HST, 90 HST dan saat panen. Untuk analisis produksinya dilakukan setelah panen.
c. Analisis Produksi Rumput Setaria spacelata
Analisis produksi rumput Setaria spacelata dilakukan pada saat pemangkasan rumput.
d. Analisis Produksi tanaman Koro Merah
Analisis produksi tanaman koro merah dilakukan saat panen.
KERANGKA BERPIKIR

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Rapuhnya Daya Dukung Lingkungan Daerah Aliran Sungai Progo. http://mannusantara.blogspot.com/2008_03_01_archive.html. Diakses Tanggal 20 Februari 2009.
Djajadi. 2000. Erosi dan Usaha Konservasi Lahan Tembakau di Temanggung. Monograf Balittas No.5. Tembakau Temanggung. Balittas, Malang. hal: 40-46.
Balai Penelitian Tanah. 2005. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Deptan. Bogor.
Gunarto, Lukman. 1990. Tanah Dan Kesuburan. Dalam http:// http://www.geocities.com/sonnywinata/allaboutTGH.html – 37k. Diakses pada tanggal 14 April 2009.
Suyana, J. 2003. Penerapan Teknologi konservasi Hedgerows Untuk Menciptakan Sistem Usahatani Lahan Kering Berkelanjutan. Diakses tanggal 10Maret 2009.
Suyana, J. 2009. Perencanaan Pertanian Konservasi Pada Usahatani Lahan Kering Berbasis Tembakau Di Sub-DAS Progo Hulu (Kabupaten Temanggung Propinsi Jawa Tengah). Draf Disertasi. Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.

tugas paper kelompok untuk mata kuliah Hukum Politik Agraria, yang dibuat oleh mahasiswa ilmu tanah 2005 (MIT05) di fakultas pertanian universitas sebelas maret,…..

KASUS SENGKETA TANAH MERUYA SELATAN, JAKARTA BARAT

PENDAHULUAN

Indonesia adalah Negara yang berdasar hukum, maka semua aspek kehidupan bermasyarakat diatur oleh hukum yang diwujudkan dalam peraturan perundang undangan. Masyarakat dalam suatu Negara hukum akan menyelesaikan masalahnya dalam suatu lembaga peradilan yang diatur khusus oleh undang undang. Begitu pula dengan pertanahan yang mempunyai undang-undang politik agrarian (UUPA). Namun, sengketa tanah yang terjadi di Indonesia tidak pernah berakhir, selalu ada permasahalan terkait masalah kepemilikan tanah dan hak guna pakainya. Bahkan menurut Saidin (2002), bahwa pada catatan statistik pengadilan di Indonesia, kasus-kasus sengketa pertanahan di peradilan formal menempati urutan pertama bila dibandingkan dengan kasus-kasus lainnya.

Masalah sengketa tanah tidak akan ada habisnya karena tanah mempunyai arti sangat penting bagi kehidupan manusia. Selain sebagai tempat untuk tinggal, tanah juga digunakan sebagai tempat mengadakan aktivitas ekonomi, jalan untuk kegiatan lalu lintas, perjanjian dan yang pada akhirnya sebagai tempat tinggal masa depan (kuburan).

Menurut Lovetya (2008), faktor penyebab dari konflik di bidang pertanahan antara lain adalah keterbatasan ketersediaan tanah, ketimpangan dalam struktur penguasaan tanah, ketiadaan persepsi yang sama antara sesama pengelola negara mengenai makna penguasaan tanah oleh negara, inkonsistensi, dan ketidaksinkronisasian antara undang-undang dengan kenyataan dilapang seperti terjadinya manipulasi pada masa lalu yang mengakibatkan pada era reformasi sekarang ini muncul kembali gugatan, dualisme kewenangan (pusat-daerah) tentang urusan pertanahan serta ketidakjelasan mengenai kedudukan hak ulayat dan masyarakat hukum adat dalam sistem perundang-undangan agraria.

Menurut Fia (2007), faktor penyebab munculnya permasalahan tentang kasus sengketa tanah antara lain Harga tanah yang meningkat dengan cepat, kondisi masyarakat yang semakin sadar dan peduli akan kepentingan dan haknya, iklim keterbukaan yang digariskan pemerintah.

Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor utama penyebab adanya kasus sengketa tanah yakni luas tanah yang tersedia terbatas, tapi di sisi lain kebutuhan akan tanah meningkat sehingga nilai tanah lebih besar. Selain itu masalah pengaturan, penguasaan, dan pemilikan yang pengendaliannya belum efektif.

Kasus konflik pertanahan seperti sengketa tanah hampir terjadi seluruh penjuru tanah air indonesia. Setelah diusut dan diteliti semua kasus sengketa tanah yang terjadi menunjukkan pola sengketa yang sebangun. Berbagai kasus pertanahan yang menyangkut nasib ribuan warga itu pun dikenal memakan waktu lama dan terasa menggetirkan dalam proses penyelesaiannya.

ISI

Banyak masalah sengketa tanah yang terkadang selalu memberikan kerugian kepada orang yang seharusnya tidak bersalah misalnya warga (rakyat biasa) yang bersengketa dengan  suatu instansi yang mempunyai wewenang dan kekuasaan, karena carut-marutnya hukum pertanahan Indonesia sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa. Dari mulai pungli (pungutan liar), korupsi sampai kearah mafia pertanahan yaitu juga melibatkan lembaga peradilan kita.

v     Contoh kasus yang disebabkan dari carut-marutnya hukum pertanahan di indonesia:

Sengketa tanah meruya selatan (jakarta barat) antara warga (H. Djuhri bin H. Geni, Yahya bin H. Geni, dan Muh.Yatim Tugono) dengan PT.Portanigra pada tahun 1972 – 1973 dan pada putusan MA dimenangkan oleh PT. Portanigra. Tetapi proses eksekusi tanah dilakukan baru tahun 2007 yang hak atas tanahnya sudah milik warga sekarang tinggal di meruya yang sudah mempunyai sertifikat tanah asli seperti girik.

Kasus sengketa tanah meruya ini tidak luput dari pemberitaan media hingga DPR pun turun tangan dalam masalah ini. Selama ini warga meruya yang menempati tanah meruya sekarang tidak merasa punya sengketa dengan pihak manapun. Bahkan tidak juga membeli tanah dari PT Portanigra,namun tiba-tiba saja kawasan itu yang ditempati hampir 5000 kepala keluarga atau sekitar 21.000 warga akan dieksekusi berdasarkan putusan MA. Tidak hanya tanah milik warga, tanah milk negara yang di atasnya terdapat fasilitas umum dan fasilitas sosialpun masuk dalam rencana eksekusi. Hal ini dikarenakan sengketa yang terjadi 30 tahun lalu, tetapi baru dilakukan eksekusinya tahun 2007, dimana warga meruya sekarang mempunyai sertifikat tanah asli yang dikeluarkan pemerintah daerah dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Disini terbukti adanya ketidaksinkronan dan kesemrawutan hukum pertanahan indonesia yang dengan mudahnya mengeluarkan sertifikat tanah yang masih bersengketa.

Kasus sengketa tanah ini berawal pada kasus penjualan tanah meruya dulu antara PT. Portanigra dan H Djuhri cs berawal dari jual beli tanah tanah seluas 44 Ha  pada 1972 dan 1973. Ternyata H Djuhri cs ingkar janji dengan menjual lagi tanahnya kepada pihak lain sehingga mereka dituntut secara pidana (1984) dan digugat secara perdata (1996).

Sengketa tanah yang dimulai sejak lebih dari 30 tahun yang lampau bukanlah kurun waktu singkat. Selama itu sudah banyak yang berubah dan berkembang, baik penghuni, lingkungan sekitar, institusi terkait yang menangani, pasti personelnya sudah silih berganti. Warga merasa memiliki hak dan ataupun kewenangan atas tanah meruya tersebut. Mereka merasa telah menjalankan tugas dengan baik seperti membayar PBB atas kepemilikannya dan tidak mau disalahkan, tidak ingin kehilangan hak miliknya.

Situasi dan kondisi lapangan pada 1972 tentunya berbeda sama sekali dengan sekarang. Cara-cara melakukan penilaian dan mengambil langkah-langkah penindakan 30 tahun yang lalu pada saat ini telah banyak berubah. Paradigma masa lalu bahwa warga banyak yang belum memiliki sertifikat akan berhadapan dengan program sertifikasi yang memberi kemudahan dalam memperoleh sertifikat tanah.

Dalam hal ini terlihat kesemrawutan hukum pertanahan oleh aparat pemerintah daerah dan Badan Pertanahan Tanah (BPN) yang bisa menerbitkan sertifikat pada tanah yang masih bersengketa. Selain itu, PT. Portanigra yang tidak serius dalam kasus sengketa tanah ini. PT. Portanigra yang menang dalam putusan MA pada tahun 1996 tidak langsung mengeksekusi tanahnya, baru 11 tahun kemudian yakni tahun 2007 baru melaksanakan eksekusi tanahnya yang lahan sudah di tempati warga meruya sekarang dengan sertifikat tanah asli. Dengan kata lain di sengketa meruya ada mafia tanah yang terlibat.

v     Penyelesaian kasus sengketa tanah meruya

Pihak PT. Portanigra bernegoisasi dengan warga yang dihasilkan adalah pemilik kuasa yakni PT. Portanigra mengikhlaskan tanahnya yang sudah di warga sebelum tahun 1997 yang memiliki sertifikat tanah asli. Warga yang menampati tanahnya tahun 1997 keatas tidak bisa diukur kecuali mereka mempunyai surat jual-beli tanah dengan pemilik sebelumnya.

Keputusan dari pengadilan negeri Jakarta Barat bahwa PT. Portanigra hanya bisa mengelola lahan kosong sehingga tidak menggangu warga dan kampus Mercu Buana, sedangkan Meruya Residence lebih tenang karena sudah membeli langsung hak kepemilikan tanah ke PortaNigra.

v     Pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini

  1. proses sengketa tanah untuk mencari keadilan yang berlangsung 30 tahun lalu tidak menghasilkan keadilan yang diharapkan, bahkan justru menimbulkan ketidakadilan baru. Sehingga Tidak ada penanggung jawab tunggal untuk disalahkan kecuali berlarut-larutnya waktu sehingga problema baru bermunculan
  2. putusan pengadilan seharusnya dapat dilaksanakan dengan cara-cara mudah, sederhana, dan mengikutsertakan institusi terkait. Sistem peradilan Indonesia memiliki asas yang menyatakan bahwa proses peradilan dilaksanakan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Putusan yang jelas-jelas sulit atau tidak bisa dilaksanakan dapat mencederai kredibilitas lembaga peradilan.
  3. pihak ketiga yakni warga yang menempati tanah tersebut dengan sertifikat tanah yang asli harus beriktikad baik (apalagi tidak tahu sama sekali mengenai adanya sengketa) seharusnya memperoleh pertimbangan hukum. Jangan sampai mereka menjadi korban atau dikorbankan sebab dapat menimbulkan gejolak serta problem kemasyarakatan yang sifatnya bukan sekedar keperdataan.
  4. perlu dilakukan penelitian apakah prosedur pembebasan tanah pada saat itu telah sesuai ketentuan, siapakah yang membayar pajak (PBB) atas tanah sengketa. Juga dilakukan penyelesaian atas tanah sengketa yang akan dieksekusi apabila ternyata telah menjadi sarana umum: sekolah, lapangan bola, perkantoran, puskesmas, ataupun kompleks pertokoan.

PENUTUP

Pada kasus sengketa tanah meruya ini antara PT. Portanigra dan warga duduk bersama melalui musyawarah mufakat untuk mencapai solusi yang dilandasi akal sehat merupakan penyelesaian yang lebih baik daripada saling menyalahkan secara emosional.

Dalam menyelesaikan kasus sengketa tanah ada beberapa jalur hukum yang dapat ditempuh seperti gugatan perlawanan oleh pihak ketiga yang merasa mempunyai hak (telah dilakukan), mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) oleh para pihak yang bersengketa seperti antara PT. Portanigra denga hj djuhri cs, mengajukan gugatan baru oleh para pihak yang merasa dirugikan dalam permasalahan sengketa. Untuk memperjuangkan hak-haknya seyogianya warga melandasinya dengan surat-surat yang kuat (sertifikat), batas-batas tanah jelas, asal-usulnya dapat ditelusuri serta tidak terkena sengketa.

Kasus Meruya memberi pembelajaran tentang proses hukum yang tidak boleh berlarut-larut, pentingnya sertifikat dalam kepemilikan tanah, tentang putusan pengadilan serta pelaksanaannya yang berkeadilan, dan juga perlunya kerja sama antara pengadilan dan lembaga negara yang menangani masalah pertanahan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Sengketa Tanah Yang Aneh. Dalam Http:/// Mata – Mata Jakarta www.jakartahariini.com. Diakses pada tanggal 8 juni 2009.

Arif. 2007. Sengketa Tanah Meruya. Dalam http:/// arif72.multiply.com/journal/item/3. Diakses Pada Tanggal 8 juni 2009.

Fia S. Aji. 2007. Penyelesaian Sengketa Pertanahan di Indonesia. Dalam http:/// www.fiaji.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 juni 2009

LMPDP (Land management adn policy Development Project). 2008. Pengembangan Kebikajan Pertanahan. DlM HTTP:/// http://www.landpolicy.or.id/kajian/13/tahun/2008/bulan/01/tanggal/11/id/73/ -. Diakses pada tanggal 8 juni 2009.

Lovetya. 2008. “Hak Milik atas Tanah” Pengaturan Hak Milik atas Tanah dan Pendaftaran  Tanah. Dalam http:///www. lovetya.wordpress.com/2008/12/24/pengaturan-hak-milik-atas-tanah-dan-pendaftaran-tanah. Diakses pada tanggal 8 juni 2009.

Oleh: fitri05 | Juni 21, 2009

tanah spodosols

ini merupakan paper kelompok  tugas mata kuliah pedologi yang dibuat oleh anak angkatan 2005 yang mengambil kuliah pedologi 2009, dengan dosen pengampu: Ir. Sudjono Utomo, MS. ini kami buat bersama ketika di laboratorium Biologi tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret…….

MIT05 UNS

Pedosfer atau tanah adalah lapisan kulit bumi yang tipis terletak di bagian paling atas permukaan bumi. Tanah merupakan suatu gejala alam permukaan daratan yang membentuk suatu zone dan biasa disebut pedosfer, tersusun atas bahan lepas berupa pecahan dan lapukan batuan bercampur dengan bahan organik (Notohadiprawiro, 1993). Dokuchaiev (1870) dalam E-dukasi.net mengatakan bahwa tanah adalah suatu benda fisis yang berdimensi tiga terdiri dari panjang, lebar, dan dalam yang merupakan bagian paling atas dari kulit bumi dan mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan bahan yang ada di bawahnya sebagai hasil kerja interaksi antara iklim, kegiatan oganisme, bahan induk dan relief selama waktu tertentu.

Seperti definisi diatas tanah tercipta dari hasil interaksi antara iklim, kegiatan oganisme, bahan induk dan relief seiring dari berjalannya waktu. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa ada lima faktor pembentuk tanah yaitu iklim, organisme, bahan induk, relief (topografi) dan waktu. Iklim, organisme dan waktu adalah faktor pembentuk tanah yang aktif, sedangkan bahan induk dan relief merupakan penyedia bahan dan tempat dalam proses pembentukan tanah.

Spodosols adalah tanah bertipe debu keabu-abuan horizon permukaan atas, hilangnya bahan organik dan besi oksida, dilapisan atas terbentuk akumulasi horizon gelap dengan warna kecoklatan, kemerahan, humus hitam teriluviasi dan  atau kemerahan yang mengandung Fe. Horizon penciri untuk spodosols adalah adanya horizon spodik baik lapisan atas merupakan lapisan olah yang berwarna gelap ataupun berupa horizon albik. Spodosols terjadi pada daerah humid di boreal (dingin) dan berlokasi di tropic.

Deskripsi Spodosols

Jenis tanah ini telah mengalami perkembangan profil, susunan horizon terdiri dari horizon albic (A2) dan spodic (B2H) yang jelas, tekstur lempung hingga pasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, kandungan pasir kuarsanya tinggi, sangat masam, kesuburan rendah, kapasitas pertukaran kation sangat rendah, peka terhadap erosi, batuan induk batuan pasir dengan kandungan kuarsanya tinggi, batuan lempung dan tuff vulkan masam.
horizon albik

Horizon albik

Horizon albik (dari bahasa latin albus, berarti putih) adalah horizon permukaan yang berwarna cerah dari lempung dan oksida bebas yang telah dipindahkan atau dalam oksida yang telah dipisahkan pada tingkat horizon warna yang dicirikan oleh warna partikel pasir dan debu lapisan lebih baik oleh lapisan pada partikel tersebut. Secara umum horizon ini mencirikan struktur tanah yang lemah atau perkembangan structural yang mudah pecah secara bersama-sama. Batas atas dan batas bawah normalnya jelas atau kasar. Morfologi dari batasan horizon ini bervariasi dan kadang-kadang diasosiasikan dengan albeluvic tonguing. Bagaimanapun juga horizon ini dinilai sebagai horizon yang mendasari horizon spodik, yang dapat berbeda mungkin hanya sebagai horizon yang tipis. Banyak horizon albik berasosiasi dengan kondisi jenuh dan terpengaruh oleh kondisi reduksi.

Horizon spodik

Horizon spodik (dari bahasa Yunani spodos yang berarti abu kayu) adalah horizon permukaan yang terdiri dari illuvial amorf yang kandungannya disusun oleh bahan organik dan Al atau dari illuvial Fe. Bahan illuvial ini dikarakteristikan oleh pH tinggi bergantung pada isi, area permukaan yang relative luas dan retensi air yang tinggi. Horizon spodik secara normal mendasari horizon albik dan memiliki warna hitam kecoklatan hingga coklat kemerahan. Horizon spodik juga dapat dikharakteristikan dari adanya keberadaan lempeng besi yang tipis, ketika perkembangannya lambat oleh keberadaan butiran organik atau oleh akumulasi Fe dalam bentuk lembaran.

Hubungan antara Horizon Spodik dan Horizon Albik

Horizon Spodik biasanya berasosiasi dengan horizon albik dimana keduanya mendasari oleh beberapa horizon lain yang mungkin adalah horizon anthrik, hortik, plaggik, terrik, atau horizon umbrik pada permukaannya.

Horizon spodik mungkin juga menunjukkan sifat andik yang memperlihatkan komplek alumino organik. Horizon spodik paling sedikitnya memiliki presentase Al oksida + ½ Fe oksida sebagai lapisan dasar dari sebuah horizon albik, anthrik, hortik, plaggik, terrik, atau horizon umbrik. Kriteria ini tidak nampak secara normal pada lapisan non spodik dengan ciri andik dimana terdapat komplek alumino organik yang sukar berpindah.

Podsolisasi

Proses pembentukan tanah yang utama adalah podsolisasi. Podsolisasi adalah kumpulan dari beberapa proses yang menghasilkan lapisan atas tanah atau lapisan bawah, karena pengaruh ion H+ dan senyawa-senyawa orgaik proses ini melalui urutan sebagai berikut :

  1. Akumulasi bahan organik

Akumulasi bahan organik terdapat dihorizon O, dan terdiri dari bahan organik jenis mor yaitu bahan organk yang masam (seresah dan humus). Akumulasi bahan organik juga terdapat dalam horizon Bhir atau Bh karena pencucian dari lapisan atas.

  1. Pencucian dan pemasaman

Pencucian karbonat-karbonat dan penggantian ion-ion dapat dipertukarkan Ca++, Mg++, K+ dan Na+ dengan H+ dan Al+++ pada horizon A merupakan prasyarat untuk pemindahan bahan organik, Fad an Al (dan sedikit P, dan Mn) ke horizon bawahnya.

  1. Pelapukan Mineral

Sumber Fe dan Al yang utama adalah dari pelapukan mineral ferromagnesium, feldspar, illite dan klorite, di horizon A, karena pengaruh bahan organik masam, tersebut pH turun menjadi kurang 5,0. keadaan yang masam ini mnyebabkan mineral tersebut menjadi lebih mudah lapuk. Bila besi tidak terdapat dalam jumlah yang cukup, horizon spodik umumnya terdiri dari kuarsa, dengan selaput humus seperti pada sub order Humod.

  1. Pemindahan bahan organik, Fe, Al (dan sedikit P, Mn, dan liat) dari horizon A ke horizon B

Fe dan Al lebih mudah bergerak dalam keadaan masam.

-         karena pemindahan bahan organik, Fe dan Al dari Horizon A maka terbentuklah horizon Albik (A2). Akibat pemindahan tersebut maka horizon albik merupakan tempat akumulasi ; (1) mineral-mineral sukar lapuk (kuarsa), (2) senyawa-senyawa yang sukar larut misalnya asam silikat (dehidratik), kuarsa sekunder dengan sedikit oksida titanium.

-         Fe dan Al dipindahkan secara kimia yang dimulai dengan proses reduksi kemudian dipindahkan dalam bentuk khelat atau kompleks dengan bahan organik ( asam fulvik atau asam humik).

-         Kadang-kadang terjadi pula pemindahan liat (Lessivage) bersama proses podsolisasi. Kadang-kadang juga dianggap pemindahan liat sebagai prasarat sebelum proses podsolisasi, karena dengan pemindahan liat horizon A menjadi lebih besar.

  1. Immobilisasi Fe dan Al bersama asam humic dan asam fulvik (dan liat) di horizon B

Pengendapan sesquioksida (Fe dan Al) dan bahan organik di horizon B terjadi dengan proses mekanik, kimia atau biologic.

Mekanik :

-         air perkolasi yang tidak mampu meresap lebih jauh mengendapkan bahan organik dan sesquioksida di horizon Bhir.

-         Efek penyaringan, menyebabkan koloid menutup pori tanah higga peresapan air terhambat. Bila ini terjadi maka horizon sopdik akan berkembang keatas kearah horizon albik.

Kimia :

-         muatan negative dari liat akan menghentikan gerakan Fe dan Al yang bermuatan positif

-         pengendapan AL dan FE dapat terjadi karena kandungan Fe dan Al dalam larutan di horizon spodik lebih besar kelarutan.

-         pH dilapisan bawah lebih tinggi sehingga Fe dan Al tidak mudah larut.

Biologi

-         dekomposisi bahan organik yang membentuk khelat denganFe danAl oleh bakteri dalam tanah menyebabkan Fe dan Al menjadi sukar larut dan mengendap.

  1. Pembentukan butirdari selaput organik

Asam humik akan berubah menjadi asam fulvik di horizon albik dengan bertambahnya gugusan fungsional yang mengandung oksigen. Asam ini kemudian bergerak kebawah ke horizon spodik bersenyawa dengan Fe dan Al yang sudah ada disitu, sehingga terbentuklah sub horizon organik berwarna hitam. Selaput bahan organik disekitar butir-butir tanah semakin tebal sehingga mudah retak bila kering. Hal ini akan mengahsilkan pembentukan butir dari selaput organik tersebut. Butir yang bersifat amorf tersebut dapat menyusut ke bawah melalui rongga-rongga sehingga daya menaha air tanah meningkat. Hal ini dapat terjadi penggantian vegetasi hutan konifera menjadi hutan dengantanaman berdaun lebar sehingga terjadi degradasi pada profil spodosol.

  1. penurunan berat jenis

proses pembentuakn spodosol tersebut telah menyebabkan berkurangnya berat jenis di horizon albik.

  1. pemadasan.

Pemadasan banayk terjadi pada spodosol. Beberapa jenis padas yang sering terdapat pada spodosol adalah :

Durinodes : bagian dari horizon albik yang memadas, bahan perekatnya adalah silica

Placik : padas besi yang tipis (1-10 mm) berwarna hitam hingga coklat kemerahan pada kedalaman kurang dari 50 cm dari permukaan tanah. Terdapat pada daerah tropis dan sub tropis.

Orstein : horizon spodik yang memadas. Mengandung 5-21 % Fe2O3 dan 2-15% MnO. Orstein ini merupakan bentukan konkresi dari Fe dan Mn yang tidak konsentris.

Fragipan : padas dibawah horizon spodik dengansementasi lemah hingga rapuh (mudah pecah). Bahan-bahan halus mengisi pori-pori sehingga berat jenisnya meninkat menjadi 1,92 gr/cc. fragipan berasal dari kata fragile yang berarti mudah pecah.

Penyebaran di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun tanpa bulan kering, topografi pegunungan. Daerahnya Kalimantan Tengah, Sumatra Utara dan Irian Jaya (Papua).

Spodosols adalah tanah yang berhorizon illuviasi spodik di bawah horizon permukaan yang mempunyai tampakan debu dan ditutupi oleh lapisan organik.

Bahan induk : spodosol yang terbentuk terutama di deposit-deposit yang berpasir hingga tanah liat yang kasar, deposit-deposit bereaksi asam, pada zaman Pleistocene dan atau Holocene. Beberapa material yang berasal dari bahan calcerous, karbonat-karbonat disaring dulu sebelum terbentuk horizon spodik. Kandungan dari mineral-mineral yang mengandung besi dan materi lainnya mempengaruhi jenis horizon spodik yang akan terbentuk (Munir, 1996). Bahan-bahan pelapukan dari batuan bersilika, termasuk daerah pegunungan es hingga daerah Aeolian yang kaya akan pasir kuarsa. Spodosols di daerah boreal (dingin) terjadi hampir di seluruh batuan.

Lingkungan : terutama pada suhu humid dan daerah boreal (dingin) di hemisphere bagian utara, pada tingkatan lahan lembah di bawah hutan koniferous; hutan humid tropic di bawah cahaya.

Perkembangan profil : kompleks Al, Fe dan kandungan organik berpindah dari permukaan tanah turun dengan perkolasi air hujan. Komplek logam humus presipitasi pada horizon spodik illuvial; lapisan horizon eluvial mengalami pencucian dan kebanyakan spodosolss memiliki horizon albic. Ini tertutupi oleh lapisan organik dimana horizon topsoils mengandung mineral gelap diadakan pada kebanyakan spodosolss boreal.

Daerah Penyebaran Spodosols

Spodosolss meliputi 485 juta hektar seluruh dunia, terutama di daerah bersuhu dan boreal hemisphere bagian utara. Mereka eksensif di Skandinavia, the northwest Federasi Rusia, dan Kanada. Disamping zonal Spodosolss, di sana lebih kecil terjadi intrazonal Spodosolss pada kedua daerah bersuhu dan tropic.

Spodosolss tropical terjadi kurang dari 10 juta hektar, terutama pada pelapukan sisa batuan pasir pada daerah perhumid dan pada pasir kuarsa alluvial, misalnya wilayah pengangkatan coastal.  Penyebaran Spodosolss tropical secara tepat belum diketahui; kejadian penting ditemukan di sepanjang Rio Negro dan French Guiana, Guyana, dan suriname di Afrika Selatan, di wilayah Malaysia (Kalimantan, Sumatra, dan Irian) dan di Australia bagian utara dan selatan. Spodosols juga tampak di wilayah Afrika secara umum tetapi dalam jumlah yang sedikit.

Management Dan Penggunaan Dari Spodosols

Zona spodosols terjadi dalam wilayah dengan kondisi iklim yang tidak berubah-ubah dari sebagian besar lahan yang diolah. Intrazonal spodosols digunakan secara frekuentif untuk penggunaan lahan yang diolah daripada zona spodosols, dan sebagian terdapat pada iklim sedang. Status keharaan yang rendah, level kelembaban yang rendah dan pH yang rendah membuat tanah spodosols menjadi tanah yang tidak atraktif untuk pengelolaan pertanian. Keracunan AL dan difesiensi P menjadi masalah yang umum. Pembajakan yang dalam (untuk meningkatkan kapasitas kelembaban dari tanah dan atau untuk menghilangkan horizon illuviasi atau hardpan), pengapuran dan pemupukan merupakan pendekatan untuk ameliorasi utama yang diambil.

Oleh: fitri05 | Juni 21, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.