Oleh: fitri05 | Januari 24, 2011

morfologi dan klasifikasi tanah

V. PEMBAHASAN

A.      PROFIL I

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil I ini dilakukan di daerah Mojosongo, Boyolali, Jawa tengah.  Berdasarkan sistem klasifikasi  PPT, tanah di daerah ini merupakan               tanah yang termasuk ke dalam golongan tanah yang belum berkembang dan belum terjadi proses pedogenesis sehingga belum ada perbedaan antar lapisannya atau belum menampakkan adanya diferensiasi horison, sehingga didalam lapisannya belum terdapat horison penciri. Tanah  ini  termasuk   kumpulan  tanah  yang  memiliki  horison  C-anorganik, batuan induk yang terkandung dalam tanah tersebut belum mengalami pelapukan. Menurut jenisnya, tanah ini merupakan jenis tanah regosol, yaitu tanah yang sifat-sifatnya didominasi bahan induk (regolite), merupakan tanah muda dan belum adanya perkembangan profil tanah, belum terjadi pencucian (eluviasi) dan proses pengendapan atau pelonggokan (illuviasi) bahan-bahan pembentuk tanah. Disamping ini tanah ini juga termasuk dalam macam tanah regosol distrik, atau tanah regosol yang tidak memenuhi persyaratan bagi macam tanah regosol yang lain.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk dalam unit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik dan telah diirigasi dalam jangka waktu yang lama, dengan sub unit arenic anthrosols yang mempunyai tekstur geluh berpasir atau kwarsa.

Sedangkan berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah pada profil I ini merupakan tanah berordo entisols yang merupakan tanah dominasi pasir yang tidak mempunyai profil kecuali horison A marginal dangkal, yaitu horison A okrik tetapi tidak punya horison penciri lainnya. Pada sub ordo termasuk dalam psamments karena tanah entisol ini mempunyai fragmen batuan dan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar sebesar kurang dari 35% (berdasarkan volume), pada seluruh lapisan didalam penampang kontrol kelas besar butirnya. Karena tidak memenuhi persyaratan dalam great group psamments, maka tanah ini termasuk great group udipsamments, begitu pula dalam sub group, karena tidak memenuhi persyaratan dalam sub group udipsamments maka tanah ini termasuk dalam sub group typic udipsamments atau udipsamments yang lain. Pada tingkat famili tanah ini termasuk typic udipsamments yang merupakan udipsamments yang lain, dengan tekstur tanahnya yaitu sandy loam atau geluh berpasir karena lebih dari 60% tanahnya berasal dari abu vulkanik gunung merapi, mineral lempungnya tidak aktif sehingga aktivitas pertukaran kation juga tidak aktif, tanah ini mempunyai pH 5 atau lebih yang berarti tidak masam dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. Seri tanah ini adalah Mojosongo, yang menunjukkan bahwa tanah Entisols petama kali ditemukan di daerah Mojosongo, sedangkan tingkat fasenya adalah pada tanah ini kondisi batuannya yaitu tidak berbatu (0,01%), tanah ini juga mempunyai jeluk mempan dengan tipe dalam sekitar 90 cm atau lebih dan memiliki 2% yang berarti termasuk datar.

2.       Genesis Tanah

Tanah pada daerah ini sangat dipengaruhi oleh bahan abu vulkanik gunung api Merapi dan Merbabu. Karena beriklim tropik yang basah, maka proses pelapukan abu vulkanik menjadi alofan dan pembentukan alofan humus atau komplek alumunium humus (khelat) berlangsung cepat. Kondisi tanah yang dalam kategori landai menyebabkan proses pengrusakan tanah oleh erosi sedikit terjadi, sehingga proses andosolisasi tersebut semakin cepat terjadi.

Proses pembentukan entisol dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain iklim yang sangat kering sehingga pelapukan dan reaksi kimia dalam tanah berjalan sangat lambat. Entisols merupakan jenis tanah yang muda, dimana secara alami pembentukan tanahnya belum berlangsung. Tidak berlangsungnya proses pembentukan tanah tersebut dikarenakan faktor dari lingkungan yang tidak memungkinkan, misalnya iklim dengan suhu rendah dan curah hujan yang tinggi sehingga mineralisasinya berjalan lambat. Beberapa proses pembentukan tanah mungkin belum dapat menghasilkan horison penciri tertentu yang dapat digolongkan dalam ordo tanah selain Entisols. Proses tersebut baru dapat menghasilkan epipedon okhrik, sebagai akibat pembentukan struktur dan pencampuran bahan organik dengan bahan mineral yang ada di lapisan atasnya.

3.       Potensi

Pada tanah Regosol ini memiliki tekstur geluh berpasir serta struktur halus sehingga akan mempengaruhi keadaan aerasi dan drainase tanah. Keadaan aerasi dan drainase pada profil ini cepat. Regosol umumnya cukup mengandung  P dan K yang masih segar yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan yang rendah atau masih terbentuk sebagai mineral primer sehingga belum siap untuk diserap oleh tanaman kandungan bahan organik yang rendah hanya memungkinkan tanah ini berpotensi untuk ditanami rumput gajah yang merupakan tanaman pakan ternak, tanaman jenis hortikultura dan bisa juga tanaman jenis kelapa.

4.       Permasalahan

Tanah entisol adalah tanah yang sedikit atau tanpa perkembangan profil (tanpa proses pedogenik) akibat waktu pembentukan pendek, tanah ini didominasi oleh pasir sehingga kemantapan agregatnya rendah (lepas-lepas). Karena unsur lempung pada tanah yang rendah maka tanah ini rawan erosi sehingga menyulitkan usaha konservasi tanah. Erosi bisa berakibat berkurangnya unsur hara pada tanah. Pada tanah Entisols kadar hara tergantung pada bahan induk. Proses pelapukan bahan induk pada tanah ini memerlukan waktu yang lama sehingga jumlah unsur hara di dalam tanah menjadi rendah. Tanah menjadi peka terhadap erosi karena permeabilitasnya cepat dan run off yang terjadi juga berlangsung dengan cepat. Unsur P dan K yang ada di dalam tanah yang masih dalam keadaan segar belum dapat diserap oleh  tanaman akan menyebabkan tanaman tidak dapat berproduksi secara maksimal dan tanah entisol juga mengalami kekukarangan unsur hara N. Kandungan unsur hara N banyak hilang dikarenakan kandungan pasir yang dominan menyebabkan terjadi pelindihan. Tanah Entisols yang mempunyai tekstur pasiran aerasinya bagus sehingga akan menyebabkan oksidasi bahan organik meningkat.

5.       Pengelolaan

Karena tanah yang masih muda, pengelolaan tanahnya bisa dilakukan dengan penambahan sisa organik, bisa dengan pupuk kandang atau pupuk hijau. Penambahan sisa organik ini mampu meningkatkan kemantapan agregat tanah sehingga berakibat pula pada peningkatan kelengasan tanah (ketersediaan air bagi tanah). Penambahan sisa organik juga berakibat positif pada pengikatan unsur hara, juga dapat menghambat atau mencegah pelindihan unsur hara, dengan demikian unsur hara pada tanah akan lebih tersedia bagi tanaman. Hal tersebut juga dapat meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga tanah lebih bersifat subur.

B.      PROFIL II

1.       Klasifikasi tanah

Pada pengamatan profil II dilakukan di daerah Tengaran, Salatiga, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah tersebut merupakan tanah yang temasuk kedalam tanah yang sudah mengalami perkembangan di mana telah terjadi proses-proses pedogenesis sehingga didalamnya sudah terdapat horison-horison yang berbeda diantara horison A, B dan C. Menurut jenisnya, tanah pada profil ini termasuk jenis andosol yaitu tanah yang berwarna hitam kelam sangat sarang (very porous) mengandung bahan organic dan mineral lempung tipe amorf terutama alofan. Pada kumpulannya, tanah ini terdiri dari horison Amolik dan Bcambik dan menurut macamnya termasuk Andosols melanik yang merupakan andosols lain yang mempunyai horison Amolik dengan kejenuhan basa kurang dari 50 % (rendah).

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah pada profil ini termasuk kedalam unit Anthrosols yang merupakan tanah yang sudah dipengaruhi aktivitas manusia, dan tanah yang asli telah termodifikasi, terpindahkan, terganggu dengan adanya penambahan bahan organik (BO). Menurut sub unitnya, tanah ini termasuk kedalam Regic Anthrosols yang artinya Anthrosols dengan pelapukan yang diakibatkan oleh horison yang tertimbun.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah pada profil ini termasuk kedalam ordo Andisols tanah-tanah yang mempunyai sifat-sifat tanah Andik pada 60% atau lebih dari ketebalannya. Sifat-sifat dari tanah Andik diantaranya:

a.       Di dalam 60 cm dari permukaan tanah mineral atau dari batas atas suatu lapisan organic dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih dangkal, apabila tidak terdapat kontak densik, litik, atau paralitik, duripan, atau horizon petrokalsik pada kedalaman: atau

b.       Di antara permukaan tanah mineral tanah atau batas atas suatu lapisan organic dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih dangkal, dan kontak densik, litik, atau paralitik, duripan, atau horizon petrokalsik.

Disamping itu, tanah ini mempunyai tingkat sub ordo yang merupakan tanah andisols yang mempunyai rejim kelembaban udik yang terdapat didaerah humid. Pada tingkat great group tanah Andisols ini ialah hapludands yang merupakan udik lain yang mempunyai epipedon melanik. Sub groupnya merupakan typic hapludans karena adanya persamaan sifat atau serupa dengan great groupnya. Pada tingkat familinya, tanah ini mempunyai tipe mineral lempung amorphic yang keaktifannya tidak aktif, berdasarkan kelas reaksi tanah termasuk famili masam, karena nilai pHnya 5 atau kurang pada analisis H2O 1:1, sedangkan berdasar kelas suhu tanahnya termasuk famili  isohiperthermik yaitu rata-rata suhu tanah tahunan sebesar 220 C atau lebih tinggi. Pada tingkatan serinya yaitu Noborejo karena ditemukan di desa Noborejo. Pada tingkatan fase, tanah ini tidak berbatu (sekitar 0,01%), mempunyai jeluk mempan yang sedang, dengan kemiringan datar sekitar 3%.

2.       Genesis Tanah

Tanah pada daerah ini sangat dipengaruhi oleh bahan abu vulkanik gunung api Merapi dan Merbabu. Andisols berkembang dari bahan vulkanik misalnya abu vulkan, batu apung, sinder, atau bahan vulkanistik yang fraksi koloidnya didominasi oleh mineral seperti alofan, imogolit, ferihidrit atau kompleks Al humus. Dalam keadaan lingkungan tertentu pelapukan alumino silikat primer dalam bahan induk non vulkanik dapat juga menghasilkan mineral alofan, imogolit, dan ferihidrit. Dan tanah ini hanya ditemui pada dataran tinggi.

Proses pembentukan tanah yang utama pada andisols adalah proses pelapukan dan transformasi (perubahan bentuk). Proses pemindahan bahan (translokasi) dan penimbunan bahan-bahan tersebut didalam solum sangat sedikit. Akumulasi BO dan terjadinya kompleks bahan organic dengan Al merupakan sifat khas pada beberapa andisols.

3.       Potensi

Tanah Andisols merupakan tanah yang cukup subur. Di Indonesia, tanah utama yang banyak dimanfaatkan untuk perkebunan teh dan kopi, untuk tanaman holtikultura. Tanah andisols ini juga berpotensi untuk tanaman semusim maupun tahunan selain itu dapat untuk tanaman palawija dan padi ataupun untuk hutan lindung. Hal ini dikarenakan Andisols merupakan tanah yang mengandung bahan organik cukup tinggi sehingga tanah tersebut cukup baik dalam penyediaan nitrogen bagi tanaman. Andisols pada hakikatnya merupakan tanah subur khususnya yang mempunyai kejenuhan basa agak rendah sampai tinggi, Tanah andisols mempunyai aerasi dan porositas tinggi sehingga tanaman mudah berpenetrasi ke dalam tanah dan unsur-unsur hara berupa kation-kation basa dan nitrogen cukup tersedia bagi tanaman. Andisols pada umumnya tersusun dari bahan-bahan atau partikel lepas sehingga mempunyai permeabilitas dan aerasi cukup tinggi, ketahanan penetrasinya cukup rendah maka seharusnya pengolahan tanah untuk budidaya pertanian tidak diperlukan lagi.

4.       Permasalahan

Permasalahan  yang paling menonjol pada tanah andisols adalah sifat kemampuan menyerap dan menyimpan air yang tak pulih kembali seperti semula bila mengalamin kekeringan. Hal ini disebabkan koloid amorf seperti abu vulkan dan bahan organic yang mempunyai daya jerap air tinggi jika mengalami kekeringan sampai 15 atmosfir / lebih film air yang terikat pada permukaan partikel akan menguap dan akan terjadi kontak ikatan kimia antar partikel, sehingga tanah mengkerut dan bersifat irreversible, akibatnya jika sudah mengalami kekeringan sulit untuk dibasahi kembali. Sehingga apabila mengalami kekeringan rawan terhadap erosi air hujan.

5.       Pengelolaan

Pengelolaan tanah andisols dilakukan dengan pengapuran dengan dosis yang cukup. Pada tanah andisols yang berada di daerah lereng banyak dimanfaatkan untuk menanam tanaman tahunan yang memiliki perakaran kuat untuk mengikat air. Unsur P di dalam tanah andisols sebenarnya tersedia dalam jumlah yang banyak, tetapi unsur P tersebut terfiksasi oleh alofan sehingga unsur P tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Untuk mengatasi masalah fiksasi P oleh alofan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik segar yang berfungsi untuk menyediakan unsur hara yang terdefisiensi tersebut bagi mikroorganisme, sehingga bahan-bahan organik akan terdekomposisi menjadi asam-asam organik seperti asam humat yang akan berikatan dengan Al bebas pada alofan menggantikan ion P yang terikat sehingga ion P akan terlepas dan tersedia untuk diserap oleh akar tanaman bebas pada alofan menggantikan ion P yang terikat sehingga ion P akan terlepas dan tersedia untuk diserap oleh akar tanaman. Tanah Andisols tersusun dari partikel lepas sehingga tidak perlu diolah secara berlebihan. Alternatif lain adalah penambahan mikrobia tanah yaitu mikoriza sehingga ketersediaan P meningkat.Tanah Andisols tersusun dari partikel lepas sehingga tidak perlu diolah secara berlebihan. Alternatif lain adalah penambahan mikrobia tanah yaitu mikoriza sehingga ketersediaan P meningkat.

C.      PROFIL III

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil III dilakukan di daerah Asinan, Rawa Pening, Salatiga, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini merupakan golongan tanah yang sudah berkembang dan juga mempunyai perkembangan horison. Pada tanah ini, terdiri dari horison Ap, B1, dan ada lapisan fibrik. jenis tanah ini yaitu Mediteran yang merupakan salah satu jenis tanah merah dengan tekstur berat (lempung) dan bahan organik (BO) rendah. Untuk macamnya, merupakan Eutric Mediteran  karena tidak memenuhi persyaratan dalam macam mediteran.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk dalam unit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik. Sub unit dari tanah ini termasuk kedalam Ferralic Anthrosols yang merupakan karbonat sekunder yang menyerupai kapur yang tertutup bedak lembut dan menunjukkan kondisi yang spesifik pada horisonnya.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo Alfisol. Tanah alfisols di daerah ini merupakan tanah yang tidak mempunyai epipedon plagen dan yang memiliki salah satu berikut:

-                Horison argilik, kandik, atau natrik

-                Fragipan yang mempunyailapisan tipis setebal 1mm atau lebih di beberapa bagiannya.

Pada tingkatan sub ordo, tanah ini termasuk kedalam Aqualfs yaitu tanah alfisols yang mempunyai kondisi akuik (berbeda dengan kondisi antrakuik) selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal (atau telah didraenase), pada satu horison atau lebih diantara kedalaman 50 cm dan permukaan tanah mineral, serta pada horison-horison yang mempunyai kondisi aquik, mengandung cukup besi fero aktif untuk dapat memberikan reaksi positif terhadap alpha, alphadipyridil ketika tanah tidak sedang diirigasi. Karena tidak memenuhi persyaratan dalam aqualfs maka tingkatan great group nya endoaqualfs, begitu pula dengan sub groupnya yang masuk kedalam typic endoaqualfs. Pada tingkatan famili, tanah ini mempunyai tipe mineral lempung kaolinit (Clayey kaolinitic), dengan mineral lempungnya yang aktif, mempunyai kandungan liat 60% atau lebih sehingga sangat halus, berpH 5 sehingga termasuk masam dan terdapat pada tanah besuhu rata-rata tahunan 220 C atau lebih tinggi sehingga berfamili isohyperthermik. Pada tingkatan seri, termasuk Asinan karena tanah ini ditemukan di desa Asinan. Pada tingkatan fasenya, tanah ini mempunyai keadaan bebatuan yang tidak berbatu (0,01%), dengan jeluk yang dalam dan kemiringan 2% yang termasuk datar.

2.       Genesis Tanah

Jenis tanah pada profil III ini adalah tanah alfisols yang merupakan order yang dicirikan oleh adanya horison argilik dan mempunyai kejenuhan basa yang tinggi. Adapun proses pembentukan tanah alfisols antara lain meliputi : pencucian karbonat dan braunifikasi yang merupakan prasyarat untuk pembentukan alfisols, dengan adanya proses pencucian diharapkan plasma menjadi lebih mudah bergerak bersama dengan air perkolasi. Pencucian Fe dapat menyebabkan warna tanah menjadi coklat atau kuning karat. Pembentukan epipedon okhrik dan horison albik dan pengendapan argilan (liat bersama sesquioksida dan bahan organic dihorison Bt terendap), karena :

a.       Air perkolasi tidak cukup banyak sehingga tidak dapat meresap lebih jauh kedalam tanah.

b.       Butir tanah mengembang, pori tanah tertutup sehingga air perkolasi terhambat.

c.        Penyaringan oleh pori halus terhambat.

3.       Genesis Tanah

Alfisols secara potensial termasuk tanah yang subur, di Indonesia diusahakan menjadi persawahan (padi) baik tadah hujan, perkebunan, tegalan dan padang rumput. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, KPK tinggi, cadangan unsur hara tinggi. Sesuai dengan keadaan sebenarnya dilapang, tanah ini sesuai untuk digunakan sebagai areal persawahan, hal ini sesuai dengan ketersediaan air yang mendukung untuk persawahan, karena sesuai dengan kondisi dilapang, tanah ini merupakan tanah tergenang.

4.       Permasalahan

Tanah alfisol mempunyai kejenuhan basa ³ 35%. Pada tanah horison orgilik, berarti bahwa basa-basa dilepaskan ke dalam tanah oleh pengikisan hampir secepat basa-basa yang dicuci.Kondisi reoks tanah mempengaruhi stabitas senyawa-senyawa besi dan mangan. Artifitas mikrobia, akumulasi dan dekomposisi Bo sampai tingkat tertentu. Hanya sedikit kekurangan / permasalahan dari tanah alfisol

5.       Pengelolaan

Pengelolaan tanah alfisols sebaiknya dilakukan dengan alternatif dan cara seperti pembuatan terasering pada lahan yang berlereng, dengan sistem budidaya lereng, dan pemupukan yang cukup. Disamping itu, karena tanah alfisols pada profil III ini merupakan tanah yang tergenang, maka perlu diperhatikan pula sistem draenase dan irigasinya, sehingga mampu mendukung peningkatan produksi hasil tanaman yang diusahakan diatasnya.

D.      PROFIL IV

1.       KlasifikasiTanah

Pada pengamatan profil IV dilakukan di daerah Gading, Tuntang, Salatiga, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPt, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah yang berkembang lanjut yang sudah mengalami pelapukan intensif didalamnya telah terdapat diferensiasi horison membentuk kumpulan horison A, B dan C. tanah ini terdiri dari 6 horison diantaranya horison Oi, A(umbrik), Boksik/A, dan Boksik. Jenis dari tanah ini termasuk kedalam latosol yang Horison B oksik nya tidak aktif, karena tidak memenuhi syarat latosol, maka macam nya masuk kedalam eutric latosol.

Berdasarkan sistem FAO-UNESCO, tanah ini termasuk dalam unit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik. Dan sub unitnya termasuk kedalam eutric anthrosols karena tidak memenuhi syarat dari anthrosols.

Berdasarkan sistem kalisifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam tingkatan ordo oxisols yaitu tanah yang memilki horison oksik pada kedalaman kurang dari 150cm, mempunyai kandungan liat 40% atau lebih pada kedalaman 18cm. Karena pada sub ordo tidak memenuhi syarat oxisol maka termasuk kedalam udoxs dengan mempunyai rejim kelembaban udic. Pada great group nya, tanah ini termasuk kedalam acrudox yaitu udox lain yang pada sub horison atau lebih dari horison oksik atau kandik di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral, dan mempunyai KTK- efektif sebesar kurang dari 1,50 cmol(+)/ kg liat serta nilai pH (dalam KCl 1N) 5 atau lebih.untuk sub group nya, tanah ini termasuk Rhodic Acrudox yang pada seluruh horison dantar kedalaman 25 cm dan 100cm lebih dari 50% dan harga warnanya yaitu Hue 2,5 YR atau lebih merah dengan value warna, lembab, 3 atau kurang. Pada tingkatan famili, tanah ini mempunyai tipe mineral lempung kaolinit (Clayey kaolnitic) dengan keaktifan lempungnya termasuk tidak aktif, mempunyai pH tidak masam ( sekitar 5 atau lebih), dan dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. Untuk tingkatan seri yaitu Tuntang karena tanah ini ditemukan di dsa Tuntang. Pada tingkata fasenya, tanah ini mempunyai batuan permukaan yang tidak berbatu (0,01%) dengan memiliki solum tanah > 90m yang mempunyai kemiringan 2% yang termasuk datar.

2.       Genesis Tanah

Tanah oxsisol atau tanah latosol merah atau dapat juga dikenal dengan tanah Ferrasols. Tanah ini termask tanah tua yang telah mengalamu proses pelapukan lebih lanjut yaitu dicirikan dengan adanya horison oksik yang tebal. Pelapukan intensif dalam waktu yang sangat panjang mengakibatkan pelindian basa dan silica, pelonggokan nisbi sesquioksida (oksida besi dan aluminium) dan pembentukan lempung kaolinit (lempung berkisi 1:1)

Proses pembentukan tanah yang utama pada oxisols adalah proses desilikasi dan konsentrasi besi bebas dan kadang-kadang gibsit yang kemudian mempengaruhi jenis mineral dominan pada tanah mineral mudah lapuk termasuk adalah terjadinya dekomposisi hampir seluruh mineral mudah lapuk termasuk mineral liat 2:1, kecuali mineral liat peralihan 2:1 – 2:2.

3.       Potensi

Jika dilihat dari kesuburan alami, tanah Oxisol yang telah mengalami pelapukan lanjut di daerah kering, biasanya tidak digunakan dalam pengelolaan tanah untuk pertanian jika tanah-tanah dari ordo lain masih tersedia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Meskipun secara kesuburan alaminya rendah, Oxisol merupakan cadangan tanah yang banyak jumlahnya dan masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Pemanfaatan Oxisol diantaranya untuk perladangan pertanian sub sistem, penggembalaan dengan intensitas rendah dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang, kopi serta beberapa Oxisol pada daerah basah.

4.       Permasalahan

Tanah jenis oxisols merupakan salah satu jenis tanah yang penting dalam bidang pertanian, tetapi keadaan kimiawinya sangat miskin, bukan saja karena kapasitas pertukaran kation yang rendah melainkan juga karena kahat basa Ca, Mg, K, kuat menyemat P dan persentase Al tertukarkan tinggi. Oleh karena itu, tanah ini memerlukan pemupukan dan sering pula membutuhkan gamping dan beberapa unsir lain seperti Zn dan S.

5.       Pengelolaan

Dalam pengelolaan tanah Oxisol adalah halus memperhatikan sejauh mana faktor-faktor tersebut mempengaruhi tanah tersebut. Untuk tanah Oxisol di lokasi proses pedogenesisnya adanya proses desilikasi sebagai akibat kondisi iklim Tuntang ini, seperti yang telah dipaparkan di atas terlihat bahwa dengan kemiringan 2 % dan tingkatan erosi ringan, namun proses desilikasi yang berpengaruh besar yng berakibat pencucian mineral-mineral khususnya silika dan pembentukan plinthite sehingga unsur hara alami yang ada secara berangsur-angsur ikut tercuci. Untuk itu dalam pengelolaannya untuk perkebunan atau tegalan yaitu :

1.       Agar erosi tetap dalam kategori ringan adalah permukaan tanah tertutup oleh penutup tanah, seperti apa yang ada di lokasi Tuntang vegetasi yang sudah ada seperti jati, mahoni, kelapa, dan durian sudah cukup baik untuk menjaga kondisi permukaan tanah.

2.       Sedangkan untuk perkebunan dan tegalan, dikarenakan kandungan unsur hara alami pada umumnya tanah Oxisol adalah rendah maka perlu diperhatikan pemasukan unsur hara dari luar. Hal itu sangat penting untuk peningkatan unsur hara yang ada di dalam tanah.

Secara umum pengelolaan tanah di Tuntang sudah cukup baik hanya perlu peningkatan vegetasi yang ada semisal jika untuk perkebunan yang intensif adalah dengan tanaman tebu, nenas, pisang dan kopi. Dan juga penanaman tanaman keras seperti jati dan mahoni bisa dikatakan tepat sebab tanaman seperti itu mempunyai sistem perakaran yang baik dalam serta mempunyai siklus BO yang baik.

E.      PROFIL V

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatn profil V dilakukan di daerah Lorog, Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasisifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanahyang berkembang dan sudah mengalami perkembangan horison. Tanah ini terdiri dari horison Bt(argilik) dan C. Pada horison B paling sedikit mengandung lempung lebih dari 1,2 kali lebih banyak dari horison diatasnya dan horison C merupakan bahan induk tanah yang tidak ada tanda-tanda pedogenesis. Menurut jenisnya, tanah ini termasuk mediteran yang sangat dilapuk, tekstur berat dan kadang-kadang lekat, serta mempunyai bahan organic yang rendah. Untuk macamnya termasuk ke mediteran haptic karena tidak memenuhi syarat pada mediteran.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini merupakan unit anthrosols yang merupakan tanah yang sudah dipengaruhi aktivitas manusia, dan tanah yang asli telah termodifikasi, terpindahkan, terganggu dengan adanya penambahan bahan organik (BO). Dan sub unitnya termasuk kedalam eutric anthrosols karena tidak memenuhi syarat pada anthrosols.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo alfisol yang tidak mempunyai epipedon plaggen dan memiliki salah satu dari horison argilik, natrik, kandik atau glosik. Pada tingkatan sub ordo, tanah ini termasuk kedalam Udalf karena tidak memenuhi syarat untuk alfisols dan mempunyai rezim suhu udik dan untuk tingkatan dari great groupnya termasuk kedalam hapludalfs dan subgroupnya merupakan inceptic hapluidalfs yang mempunyai horison argilik, kandik, atau natrik setebal 35cm dan tidak mempunyai kontak densik, titik atau para tiik dalam 1cm dari permukaan tanah mineral. Pada tingkatan familinya, tanah ini mempunyai mineral lempung kaolinit (Clayey kaolinitic) dengan keaktifan mineralnya termasuk tidak aktif , mempunyai pH 6 yang ternasuk tidak masam, dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. untuk tingkatan seri termasuk lorog karena ditemukan didaerah atau desa Lorog. Pada tingkatan fasenya, tanahini mempunyai tingkat bebatuan  (15-75%) dengan jeluk mempannya dangkal dengan kemiringan 15% yang menunjukkan daerahnya termasuk miring.

2.       Genesis Tanah

Pada mulanya adalah tanah Alfisol dengan ketebalan yang dalam, namun akibat adanya proses erosi yang kuat dan cepat serta dalam waktu yang lama sehingga terjadi penyingkapan tanah permukaan, lalu terbentuk tanah dangkal di atas batuan keras (lithik).

3.        Potensi

Pada dasarnya tanah ini dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian, yaitu melalui teras siring atau dengan budidaya tanaman tahunan yang lebih kuat dalam mengikat tanah. Tanaman pertanian dapat disisipkan dalam sela-sela tanaman tahunan. Potensi lain adalah dengan memanfaatkan lahan ini untuk usaha penghijauan.

4.       Permasalahan

Karena tanah alfisols termasuk tanah yang masih muda dan perkembangan tanah belum lama, sehingga kandungan bahan organik dan unsur hara dalam tanah kurang tersedia, maka solumnya dangkal (10-15 cm) dari permukaan dan di bawahnya merupakan lapisan batuan. Rendahnya kedalaman solum menyebabkan perkembangan akar terhambat sehingga tanaman kurang baik pertumbuhannya.

Topografi daerah yang miring menyebabkan rawan terhadap erosi dan tanah aluvial ini kemampuan untuk mengikat air cukup rendah, sehingga saat kemarau terlihat kering atau tandus..

5.       Pengelolaan

Dalam mengatasi erosi dilakukan dengan penanaman tanaman tahunan atau tanaman hutan (agroforestri). Juga dapat dilakukan dengan pembuatan teras siring atau usaha konservasi lain sehingga bahaya erosi dapat ditekan. Dengan penambahan sisa organik dapat meningkatkan kelengasan tanah karena sisa organik yang terdekomposisi menjadi bahan organik mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi dan dapat menahan laju erosi tanah karena air terserap oleh bahan organik. Penambahan sisa organik juga dapat mempercepat pelapukan bahan mineral dalam komplek atau komplek pertukaran karena penambahan bahan organik sepereti pemberian pupuk kandang atau pupuk hijau dapat menambah keanekaragaman mikroorganisme Sistem PPT mengklasifikasikan tanah ini dalam golongan tanah tanpa perkembangan profil, dan masuk dalam kumpulan tanah horison C-organik. Karena mempunyai litik atau faktor pembatas batuan, maka masuk dalam jenis tanah Lithosol. Lithosol ini merupakan Lithosol yang lain sehingga masuk dalam macam tanah Lithosol eutrik.

F.       PROFIL VI

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil VI dilakukan di daerah Kedungareng, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah berkembang yang sudah mengalami perkembangan horison. Tanah ini tediri dari horison A/Bt, Bt, Bt/C. menurut jenisnya, termasuk kedalam mediteran yang merupakan tanah sangat dilapuk, tekstur berat, dan kadang-kadang lekat dengan bahan organic rendah. Menurut macamnya, tanah ini termasuk mediteran litik yang mempunyai kontak (sentuh) litik atau paralitik pada kedalaman 20-50cm.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk ke unit luxisol yaitu tanah yang memiliki kandungan lempung tinggi pada lapisan subsoil daripada topsil sebagai hasil dari proses pedogenesis (khususnya perpindahan) lempung yang membentuk horison argilik dan mempunyai keaktifan lempung yang tinggi dengan kejenuhan basa yang juga tinggi pada kedalaman tertentu. Utuk subunitnya, tanah ini termasuk ke orthic luxisols karena tiak memenuhi syarat pada luxisols.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo alfisols yaitu tanah yang tidak mempunyai epipedon plaggen dan yang memiliki salah satu dari horison argilik, natrik, kandik, atau glossik. Pada tingkatan subordo, tanah ini termasuk kedalam udalfs karena tidak memenuhi syarat pada alfisols dengan rezim kelembaban udik. Tanah ini termasuk kedalam great group hapludalfs karena tidak memenuhi persyaratan udalfs, begitu pula pada tingkatan sub group yang termasuk kedalam hapludalfs lain yaitu typic hapludalfs. Untuk tingkatan familinya, tanah ini memiliki jenis mneral lempung kaolinitic (clayey kaolinitic) dengan keaktifan lempungnya termasuk aktif, tanah ini mempunyai pH 6 yang termasuk tidak masam. dengan kategori suhu isohyperthermik yang merupakan suhu tanah rata-rata tahunan sebesar 220C atau lebih dan perbedaan suhu tanah antara musim panas dan dingin kurang dari 60C. pada tingkatan seri yaitu Kedungareng karena tanah ini ditemukan dikedungareng. Untuk tingkatan fasenya, tanah ini mempunyai tingkatan batuan permukaan yang berbatu (15-75%) dengan jeluk mempan nya agak dalam dan kemiringan yang ekstrim curam sekitar 75%.

2.       Genesis Tanah

Pada mulanya adalah tanah Alfisol dengan ketebalan yang dalam, namun akibat adanya proses erosi yang kuat dan cepat serta dalam waktu yang lama sehingga terjadi penyingkapan tanah permukaan, lalu terbentuk tanah dangkal di atas batuan keras (lithik).

3.       Potensi

Pada dasarnya tanah ini dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Tapi karena mempunyai kemiringan yang ekstrim curam maka daerah ini hanya perlu di tanami tanaman keras (tanaman keras) seperti pohon jati, pinus atau cemara untuk mengantisipasi adanya erosi yang cukup berat.

4.       Permasalahan

Tanah alfisols termasuk tanah yang masih muda dan perkembangan tanah belum lama, sehingga kandungan bahan organik dan unsur hara dalam tanah kurang tersedia, maka solumnya dangkal (10-15 cm) dari permukaan dan di bawahnya merupakan lapisan batuan. Rendahnya kedalaman solum menyebabkan perkembangan akar terhambat sehingga tanaman kurang baik pertumbuhannya. Topografi daerah ini yang ekstrim curam menyebabkan rawan terhadap erosi karena tanah aluvial ini kemampuan untuk mengikat air cukup rendah.

5.       Pengelolaan

Dalam mengatasi lajunya erosi di daerah ini dilakukan konservasi dengan melakukan sistem pertanian agroforesty dengan menanam tanaman tahunan dengan disisipi oleh tanaman pangan seperti tanaman legume (kacang-kacangan ) sebagai tanaman penutup lahan sehingga erosi dapat ditekan. Dengan penambahan sisa organik dapat meningkatkan kelengasan tanah karena sisa organik yang terdekomposisi menjadi bahan organik mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi dan dapat menahan laju erosi tanah karena air terserap oleh bahan organik.

G.      PROFIL VII

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil VII dilakukan didaerah Gumiwang lor, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah sudah berkembang yang mempunyai perkembangan horison dan adanya perbedaan horison yang sudah terlihat jelas. Tanah ini terdiri dari horison Bt/C dan R. Menurut jenisnya, tanah ini termasuk kedalam rendzina yang memiliki batuan induk kapur dengan kandungan lempung yang tinggi. Menurut macamnya, tanah ini termasuk rendzina tidak memiliki horison molik, atau subhorison argilik, argik, kandik, atau natrik.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk kedalam unit rendzina yang mengandung batuan kapur. Begitu pula dengan sub unitnya, termasuk kedalam rendzina juga.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam golongan mollisols yang mempunyai horison permukaan yang epipedon molik dan satu sub horison argilik. Pada tingkatan subordo, tanah ini termasuk kedalam rendolls yang mempunyai epipedon molik setebal kurang dari 50cm, mempunyai bahan tanah mineral berdiameter kurang dari 7,5cm yang mengandung CaCO3 setara dengan 40% atau lebih, baik dalam maupun langsung bawah epipedon molik, tanah ini mempunyai rejim kelembaban udik atau cryik. Menurut tingkatan great group termasuk haprendolls karena tidak memenuhi syarat pada rendolls. Dan pada tingkatan sub group lithic haprendolls y6ang mempunyai kontak litik didalam 50cm dari permukaan tanah mineral. Menurut tingkatan familinya, tanah ini didominasi oleh montmorilonit yang keaktifan lempungnya bersifat aktif dengan pH netral sebesar 7 dengan suhunya sebesar 150C sampai 220C. pada tingkatan seri yaitu Gumiwang Lor karena ditemukan di desa Gumiwang Lor. Pada tingkatan fasenya, tanah ini mempunyai batuan permukaan yang berbatu (0,01-3%) dengan jeluk mempannya dangkal dan kemiringan 25%.

2.       Genesis Tanah

Tanah jenis mollisols adalah tanah dengan epipedon molik dan mempunyai horison albik, kalsik atau matrik. Di Indonesia, tanah mollisols ditemukan umumnya didaerah bukit kapur dan terbentuk dibawah vegetasi rumput baik rumput rendah, sedang, tinggi.

Proses pembentukan tanah mollisols yang terpenting adalah melanisasi yaitu proses pembentukan tanah berwarna gelap karena penambahan bahan organic. Proses pembentukan tanah mollisols beberapa proses, antara lain :

a.       Prolifirasi akar rumput / penyebaran akar kedalam profil tanah.

b.       Pelapukan BO dalam tanah membentuk senyawa stabil dan berwarna gelap (polisakarida dan liat).

c.        Pencampuran BO dan bahan mineral tanah karena kegiatan organisme.

d.       Eluviasi dan illuviasi koloid organic dan beberapa koloid mineral melalui rongga tanah.

e.        Pembentukan senyawa lingo protein yang resisten.

Tanah mollisols merupakan golongan tanah yang umumnya subur. Dicirikan oleh adanya epipedon molik dengan ketebalan lebih dari 18 cm berwarna hitam / gelap. Bahan organic > 1%. Kejenuhan basa > 50%, agregat tanah cukup baik sehingga tidak keras bila kering. Bahan organic berasal dari vegetasi rumput.

3.       Potensi

Tanah mollisols banyak diusahakan tanaman palawija, sayuran, tanaman semusim dan beberapa tanaman tahunan. Tanah ini dikatakan subur karena mengandung bahan organic, kejenuhan basa yang tinggi, tapi intensitas pengelolaannya masih rendah. Karena tanah ini terbentuk didaerah dengan curah hujan rendah dan iklim kering sehingga untuk tanaman semusim dilaksanakan pada musim hujan saja. Pada daerah dengan pengairan baik tanah ini dapat diusahakan sepanjang tahun.

4.       Permasalahan

Di Indonesia, mollisols umumnya ditemukan didaerah bukit kapur (sub ordo Rendoll), sehingga karena tanah bersolum dangkal penggunaannya cukup terbatas. Tanah ini terbentuk didaerah semi arid dan sub humid dan sangat kaya dengan bahan organic. Karena sifat tanah organic, jika terlalu kering tidak dapat lagi menyerap air sehingga jika ada hujan bahan organic ini akan terbawa oleh air aliran permukaan sehingga terjadilah erosi permukaan. Tanah ini mudah mengalami kekeringan karena perkolasi yang cepat, tanah ini hampir tidak berguna bagi pertanian, karena jeluk perakarannya terbatas dan banyak batu-batuan.

5.       Pengelolaan

Banyak tanah mollisols yang bersolum dangkal, maka diperlukan tindakan konservasi dengan menanam tanaman yang mempunyai perakaran dangkal tetapi tumbuh permanen seperti padang rumput. Bila ingin dijadikan lahan tanaman pangan, dapat ditanami padi, palawija dan sayur-sayuran, dapat ditanam sepanjang tahun asalkan pengairannya dapat diatasi. Sangat baik ditanami secara mixcropping, karena dengan cara ini kontinyuitas penggunaan lahan yang miring dan mempunyai solum agak dalam dapat pula ditanami tanaman tahunan.

H.      PROFIL VIII

1.       Kasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil VIII dilakukan di daerah Gumiwang Lor, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah belum berkembang karena belum jelas membentuk diferensiasi horizon yang dapat disebabkan oleh batuan induk yang belum mengalami perkembangan, air tidak mencukupi, bahan organik tidak mencukupi. Tanah ini tesusun atas unsure C-organik. Termasuk dalam jenis tanah alluvial. Suatu hal yang mencirikan pada pembentukan alluvial adalah bahwa bagian terbesar bahan kasar akan diendapkan tidak jauh dari sumbernya. Tekstur bahan yang diendapkan pada waktu tempat yang sama akan lebih seragam, makin jauh dari sumbernya makin halus butir yang diangkut. Termasuk dalam macam tanah alluvial eutric karena tidak memenuhi syarat pada alluvial.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk kedalam unit fluvisol yang berkembang dari bahan alluvial baru. Menurut sub unitnya, tanah ini termasuk kedalam eutric fluvisols karena tidak memenuhi syarat dalam fluvisols.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo entisol yang belum ada perkembangan horison dengan tidak ditemukan horison pencirinya yang didominasi pasir. Tanah entisols merupakan tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangannya. Pada tingkatan sub ordonya, tanh ini termasuk fluvents yaitu yang di pengaruhi oleh aliran air dan entisol lain yang tidak mempunyai kontak densik, litik, atau paralitik didalam 25 cm dari permukaan tanah mineral dan mempunyai :

  • Lereng kuarang dari 25%, dan
  • Karbon organic berumur holosen sebesar 0,2 persen atau lebih pada kedalaman 125 dibawah permukaan tanah mineral, atau penurunan kandungan karbon organic secara tidak teratur mulai dari kedalaman 25 cm sampai kedalaman 125 cm atau mencapai kontak densik, litik atau paralitik, apabila lebih dangkal, dan
  • Rezim suhu tanah ;

a.     lebih panas dari cryik, atau

b.     cryik dan tanahnya mempunyai :

1)       tanpa bahan gelik, dan

2)       lereng kurang dari 5% atau memiliki gelas vulkan berukuran 0,02 – 2,0 mm sebesar kurang dari 15% pada sebagian penampang kontrol kelas besar butir.

Untuk great groupnya, termasuk kedalam udifluents karena tidak memenuhi persyaratan dari fluvents. Pada tingkatan sub groupnya, termasukl kedalam typic udifluvents karena tidak memenuhi syarat. Seangkan pada tingkatan familinya, tanah entisol ini mempunyai tekstur berdebu kasar (sandy loam) yang mempunyai keaktifan lempungnya tidak aktif. Tanah ini mempunyai ph 6 yang berarti tidak masam, dengan suhu termasuk kedalam isohyperthermik yang rata-rata suhunya antara 15-220C. pada tingkatan serinya yaitu Gumiwang Lor karena ditemukan didaerah tersebut. Menurut tingkatan fasenya, tidak berbat dengan solum tanahnya dalam dan kemiringan nya agak miring sekitar 8%.

2.       Genesis Tanah

Tanah entisol ini dihasilkan dari banjir dimusim hujan, sehingga sifat bahan-bahannya juga tergantung pada kekuatan banjir dan asal serta macam bahan yang diangkut, sehingga menampakkan ciri morfologi berlapis-lapis atau lembaran-lembaran yang bukan horison karena bukan hasil pengembangan tanah. Tekstur bahan yang diendapkan pada waktu dan tempat yang sama akan lebih seragam, makin jauh dari sumbernya makin halus butiran yang diangkut. Proses ini dipengaruhi oleh faktor-faktor  sebagai berikut :

a.       Iklim yang sangat kering, sehingga pelapukan dan reaksi-reaksi kimia berjalan sangat lambat.

b.       Erosi yang kuat, dapat menyebabkan bahan-bahan yang dierosikan lebih banyak dari yang dibentuk melalui proses pembentukan tanah banyak terdapat dilereng-lereng curam.

c.        Pengendapan terus-menerus, menyebabkan pembentukan horison lebih lambat dari pengendapan. Missal : daerah dataran banjir, disekitar sungai, delta, daerah sekitar gunung berapi.

d.       Imobilisasi plasma tanah menjadi bahan-bahan inert, missal : flokulasi bahan-bahan oleh karbonat, silica, dll.

e.        Bahan induk yang sangat sukar dilapuk (inert), atau tidak permeable  sehingga air sukar meresap dan reaksi-reaksi tidak berjalan.

3.       Potensi

Banyak tanah entisol yang digunakan untuk usaha pertanian, misalkan didasrah endapan sungai atau daerah rawa-rawa pantai. Tanah entisol berasal dari bahan alluvium umumnya merupakan tanah subur. Digunakan pula sebagai areal persawahan. Memelihara tambak perikanan, bandeng, gurame cukup memberikan produksi.

4.       Permasalahan

Pengawasan tata air termasuk perlindungan terhadap banjir, drainase dan irigasi. Tekstur tanahnya sangat variebel, baik vertical maupun horisontal, jika banyak mengandung lempung tanahnya sukar diolah dan menghambat drainase. Perbaikan drainase didaerah rawa-rawa menyebabkan munculnya cat clay yang sangat masam akibat oksidasi sulfida menjadi sulfat. Tanah yang berasal dari Bengawan Solo dan sungai berasal dari pegunungan karst (gunung sewu) umumnya kekurangan unsur phosfor dan Kalium.

5.       Pengelolaan

Entisol didaerah basah yang mendapatkan bahan alluvium dimanfaatkan secara intensif oleh masyarakat sebagai kawasan budidaya  padi sawah. Intensitas pengelolaan termasuk tinggi, karena hampir setiap tahun dimanfaatkan untuk budidaya pertanian dengan pola tanam. Padi-padi atau padi – palawija – bero. Dan dapat pula digunakan untuk tambak.

I.        PROFIL IX

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil IX dilakukan di daerah Sumber Rejo, Eromoko, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasrkan sistem klasifikasi PPT, tanah ini termasuk kedalam golongan belum berkembang karena belum mengalami perkembangan horison. Tanah ini hanya ada horison Ap1 dan Ap2, sedangkan horison B tidak terdapat didalamnya, karena kandungan lempung montmorilonit didalamnya mengakibatkan terjadinya proses pedoturbasi atau pengadukan atau pencampuran horison, sehingga yang nampak hanya horison A dan C. menrut tingkatan jenisnya, termasuk kedalam grumosolyang mempunyai tekstur lempung dengan tipe mineralnya montmorilonit dan memiliki bahan induk berupa kapur. Sedangkan menurut macamnya, tanah ini merupakan tanah grumosol pelik yang merupakan tanah grumosol yang mempunyai chroma kurang dari 1,5 (lembab)  secara dominan dalam lapisan atas tanah (30cm).

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk lunit anthrosols atau tanah yang dipengaruhi oleh hasil  dari aktifitas manusia yang merupakan modifikasi / penimbunan horison tanah melalui pemindahan / perusakan / penggangguan horison permukaan, penambahan bahan organik dan telah diirigasi dalam jangka waktu yang lama, dengan sub unit eutric anthrosol yang tidakmemenuhi syarat.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo vertisol yang  Satu lapisan setebal 25 cm atau lebih, dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, yang mempunyai bidang kilir atau ped berbentuk baji yang sumbu-sumbu panjangnya mirip 100-600 dari arah horizontal dengan rata-rata tertimbang kandungan liat dalam fraksi tanah halus sebesar 30% atau lebih dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik. Pada tingkatan sub ordo termasuk uderts dengan tingkatan great group dan sub group yaitu hapluderts dan typic hapluerts. Pada tingkatan familinya didominasioleh mineral lempungnya montmorilonit yang memiliki keaktifan lempungnya yang aktif, Ph tanahnya termasuk tidak masam dengan suhunya isohyperthermic yang mempunyai suhu rata-rata 220C atau lebih. Pada tingkatan serinya yaitu Sumer Rejo karena ditemukan di daerah tersebut. Menurut tingkatan fasenya, tidak mempunyai batuan dipermukaan dengan jeluk dalam dengan kemiringan 7%.

2.       Genesis Tanah

Faktor penting dalam pembentukan tanah vertisol adalah adanya musim kering dalam setiap tahun, bahan induk vertisol umumnya bersifat alkalis seperti hasil pelapukan batuan kapur. Pada tanah vertisol di Klampisan Wonogiri ini, bahan induk tanah berasal dari pelapukan batuan kapur yang berasal dari formasi pegunungan kapur seribu. Proses pembentukan tanah vertisol menghasilkan suatu bentuk mikrotopografi yang terdiri dari cekungan dan gundukan kecil yang disebut gilgai. Proses yang dominan dalam pembentukan tanah vertisol meliputi proses haplodisasi dengan cara argilik pedoturbasi, tang terutama dipengaruhi oleh kandungan liat yang tinggi yang didominasi oleh mineral liat 2:1 yang mudah mengembang dan mengkerut.

3.       Potensi

Prospek pemanfaatan vertisol relatif lebih sesuai jika dimanfaatkan sebagai areal persawahan, hanya saja pembuatan jaringan irigasi harus dibuat terlebih dahulu jika disekitarnya ada sumber air atau sungai. Dengan mengatur drainase, irigasi dan pengelolaan tanah disertai pemupukan bahan organik untuk memperbaiki struktur tanh, jenis tanah ini dapat memberikan hasil padi, jagung, kapas, kacang tanah dan tebu dan bebarapa tanaman perdagangan dataran rendah yang cukup baik seperti singkong dan pepaya.

4.       Permasalahan

Vertisol merupakan tanah prospek pemanfaatannya cukup baik, akan tetapi yang menjadi kendala adalah dalam hal pengelolaan tanahnya yang relatif cukup sulit. Tanah ini bersifat lekat dan liat bila basah dan sangat keras dalam keadaan kering. Walaupun demikian tekstur tanah sangat halus, derajat kerut yang nyata dan pengembungannya yang merupakan ciri mereka menyebabkan mereka kurang sesuai untuk pertanaman daripada daerah disekitarnya. Kalau mereka mengering sehabis hujan, waktu untuk dibajak atau diolah sangat pendek. Untuk pengelolaannya tidak dapat dilaksanakan tepat pada waktunya dan mereka terbataas pada penggunaan alat kecil, sederhana karena hewan mereka tidak dapat menarik alat besar ditanah berat.Selain pengelolaan yang berat, tanah ini miskin unsur hara N dan K, karena kedua unsur hara tersebut terjepit dalam interlayer, yaitu merupakan ruang antara dua lembaran tetrahedral dengan octahedral (2:1) yang mempunyai diameter sama dengan diameter N dan K, sehingga N dan K akan terjepit didalamnya, akibatnya tanah ini menjadi kahat N dan K.

Dalam pengolahan tanahnya yang relatif cukup sulit, maka harus diketahui keadaan kelengasan tanah paa lapisan permukaan yang memungkinkan untuk dilakukan pengolahan tanah, karena sifat fisik tanah vertisol yang jelas adalah konsistensi yang keras, sehingga untuk mengolah tanah tidak dapat menggunakan cangkul. Penggunaan traktor dan lain-lain peralatan mekanik memungkinkan untuk melakukan persiapan lahan baik untuk pembibitan maupun penanaman.

5.       Pengelolaan

Perbaikan kecepatan infiltrasi adalah sangat penting didaerah-daerah kering, karena untuk mengerjakan lahan kering digunakan irigasi, beberapa tindakan konservasi yang perlu dilakukan adalah dengan perkembangan dan perbaikan mulsa permukaan, yang dirangsang oleh pengolahan tanah yang relatif  baik, oleh rotasi tanam dan penambahan bahan organic. Penambahan bahan organic dimaksudkan untuk perbaikan struktur tanah, sehingga akan memperbaiki sistem aerasi, disamping itu dengan membaiknya struktur, maka tanah ini akan  menjadi lebih mudah diolah.

J.       PROFIL IX

1.       Klasifikasi Tanah

Pada pengamatan profil X dilakukan di daerah Tubokarto, Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan sistem klasifikasi PPt, tanah ini termasuk kedalam golongan tanah mulai berkembang yang sedang mengalami perkembangan horison. Horisaon tanah ini terdiri dari horison O, Bcambik, B/C, dan C. menurut jenisnya, termasuk kambisol karena adanya horison Bcambik. Sedangkan pada tingkatan macamnya, termasuk district kambisol yang mempunyai struktur lempung berpasir.

Berdasarkan sistem klasifikasi FAO-UNESCO, tanah ini termasuk kedalam unit kambisol yang merupak tanah yang mempunyai horison Bcambik atau horison epipedon umbrik pada kedalaman 25cm atau lebih. Menurut sub unitnya termasuk ke dalam kalsic kambisol karena memiliki kandungan karbonat sekunder pada kedalaman 50-100cm dari permukaan tanah.

Berdasarkan sistem klasifikasi Soil Taxonomy, tanah ini termasuk kedalam ordo inceptisol Tidak terdapat bahan sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral; dan sifat nya yaitu Satu horizon atau lebih di antara kedalaman 20 dan 50 cm di bawah permukaan tanah mineral, baik memiliki nilai n 0,7 atau kurang, atau kandungan liat dalam fraksi tanah-halus kurang dari 8 persen. Pada tingkatan sub ordonya termasuk udepts dengan great groupnya eutrudepts yang mempunyai sifat karbonat bebas dalam tanah dan kejenuhan basanya sebesar 60% atau lebih pada satu horisn. Menurut subgroup nya termasuk kedalam ruptic-alficeutrudepts. Pada tingkatan familinya memilki mineral lempung kaolinit yang aktif dan mampunyai ph 6 atau bersifat tidak masam dengan memilki suhu isohyperthermic. Pada tingkatan serinya yaitu Tubokarto karena ditemukan di daerah ini. Sedangkan tingkatan fasenya, tanah ini termasuksangat berbatu (3-15%) dengan jeluk mempan dalam dan kemiringan ekstrim curam sekitar 70%.

2.       Genesis Tanah

Tanah inceptisol merupakan tanah mineral dengan tebal kurang daripada 10 cm diatas batuan keras. Seringkali bahan tanahnya telah tererosi pada waktu vegetasi aslinya (hutan) dirusak dan tinggallah lapisan tanah sangat tipis diatas batuan dasar. Merupakan tanah yang dianggap paling muda, sehingga bahan induknya seringkali dangkal (kurang dari asam) atau tampak diatas permukaan tanah sebagai batuan padat yang padu. Dengan demikian maka profilnya belum memperlihatkan horison-horison dengan sifat-sifat dan ciri-ciri morfologi yang masih menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri batuan induknya. Tanah ini belum lama mengalami pelapukan dan sama sekali belum mengalami perkembangan tanah. Akibat pengaruh iklim yang lemah letusan vulkan atau topografi yang terlalu miring atau bergelombang. Meskipun demikian, perkembangan profil golongan ini lebih berkembang daripada entisols.

3.       Potensi

Tanah ini banyak digunakan untuk pertanaman didataran dan pada tanah berlereng sesuai dengan tanaman tahunan, daerah yang berlereng curam sesuai untuk hutan dan tempat rekreasi dan bahkan kawasan hutan lindung atau tanaman permanen untuk menjaga kelestarian tanah. Tersedianya air untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari tiga bulan berturut-turut dalam musim kemarau

4.       Permasalahan

Penggunaan inceptisol untuk pertanian atau non pertanian adalah beragam. Daerah-daerah yang berlereng curam untuk hutan, rekreasi atau drainase buruk hanya untuk pertanian, setelah drainase diperbaiki.Tanah ini bersolum dangkal, bahkan kadang batuan induknya dapat menyembul kepermukaan, sehingga mengakibatkan perakaran tanaman diatasnya sangat terbatas, disamping itu letak tanah ini didaerah yang berlereng mengakibatkan permukaan tanahnya sangat muah tererosi yang mengakibatkan ikut tercucinya unsur hara didalamnya, sehingga tanah ini miskin unsur hara. Inceptisols yang bermasalah adalah sulfaquepts yang mengandung horison sulfuric (cat clay)  yang sangat masam. Problem yang dijumpai karena nilai pH sangat rendah (<4), sehingga sulit untuk dibudidayakan.

5.       Pengelolaan

Kebanyakan tanah yang akan dipakai untuk pertanian hendaknya mempunyai tebal sekurang-kurangnya 80 cm atau lebih untuk memberikan ruang perakaran yang baik dan daya simpan air cukup. Pada perkebunan kopi, teh, coklat atau lain sangat membutuhkan teknik budidaya yang tepat antara lain pemupukan, pengolahan tanah, pemberantasan hama dan perbaikan drainase yang sangat penting untuk mendapatkan produktivitas tanah yang maksimal.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: