Oleh: fitri05 | Januari 24, 2011

PERTANIAN ORGANIK DENGAN PRINSIP DAUR ULANG HARA MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN

Pertanian organik dapat diartikan suatu sistem produksi pertanaman yang berasaskan daur-ulang hara secara hayati. Daur ulang hara dapat melalui sarana limbah tanaman dan ternak, serta limbah lainnya yang mampu memperbaiki status kesuburan dan struktur tanah.

Sistem pertanian organik merupakan “hukum pengembalian (low of return)” yang berarti suatu sistem yang berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan memberi makanan pada tanaman. Dengan kata lain, unsur hara didaur ulang melalui satu atau lebih tahapan bentukan senyawa organik sebelum diserap tanaman. Hal ini berbeda sekali dengan pertanian konvensional yang memberikan unsur hara secara cepat dan langsung dalam bentuk larutan sehingga segera diserap dengan takaran dan waktu pemberian yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Definisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi kompenen-komponen fisik, biologi, sosiaekonomi yang direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.

Produktivitas tanah dapat ditingkatkan hanya melalui pengolahan tanah dan tanaman secara terpadu. Dengan demikian pemahaman serbacakup (Comprehensive) faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tanah sangat diperlukan petani untuk meningkatkan produktivitas tanah. Usaha untuk memperbaiki produktivitas tanah dengan memperhatikan semua faktor yang berpengaruh dikenal sebagai membangun tanah secara terpadu.

Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan, perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap petani yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional. Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab intensif-intensif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini.

Sumber dari unsur hara dalam pertanian organik berasal dari dalam lingkungan usahatani berupa bahan organik dari biomassa tanaman atau tumbuhan, kotoran ternak, limbah pertanian lainnya dan hasil fiksasi secara daur ulang hara adalah prinsip keseimbangan hara yaitu jumlah yang hilang sama dengan jumlah yang ditambahkan ke dalam tanah sehingga kestabilan produktivitas lahan dapat dicapai. Proses pengembalian hara mengikuti daur yang utuh melalui tanah—-tanaman—-tanah, atau tanah—-tanaman—-ternak—-tanah.biologis.

Sumber-sumber bahan organik yang berasal dari dalam lingkungan usaha tani, dalam hubungannya dengan kebutuhan hara  tanaman dapat disebut pupuk organik. Hingga saat ini perkembangan penggunaan bahan organik sebagai sumber pupuk organik semakin meningkat seiring dengan peningkatan degradasi lahan terutama didaerah tropis. Di samping itu penelitian-penelitian tentang pupuk organik  telah banyak dilakukan.

Tanaman dalam membangun biomassa memerlukan H2O, CO2 yang bersal dari udara, energi dipasok dari sinar matahari dan unsur hara diserap dalam tanah atau air. Hara tanaman  yang secara alami diendapkan dari air atau udara, atau berasal dari hasil fiksasi nitrogen dan hasil pelapukan mineral yang banyak dijumpai di dalam tanah. Tumbuhan menyerap sebagian besar hara yang ada di dalam tanah, sebagian lagi secara geografi disebarkan melalui air limpasan.

Alam yang ada tumbuhan- tumbuhan alami, bahan organik yang terakumulasi di permukaan tanah akan mengalami proses dekomposisi dan melepaskan unsur hara atau dalam bentuk abu apabila dilakukan sistem tebas bakar (slash and burn). Hara yang diserap tanaman dari lapisan tanah yang paling dalam selanjutnya menjadi tersedia bagi tanaman yang tumbuh di permukaan tanah. Sistem pertanian tebas bakar relatif lebih besar mengeksploitasi hara yang tersedia. Setelah tanaman dipanen, pasokan hara dengan cepat mengalami penurunan. Dengan demikian lahan harus dibiarkan bero dalam waktu relatif lama atau menggantikannya  menggunakan hara yang berasal dari luar usaha tani.

Prinsip daur ulang hara organik didasarkan pada upaya mengurangi kehilangan hara melalui panen (biomassa dan hasil ekonomi) dengan cara mengembalikan sebagian biomassa kedalam tanah, setelah hasil ekonomi di panen. Pada penggunaan hara yang bersumber dari bahan-bahan anorganik (pupuk kimia), maka proses daur ulang hara tidak terjadi karena sumber utama hara adalah  bentuk anorganik yang berasal dari luar Agroekosistem. Sedangkan sumber hara dari bahan organik  (biomassa tanaman, kotoran hewan dan limbah organik), setelah diberikan ke dalam tanah dalam bentuk organik, selanjutnya akan mengalami proses peruraian menjadi bentuk anorganik yang siap diserap akar tanaman. Sejumlah hara tersebut akan dipergunakan untuk memproduksi bahan kering tanaman (biomassa dan hasil ekonomi) yang selanjutnya akan dapat di daur ulang kembali. Sumber utama hara organik berasal dari petak usaha tani, sedangkan sumber hara anorganik bersal dari luar petak usaha tani.

Sistem  Gisi/Nutrisi Tanaman Terpadu (SGTT) merupakan pendekatan dengan cara mengadaptasi kebutuhan hara tanaman pada sistem usaha tani spesifik lokasi dengan target produksi tetentu, dilatarbelakangi sumber daya fisik setempat, ketersediaan sumber hara tanaman dalam bentuk organik, dan mineral, dan kondisi sosial ekonomi setempat. Pengelolaan nutrisi tanaman terpadu bertujuan untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan pengembangan masyarakat pedesaan dengan perhatian spesifik untuk mengembangkan teknologi hara tanaman yang aman ditinjau dari aspek lingkingan, manguntungkan secara ekonomi, dapat diterima secara sosial, serta dapat diatasi oleh petani.

Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan hara tanaman adalah mempertahankan (apabila memungkinkan meningkatkan) produktivitas secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan dasar lainnya, dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya lahan dan air. Tidak ada hal yang bersifat kontradiksi antara usaha mempertahankan produktivitas tanaman dan usaha meningkatkan sumber daya. Dengan demikian, kerusakan lingkungan dapat ditekan denagn cara mensinkronkan antara hara tanaman dan kebutuhan tanaman, serta melaksanakan prinsip-prinsip konservasi tanah dan air.

Usaha perbaikan, mempertahankan, dan meningkatkan kesuburan tanah merupakan prioritas yang harus dilakukan dalam kegiatan pertanian, terutama di Negara-negar yang sedang berkembang yang sebagian besar terletak di wilayah yang beriklim tropis. Tanah-tanah di wilayah tropika biasanya memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, tetapi kebutuhan pangan dan bahan dasar lainnya meningkat cepat sejalan pertambahan penduduk. Di wilayah-wilatah semacam ini diperlukan usaha intensifikasi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tanah-tanah subur relatif cukup lentur untuk bermacam-macam sistem produksi pertanian. Meskipun mempunyai kendala tanah dan iklim, tetapi bermacam-macam jenis tanaman dapat ditumbuhkan guna memenuhi peningkatan permintaan terhadap produksi pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Pertanian Berkelanjutan. diakses pada tanggal 26 September 2007  pukul 10.30 WIB.

Nirwan Sahiti. 2007. Pertanian Organik: Prinsip Daur Ulang Hara, Konservasi Air dan Interaksi Pada tanaman dan Interaksi pada tanaman. Diakses pada tanggal 26 September 2007  pukul 10.30 WIB.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: